Strategi Ngopi di Hotel yang Efektif dan Efisien

Beginilah Penulis Partikelir Mencari Tempat Asik Untuk Bekerja
Beginilah Penulis Partikelir Mencari Tempat Asik Untuk Bekerja | © Kalis Mardiasih

Pada Jumat pagi yang cerah itu, beberapa rencana telah menunggu untuk segera dikerjakan. Saya hanya terpikir untuk mencari tempat yang nyaman guna menuntaskan sederet tanggung jawab yang tercantum di sticky notes agenda harian. Kamar kos sungguh bukan tempat efektif, saya cukup jujur untuk menilai diri sendiri: Saya pasti mengantuk dan tertidur tanpa mengerjakan apapun. Saya perlu tempat nongkrong yang aman dari terik panas atau hujan, wifi kencang, ramah colokan, sukur-sukur berbonus kudapan yang lumayan promising.

Setelah bergegas memacu motor, saya memilih berhenti di Kopi Tiam Oey, Hotel Red Planet Solo. Saya cukup sering berlama-lama membunuh waktu sendirian di tempat itu. Kedai kopi yang satu lokasi dengan hotel biasanya sepi, atau lebih-lebih: hening – hanya ramai pada saat jam breakfast belaka. Sisanya, sangat efektif untuk menulis atau sekadar melamun. Khusus di kopi tiam, satu signature dish yang cukup ngangeni adalah nasi goreng kambing. Selain bumbu ladanya yang kuat, porsinya pun besar. Setara dengan porsi dua kali makan. Sedang sejujurnya, saya bukan peminum kopi sungguhan. Maksud saya, setelah membaca tulisan Nuran Wibisono tentang Coffee Lab 5758 yang bertutur tentang standar kualitas SCAA (Specialty Coffee Association of America) itu, saya insaf bahwa level saya masih sebatas peminum kopi sachetan.

“Pagi, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya seorang pegawai.

“Biasa, Mas. Mau ngopi.” Jawab saya dengan sedikit mengernyitkan dahi.

“Oh, Maaf Mbak. Kebetulan kami sedang ada perubahan manajemen. Sehingga, untuk sementara waktu, kami hanya melayani breakfast hotel saja.” Tukasnya dengan anggukan dan senyuman berlebihan ala acuan standar pelayanan pegawai sebuah perusahaan.

“Wah. Baiklah. Mari, Mas.”

Saya sedikit kecewa. Maksud hati ingin bergegas, namun apa daya, kali ini saya ternyata harus memikirkan alternatif tempat selanjutnya. Tempat berikutnya yang sempat terlintas adalah Hotel Lor In. Hotel Lor In adalah satu hotel bintang lima di Solo yang merupakan satu dari raksasa bisnis Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Selain Lorin Hotel dan Resort, juga ada Syariah Hotel Solo yang baru berdiri tahun 2014 lalu, terletak satu kompleks dengan Perumahan elite di kawasan belakang hotel yang terletak Jalan Adisucipto No. 47.

Kampoeng Ikan Resto Hotel Lor in berkonsep out door café. Di sisi kanannya, saya rutin berenang di swimming poolnya yang tidak terlalu besar namun asri dan memiliki desain kolam ala-ala Pulau Bali. Cukup memesan es coklat senilai 18 ribuan, penulis partikelir berkantong cekak macam saya ini bisa numpang wifi kencang seharian dan tentunya berbonus nuansa semilir angin pohon kelapa dan kamboja.

Saya urung pergi ke Lor in karena cukup jauh. Saya teringat bahwa saya pernah bertemu dengan seorang narasumber di Kedai Kopi (Keiko) Espresso and Bar, Loji Hotel, Solo. Letaknya hanya lima menit dari hotel Red Planet. Ia berada di Jalan Hasanudin no. 134 Punggawan – Solo, tepat di Parkiran Loji Hotel.

Voila! Mengunjungi Keiko adalah pilihan cerdik. Keiko memiliki dua tipe ruangan. Pertama, ruangan non-smoking yang menyatu dengan ruang breakfast tamu hotel Loji, dan kedua adalah smoking room. Dalam ruangan non-smoking, kita akan dimanjakan dengan pendingin ruangan yang tersetel dalam suhu pas dan alunan musik top hits dengan volume suara yang tidak bising. Ruangan yang menyatu dengan hotel memungkinkan kita untuk mencuri dengar obrolan para tamu-tamu dengan setelan kemeja dan pantalon dandy klimis yang mengobrolkan bisnis dan birokrasi. Smoking room yang teduh di sisi kanan ruangan juga sangat homy. Saya suka dengan kursi-kursi sofa panjang dan lebar di beberapa sudut ruang yang sangat nyaman untuk digunakan duduk berlama-lama dengan berbagai pose kaki mulai dari formal hingga pose kaki yang agak-agak tidak sopan.

Suasana Kedai Kopi (Keiko) Espresso and Bar, Loji Hotel, Solo
Suasana Kedai Kopi (Keiko) Espresso and Bar, Loji Hotel, Solo | © Kalis Mardiasih
Smoking Room di KEIKO yang amat nyaman
Smoking Room di KEIKO yang amat nyaman | © Kalis Mardiasih

Suasana yang cukup sepi membuat saya tertarik untuk mengobrol dengan barista good looking berkemeja dan pantaloon warna hitam. Namanya Jefri.

Menurut Jefri, Keiko tepatnya adalah speciality coffee yang menyajikan banyak varian kopi nusantara diantaranya Aceh Gayo, Sunda Ciwidey, Java Merapi, Pekalongan, Toraja dan masih banyak lainnya. Keiko juga memiliki banyak varian metode seduh kopi manual brew seperti V60, Aeropress, Syphon, Kalita drip, Vietnamese drip dan juga masih banyak lainnya.

“Maaf Mbak, kami nggak punya robusta. Karena Mbak nggak suka asem, ini saya bikinin manual brew yang paling pahit ya.”

Sembari mengambil beberapa gambar, Jefri bercerita tentang komunitas kopisolodotcom. Kegiatan berkomunitas memungkinkan Ia bertemu dengan banyak pecinta kopi untuk mengobrol soal kopi dan mengedukasi peminum kopi amatiran macam saya agar tidak sering-sering minum kopi pakai gula, candanya. Jefri mengaku sudah sepuluh tahun bekerja di dunia kopi, sebagai barista untuk beberapa kedai merek terkenal di Jakarta, Bandung, Bali, Yogya dan Solo. Ia bercerita tentang International Coffee Day yang jatuh pada tanggal 1 Oktober, yang tahun ini diperingati di tiap-tiap kota.

Darinya, saya memperoleh sedikit pengetahuan tentang perbedaan barista, roaster, dan Q grader. Ia ramah berkisah tentang posisi petani kopi yang di manapun pasti paling buruk nasibnya, dan di sisi lain jumlah Q grader yang hanya beberapa saja di Indonesia, yang rata-rata profesinya adalah pengusaha.

Jefri, Barista Keiko Menyeduhkan Kopi Pesanan Saya
Jefri, Barista Keiko Menyeduhkan Kopi Pesanan Saya | © Kalis Mardiasih

“Barista menguasai cara untuk menyajikan kopi. Ketika Mbak minta pahit untuk Arabica, saya tahu cara untuk mengatur asamnya agar tidak terlalu kuat. Roastery mengolah biji kopi agar punya rasa asam atau pahit yang macam-macam itu pada saat penggorengan bijinya.”

“Rasa itu diatur tanpa proses kimiawi ya. Mas?”

“Sama sekali tidak. Semua alami. Teknik dan metode.”

Saya terperangah membayangkan bahwa tanaman kopi ternyata adalah sebuah keajaiban yang diturunkan Tuhan ke bumi, dan betapa tanah yang menumbuhkannya mesti dijaga.

“Kualitas buah itu juga tergantung tanah dan musim, Mbak. Cara pengelupasan kulit buah kopi juga bisa macam-macam dan berpengaruh. Kita harusnya sangat berterima kasih ke petani. Nah, Q grader menguasai semua bidang-bidang ini, mulai dari soal kompleksitas permasalahan kebun kopi, kualitas tanaman kopi, ilmu mengolah biji kopi, hingga teknik menyajikan kopi.”

Jefri sedikit tertawa ketika melanjutkan kalimatnya, “Tapi ya…itu Mbak. Sertifikasi dalam bidang kopi ini nggak murah.”

Saya meminta ijin untuk menulis sejenak sambil menikmati kopi buatannya yang cukup aman di lidah saya. Keiko tidak hanya menyajikan kopi, Keiko memiliki banyak menu makanan dari snack, finger food, schotel, main course, dessert. Menu Keiko, sebab khas hotel, antara lain adalah Western food & Asian food.

Hotel, utamanya hotel berbintang, kadang-kadang masih merujuk kepada situasi mahal dan formal. Padahal, tidak ada yang melarang kita datang dengan busana casual dan sandal jepit. Di Solo, ngopi di hotel dapat menjadi pilihan yang cukup bijaksana. Tiga tempat yang saya sebutkan di atas memiliki price-list yang sangat bersahabat, di bawah 20 ribu. Harga itu dapat kita tukar dengan tempat bekerja yang nyaman, tidak banyak suara-suara mengganggu, dan tentu saja: kualitas sajian. Ngopi di hotel itu biasa, yang hebat hanya tafsiran-tafsirannya saja.

Kalis Mardiasih

Penulis dan Penerjemah Partikelir.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405