Srawung di Warung Kopi

Semua orang bisa menikmati kopi.

Itulah tagline Warung Kopi Srawung yang terletak di Jember.

Warungnya sederhana, tidak banyak ornamen yang menghiasi. Hanya tiga buah kursi panjang mengitari satu meja. Letaknya pun hanya ada di samping trotoar. Sehingga, bila melewati Jalan Jawa ke arah timur sampai sebelum bundaran Jalan Bangka, kita cukup sesekali menoleh ke kanan, maka akan bertemu warung kopi ini. Dari jalan, kita sudah bisa melihat toples-toples berisi biji kopi yang ditata rapi di atas meja.

Ketika datang ke Warung Kopi Srawung, saya tertarik dengan beberapa toples berisi biji kopi, lengkap dengan keterangan nama-nama variannya. Selain itu, tepat di belakang toples, terdapat beberapa peralatan tradisional dan modern untuk mengolah biji kopi menjadi beragam menu. Ada kopi tubruk, espresso, cappuccino, sampai yang paling istimewa yaitu coffee latte.

Sama seperti tagline warung ini, saya tidak perlu mengeluarkan uang lebih dari 20 ribu rupiah untuk menikmati menu kopi yang tersedia. Bahkan untuk penyeduhan tradisional seperti kopi tubruk, hanya dihargai 5 ribu rupiah. Waktu pertama kali datang, saya pesan kopi tubruk dengan varian biji kopi papua ballium.

Varian biji kopi yang tersedia cukup beragam, mulai dari ragam kopi Nusantara sampai luar negeri. Untuk varian biji kopi Nusantara, Caplin, si pengelola Warung Kopi Srawung, menyediakannya secara bertahap. Sementara ini, kopi Nusantara yang tersedia antara lain: kopi aceh gayo, aceh gayo bourbon, mandalin, sidikalang, bengkulu robusta, lampung robusta, dolok sanggul, java sunda aromanis, java malabar, java ijen, java sindoro, java raung, java blue raung, java mocca robusta, java arjuna, java dampit robusta, flores bajawa, flores manggarai, dan papua ballium.

Sedangkan untuk varian biji kopi luar negeri, Caplin hanya menyediakan beberapa saja seperti: kopi brazil kerodo, guetamala, etopia, timor leste ermera dan mexico oaxaca. “Saya jamin, kopi saya original coffe kualitas pertama,” imbuhnya.

Caplin dan kopi arabica ijen
Caplin dan kopi arabica ijen. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Konsep ruang Warung Kopi Srawung sama dengan warung kaki lima di sekitar jalan. Tidak ada pintu masuk, toilet, apalagi AC, dan perlengkapan permanen lainnya. Warungnya hanya beratap genting dengan beberapa cagak bambu.

Warung kopi ini hanya buka sekitar pukul 8 pagi, dan jika sudah pukul 5 sore ia harus mengemasi semua peralatan kopinya karena akan ditempati oleh pedagang kopi lain, saya biasa menyebutnya Cak Ipul. Langganan saya juga. Meski kalau malam Cak Ipul hanya menyediakan kopi tubruk lokal biasa. Bagi saya, warung tersebut memang enak buat kongkow menghabiskan waktu senggang sambil menikmati kopi.

Bila duduk di warung kopi sekelas Srawung, saya tidak perlu malu-malu menaruh kaki di atas kursi dan tertawa lepas. Tempat duduk yang mengitari meja warung kopi membuat pengunjung seperti saya bisa menikmati bagaimana Caplin membuat kopi.

Selain itu, masing-masing dari pengunjung bisa dengan mudah bertegur sapa atau ngobrol santai. Itulah mengapa Caplin menamai warungnya “Srawung”, “Kan enak Mas, kalau misalkan kita duduk dan berkumpul bersama. Meski pada mulanya tidak kenal, masak tidak ada obrolan sama sekali,” ungkap Caplin.

Kondisi tersebut tentu saja beda dengan kafe-kafe kelas menengah ke atas yang cenderung harus berpakaian rapi, tempat duduknya terpisah dan seringkali masing-masing dari pengunjungnya sibuk bermain gadget.

Caplin menjadikan kopi sebagai media pemantik dialog. Pada mulanya, saya tertarik dengan caranya memperlakukan kopi. Ia seolah sangat menghargai kopi agar menghasilkan citarasa yang maksimal. Mulai dari menimbang takaran kopi, merebus air sekali pakai, menuangkan air panas menggunakan teko ke dalam gelas dengan cara memutar, sampai adanya waktu jeda saat menuang air ke dalam gelas.

Setelah saya tanya, ternyata semua itu ada nilai fungsinya, cara menuang dengan cara memutar misalkan, itu sama saja dengan mengaduk. “Jadi kalau kamu ngopi di tempat saya, itu sebenarnya gak perlu diaduk lagi,” Caplin menjelaskan.

Tak perlu diaduk. Cukup tuang air dengan berputar
Tak perlu diaduk. Cukup tuang air dengan berputar. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Para pelanggan yang datang sengaja dibuatkan kopi tanpa gula, agar bisa merasakan citarasa kopi. Menurutnya, gula dapat merusak citarasa kopi, “Tujuannya biar terbiasa dengan kopi, atau karakter kopi,” ujarnya singkat.

Namun bukan berarti tidak tersedia gula. Pelanggannya, bisa menambahkan gula yang sudah disediakan dalam kemasan kecil. Tentunya agar pelanggannya bisa mengukur takaran gula sesuai seleranya.

Caplin memang seorang barista yang lahir bukan dari pelatihan sertifikasi dengan biaya mahal. Ia belajar dari perjalanannya ke warung-warung kopi, mengamati, ngobrol dan memperluas jaringan.

Ia seringkali keliling di warung kopi di Jember yang memiliki proses pembuatan kopi dengan alat modern maupun tradisional, terutama di daerah Ambulu, bagian selatan Jember. Pengolahan kopi tradisional (tubruk) yang diadopsi dari Ambulu misalkan tidak menjual kopi sachet, tidak pakai termos atau langsung direbus, kemudian sendok yang ujungnya ditekuk agar mudah untuk mengaduk dan mengambil bubuknya.

Dari cara-cara tradisional tersebut, ia kemudian secara perlahan belajar pengolahan kopi dengan alat modern, “Awal belajar saya membuat kopi tubruk, setelah itu ke vietnam drip, french press, mokapot, pour over, v 60, aeropress,” ceritanya, sampai yang paling puncak belajar membuat latte art.

Caplin dengan mesin presso di Warung Kopi Srawung
Caplin dengan mesin presso di Warung Kopi Srawung. © Dian Teguh Wahyu Hidayat

Budaya bersaudara atau mencari teman lewat warung kopi sambil diskusi dan menikmati waktu senggang memang perlu dihidupkan, terutama di Jember. Apalagi Jember memiliki Lembaga Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) satu-satunya di Indonesia. Belum lagi hasil produksi kopi yang dikuasai PT Perkebunan Nusantara maupun Perusahaan Daerah Perkebunan. Hanya saja, hasil panen kopi yang berkualitas bagus selalu diekspor, sehingga masyarakat sekitar masih belum bisa menikmati kopi terbaik di daerahnya sendiri.

Bagi saya, Caplin telah memberi kesempatan kepada masyarakat, terutama para pencinta kopi yang ingin menikmati kopi-kopi Nusantara, dengan harga miring tentunya. Selain itu, Caplin ingin memberikan pengenalan baru kepada penikmat kopi tentang ragam pengolahan kopi untuk menghasilkan beragam menu seperti espresso, cappucino, coffe latte dan lain sebagainya. Jadi tidak hanya kopi tubruk.

Melalui warung emperan yang sederhana, Caplin ingin warung kopi di Jember bisa maju, rukun, bisa menikmati kopi enak dan meninggalkan kopi instan hasil olahan industri.

Mohamad Ulil Albab

Sejarawan Partikelir