St. Drogo; Antara Kesendirian dan Kedai Kopi

Saya tidak terlalu yakin masbro dan mbakbro yang kerap menulis ulasan tentang kopi dan kedai kopi, juga mahmud dan mamah setengah baya yang belakangan ini sering mengadakan arisan di kedai kopi cantik demi welfie yang instagramable, pernah mendengar nama St. Drogo.

Sebagian mungkin malah siwer dengan Drogo, Khal dari Klan Dothraki di serial Game Of Throne. Tidak heran, karena St. Drogo adalah santo yang tidak terlalu populer. Lagipula siapa yang menyangka kalau kedai kopi pun memiliki pelindung?

Saya sendiri menemukan nama St. Drogo secara tak sengaja saat browsing untuk draft tulisan dua tahun silam. Meski namanya hanya sekedar lewat ibarat cameo di draft saya itu, namun fakta bahwa beliau adalah seorang santo pelindung kedai kopi, membuat saya meluangkan waktu sejenak untuk menelusuri sejarah kehidupannya.

Patron Saint of Coffee
Patron Saint of Coffee // Sumber: theshot.coffeeratings.com

Saat itu saya belum jatuh cinta pada kopi, yah ibaratnya baru sekedar tepe-tepe belaka. Kalaupun sedikit intens, baru sekedar percakapan dunia maya di malam-malam yang dingin dan sepinya menggigit. Lalu apa yang bisa saya pahami dari secangkir kopi? Maka saat itu, saya tak berhasil menghayati korelasi baik secara filosofis maupun emosi antara kehidupan St. Drogo dengan diimaninya beliau sebagai Patron Santo oleh para pemilik kedai kopi di wilayah perbatasan Perancis dan Belgia kira-kira 275 tahun sejak Pope Gregorius XIII mengangkatnya sebagai Santo (Orang Suci dalam tradisi Katholik).

Setelah bersetia dengan kopi selama dua tahun sejak ‘perkenalan’ pertama saya dengan St. Drogo. Barulah saya sedikit banyak bisa mengalami pengalaman batin menjadi seorang penikmat kopi. Meski dinikmati di tengah hingar bingar obrolan dan gelak tawa, kopi selalu disesap dengan ketakziman yang seolah terprogram di alam bawah sadar. Perlahan tanpa ketergesaan. Selalu ada jeda di tengah keriuhan, saat cairan hitam pekat itu menyentuh kemoreseptor, membangunkan tiga sensor rasa pahit, asam dan manis sekaligus pada lidah untuk kemudian diteguk mengalir ke tenggorokan. Pada momen beberapa detik itulah seorang penikmat kopi terhubung pada semestanya sendiri di ruang dan waktu yang tak bisa diganggu gugat untuk kemudian kembali lagi larut dalam keriuhan.

Sebagai seorang santo, St. Drogo jelas memiliki kemampuan adi biasa. Bilocation adalah salah-satu kemampuan adi biasa yang dimiliki oleh St. Drogo. Seperti asal katanya, Bi yang artinya dua dan Locatian berarti tempat. Bilocation berarti kemampuan seseorang untuk berada dalam dua tempat dalam satu waktu. Konon kabarnya St. Drogo kerap terlihat sedang merawat salah-satu warga desa dan secara bersamaan memimpin sebuah misa.

Meski tidak melibatkan fisik, kemampuan seorang penikmat kopi untuk on-off secara cepat pada dua state kesadaran yang berbeda saat menyesap kopi inilah yang dikatakan mengilhami para barista saat kopi mulai masuk ke wilayah Belgia dan Perancis di sekitar abad ke 17 untuk mengasosiasikan diri kepada St. Drogo dengan kemampuan adi biasa bilocation-nya.

Meski ada juga yang berpendapat, proses pemanggangan/pembakaran biji kopi untuk menampilkan cita rasa terbaik kopi serupa dengan pengalaman adi biasa St. Drogo lain yang menjadi sebab beliau menjadi patron kedai kopi. Yakni ketika terjadi peristiwa kebakaran Gereja di Sebourg: sebuah desa kecil di utara Perancis tempat St. Drogo mengabdikan dirinya sebagai gembala umat dan gembala beneran. Dalam peristiwa kebakaran itu St. Drogo terperangkap di bilik kecil tempatnya mendaras doa sehari-hari. Namun setelah kebakaran berhasil dipadamkan tampak St. Drogo masih berlutut dengan selamat sejahtera tanpa terluka sedikit pun meski kondisi di sekelilingnya lantak hangus terbakar. Peristiwa adi biasa ini dianggap sebagai perumpamaan yang sempurna untuk biji kopi yang justru lebih enak usai melewati proses pembakaran. Mirip kesucian St. Drogo yang hadir usai insiden kebakaran.

St. Drogo; Patron of Coffee
St. Drogo; Patron of Coffee // Sumber: sevenstonesgallery.com

Meski alasan pasti menetapkan St. Drogo sebagai pelindung kedai kopi masih menjadi sebuah pertanyaan besar, ada sisi menarik lain dari St. Drogo. Konon kabarnya bahwa selain menjadi pelindung kedai kopi, St. Drogo ternyata juga menjadi pelindung bagi orang-orang yang tersisihkan karena penampilan yang tidak menarik. Fakta bahwa St Drogo adalah seorang santo yang penyendiri sekaligus pelindung kedai kopi adalah dua hal yang terlalu kebetulan menurut saya. Perhatikan kata kuncinya; tersisihkan, penyendiri dan kopi. Yup, ketiganya mengingatkan saya pada; Jomblo.

Sebuah imajinasi yang terlalu liar tentu jika membayangkan mas-mas jomblo lantas ramai-ramai meneguhkan diri dalam perlindungan St. Drogo sak kopi-kopinya sekalian. Meski jika terjadi pun saya yakin karunia kasih yang dimiliki St. Drogo akan menerima jiwa-jiwa yang kesepian itu dalam perlindungannya.

Dan buat saya pribadi yang menghormati orang-orang suci dari tradisi religius manapun, memasang gambar St. Drogo pada dinding kedai kopi impian saya kelak sudah barang tentu adalah bentuk penghormatan saya untuknya. Termasuk rencana menggratiskan secangkir kopi untuk setiap transaksi pada hari perayaan St. Drogo yang jatuh pada tanggal 16 April setiap tahunnya. Tanggal di mana St. Drogo diangkat dan ditetapkan sebagai Santo.

Tentu saja segala rencana mulia itu baru dapat terealisasikan setelah kedai kopi saya pindah alam terlebih dahulu. Dari alam khayalan ke dunia nyata. Dari lamunan ke pendekatan, ya kan?

Runeranu

Humalien, tarot & oracle reader, dream walker, great lover, and extraordinary mother.

  • Bobby Doank

    keren jeng.. ha.ha.. tapi rumah makan padang juga ada loh patronnya..