Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri

street-dealin-xi-1
Lihat Galeri
19 Foto
© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

© Riyadi Joko
Street Dealin XI: Dari Jalanan ke Galeri
Street Dealin XI

© Riyadi Joko

Sesampainya di D’Gallerie, pintu ruang pameran masih tertutup. Mungkin acara sudah dimulai, pikir saya. Namun, pembukaan pameran rupanya diundur. Beberapa orang masih menunggu di luar, sementara saya nekat masuk ke dalam. Setelah mengisi buku tamu, saya tak mendapat katalog. Satu hal yang patut disayangkan untuk event pameran sebesar ini, pikir saya. Beberapa karya telah bertengger di dinding, memanggil-manggil. Saya, beberapa rekan media dan tim dokumentasi acara adalah penjamah pertama mereka, sebelum akhirnya para pengunjung berbaris masuk ke ruang pameran.

Street Dealin adalah perhelatan musiman yang biasa diadakan akhir tahun ataupun lebaran. Event yang diselenggarakan oleh Garduhouse, wadah sekaligus skema terbesar bagi komunitas graffiti & streetart ini, memasuki musim yang ke-11. Tahun ini, penutupan Event diadakan dari tanggal 12-17 Desember 2017. Berbeda dari Street Dealin sebelumnya, event kali ini tak hanya menyuguhkan bazar dan live performance, tapi juga screening film, diskusi, dan pameran yang akan diadakan di tiga tempat berbeda.

D’Gallerie menjadi lokasi pameran pembuka di hari pertama. Pameran ini menghadirkan 17 peserta dengan karya berbeda, di setiap tempat. Seperti perhelatan sebelumnya, dengan mengusung tema ‘Party Collective Exhibition’, Garduhouse tahun ini mengundang seniman mancanegara untuk ikut serta.

Acara yang mestinya dibuka pukul tujuh malam baru resmi dibuka satu jam setelahnya. Uwew, seorang pemuda yang juga anggota Garduhouse ditunjuk (lagi) sebagai MC. Setelah berbasa-basi, sang MC andalan itu mempersilakan ketua pelaksana dari pihak Garduhouse bernama Budi, untuk memberi sambutan. “Pameran kali ini bertujuan untuk mengajak teman-teman pelaku grafity dan streetart, untuk berkarya di media selain dinding,” ujar Mas Budi, menjelaskan. Dari jalanan ke galeri, batin saya.

Setelah sambutan oleh pihak penyelenggara dan galeri selesai, live preformance pun menanti. “Dia dulu pernah isi acara di tivi … ‘Deni Manusia Ikan,” seloroh Uwew. Gerrr pun pecah, mengendurkan urat saraf para hadirin. Deni yang dimaksud sang MC, adalah penampil untuk sesi live painting.

DJ Set memulai tugasnya, menghidupkan suasana. Pria yang disambut MC tadi, bergegas ke taman bermainnya.

***

Deni adalah arek Suroboyo. Ia mendalami graffiti sejak 2004. Seperti umumnya graffiti writer yang memiliki nama alias, Daskee adalah nama alias yang digunakan oleh Deni dalam berkarya. Ia mengaku ini merupakan pengalaman pertamanya beraksi dalam galeri. Pria yang kerap disapa Embek ini, menggarap karyanya dengan asyik nan fokus. Tak ada rasa grogi sedikit pun yang terpancar darinya.

Bermodal enam kaleng cat semprot import bermerk Montana, Mas Embek menggarap replika di dinding yang disediakan. Cat semprot berukuran masing-masing 400 ml itu beraroma donat, seperti warnanya. Graffiti bertuliskan ‘Street Dealin XI’ yang sedang digarap Daskee itu, berjenis simple piece. Sedikit ruwet, namun masih tetap terbaca. Huruf ‘D’ pada kata ‘Dealin’ yang sedang digambarnya, merupakan ciri khas pada setiap karya Daskee. Semiotika adalah kekuatan utama dalam kesenian graffiti.

***

Perhatian pengunjung sebagian terpecah, meninggalkan Mas Embek yang masih sibuk main pilox. Sebagian dari mereka menghampiri Oomleo, yang bersiap untuk berkaraoke bersama pengunjung. Oomleo adalah seorang keyboardist dari band electropop ternama di Jakarta, Goodnight Electric. Oomleo Berkaraoke merupakan proyek solonya beberapa tahun terakhir.

Sejumlah laptop dan perangkat soundsystem terlihat memenuhi meja. Terdapat sebuah monitor yang dihadapkan ke arah pengunjung. Nantinya monitor berukuran 21 inch itu berfungsi sebagai tampilan lirik karaoke. Tak cukup di situ, dinding putih yang luas pun disoroti cahaya proyektor berisikan lirik karaoke. Dengan memunggungi dinding berlirik lagu itu, Oomleo memandu para pengunjung.

Bukan Oomleo namanya kalau ndak nyeleneh. Graffiti dan streetart yang identik dengan kehidupan jalanan yang tak luput dari hal-hal kekerasan (premanisme, misalnya), malah dihanyutkan oleh kesyahduan yang dibuatnya.

Alih-alih musik rap, punk rock, dan heavy metal yang identik dengan kebringasan, kesan ‘mengancam’ dan dekat dengan image jalanan, Oomleo malah mengawali aksinya dengan deretan lagu-lagu pop ter-hits di zamannya. ‘Kasih Tak Sampai’ dari Padi, membuat pengunjung yang tadinya hanya manggut-manggut, perlahan mulai terhanyut. Sing a long pun tak terhindarkan.

Kesyahduan karaoke bersama Oomleo terus berlanjut. Beberapa lagu dari MGMT, Morrissey, hingga Iwan Fals sempat ‘dibawakan’. Acara berlangsung hingga pukul 11 malam. Acara pameran berlanjut lusa hari. Third Eye Space milik Anton Ismael, menunggu giliran.

***

Keesokan lusa, di Third Eye Space. Jam di handphone saya menunjukkan pukul setengah empat. Semua peserta telah berkumpul. Wormo alias Aram Kaleva dan Popo alias Riyan Riri Riyadi, telah duduk di depan hadirin. Mantan desainer grafis dan dosen yang sedang cuti itu, siap berbagi pengalamannya sebagai full time artist. Popo, yang sebelumnya mengenal saya di acara Anarkonesia (kolektif anarkisme yang berbasis di Jakarta), melambaikan tangannya ke arah saya, menunjuk ke arah bangku belakang. Saya pun masuk ke ruang diskusi.

Diskusi berlangsung di ruang yang sama dengan tempat pameran. Lukisan Che Guevara bergaya semi realis dari Ivory Chiko, dan ilustrasi wajah seorang wanita bergaya abstrak realis dari Hard Thirteen, terus menggoda di sisi kanan dan kiri. Popo dan Wormo memulai pembicaraan seputar alasan mereka keluar dari zona nyaman (Ceileh, Fourtwenty kale …).

Topik pun lambat laun terfokus pada kerja sama pihak seniman dengan korporat. Popo mendominasi pembahasan tersebut, sementara Wormo terlihat agak canggung dan jarang bicara. Popo membocorkan triknya menerima tawaran kerja sama dari korporasi besar. Ia mewanti-wanti teman-teman komunitas, agar menghindari rayuan gombal korporasi besar yang pelit. Semacam dimodali cat semprot (baca: peralatan) untuk live perform tanpa dibayar, misalnya. Terkesan heroik dan mendongkrak eksistensi komunitas, memang. Namun cukup memalukan bagi suatu korporasi besar; semacam rokok, misalnya.

Diksusi ditutup dengan sesi tanya jawab, yang tak ketinggalan diikuti oleh Anton Ismael a.k.a Pa’e, sang pemilik Third Eye Space. Pa’e bertanya sebagai fotografer, dan (bukan) pelaku graffiti dan streetart. Ia menanyakan bagaimana perkembangan dan sejarah graffiti itu sendiri. Popo mencoba menguraikannya, bagaimana graffiti itu sendiri sebenarnya pernah digunakan sebagai media propaganda di era revolusi kemerdekaan – jauh sebelum budaya hip-hop di Brooklyn berkembang.

Pertanyaan peserta mulai surut, suasana hening. Sesi diskusi pun ditutup dengan pesan-pesan pembicara pada pengunjung, sebagai pelaku graffiti. Diskusi berlangsung hingga pukul setengah lima (macam lagu Sore Ze Band … ).

Setelah pengunjung dan pengisi acara menyantap makanan ringan yang disediakan, ruangan diskusi pun disterilkan untuk opening pameran. Pintu ruangan itu dibuka lagi nanti ba’da Isya, saat opening berlangsung.

Pintu pameran telah dibuka, opening telah dimulai. Pengunjung dipersilakan melihat-lihat pameran. Pelataran Third Eye Space pun disulap menjadi lantai dansa a la dnb dan reggaedub oleh kawan-kawan Garduhouse. Tangga menuju restaurant yang terletak di lantai atas, dijadikan lahan menggambar bagi Rubs Eight, graffiti writer asal Yogyakarta, yang juga kerabat Garduhouse. Suasana malam itu pecah.

Acara akan berlanjut esok dan lusa, dengan tempat yang berbeda. Dua hari terakhir nanti, Gudang Sarinah Ekosistem akan (kembali) menjadi lokasi penutup acara. Acara akan berlanjut dengan diskusi bersama graffiti writer asal Jerman, Hombre; serta pameran di ruru gallery. Tak ketinggalan juga bazaar bersama brand-brand lokal, seperti street dealin sebelumnya. Dinding-dinding di sekitar lokasi Gudang Sarinah pun di-refresh lagi dengan piece-piece baru, dari artist berbeda-beda.

Bagi kalian yang tak sempat mampir ke Street Dealin musim ini, Street Dealin XII siap menanti di musim berikutnya. Jangan khawatir, Street Dealin sejauh ini, terus menunjukkan perkembangannya. Dan mereka akan terus membutuhkan dukungan kita.

Riyadi Joko

Aktif di Komunitas Pecandu Buku dan Rusa Besi. Kelahiran '96; suka nggambar, nulis dan motret. Anti kopi pahit.