Soto Rasa Masa Lalu

Dua Mangkuk Soto Dwi Windu
Dua Mangkuk Soto Dwi Windu © Ganang Nur Restu

Jumat malam gawai saya bergetar, satu pesan masuk dari pacar saya. Dia mengajak saya untuk berkunjung ke kebun buah naga di pantai Pandansari, Bantul. Tanpa pikir panjang saya menyanggupinya. “Iya sayang, siap” plus emoticon cium. Bakal repot urusan kalau ajakan itu seandainya saya tolak. Lha wong saya ini bagian dari komunitas “laki-laki takut pacar.”

Sabtu pagi, sekiranya pukul 06.00, saya jemput dia. Kami berangkat lebih pagi dengan harapan udara pantai tidak terlalu menyengat kulit. Saya pacu motor di jalanan Bantul yang masih begitu lengang. Dalam perjalanan, setelah melewati perempatan Masjid Agung Bantul, saya belokkan sepeda motor ke arah lapangan Dwi Windu, Bantul, untuk sarapan. Upaya ini penting untuk menjaga mood pacar saya yang galak itu.

Soto Dwi Windu saya menyebutnya. Ya, karena letaknya di area lapangan kebanggaan masyarakat Bantul. Bukan karena warungnya yang telah berusia 16 tahun, apalagi karena menghidangkan satu mangkuk soto butuh waktu dua windu, hehehe. Soto Dwi Windu tampak sederhana. Berdiri dengan tenda deklit dan gerobak menggunakan roda dorong. Pagi itu, warung masih sepi. Hanya ada terlihat dua bapak-bapak pembeli yang sedang bercakap ria di sebelah meja kami dengan dua mangkuk soto di depannya yang sudah tandas.

Saya memesan dua porsi soto ayam dan wedang jeruk hangat. Dalam benak saya, soto ayam dan wedang jeruk hangat menjadi perpaduan yang sempurna di pagi yang cukup dingin itu. Tak lama pesanan kami datang.

Saya adalah penikmat soto dengan perasan jeruk nipis yang cukup banyak. Dan nir kecap. Perasan Jeruk nipis memberi rasa segar pada kuah soto yang berminyak. Tentu saya tak lupa menambah dua tahu susur. Maklum, seporsi soto belum mampu mengenyangkan perut. Perbandingannya mirip seperti teori membuat Indomie goreng, satu bungkus kurang, dua bungkus kelebihan. Maka dengan mengambil alternatif dua tahu susur adalah win-win solution.

Berbeda dengan pacar saya, dia adalah makhluk penganut soto dengan kecap yang begitu kental. Saya pernah mencicipi kuah sotonya, dan rasanya terlalu manis. Tapi saya berpikiran positif. Mungkin itulah yang membuatnya tampil menjadi seorang gadis manis dan mampu memikat saya selama 5 tahun terakhir.

Gerobak Soto Dwi Windu
Gerobak Soto Dwi Windu © Ganang Nur Restu

Soto Dwi Windu bagi saya enak dan pas, di lidah maupun di kantong. Pertama, enak karena soto disajikan dengan kuah yang tak begitu kental. Kedua, karena soto ini sangat bersahabat dengan kantong saya. Pagi itu, dua porsi soto plus wedang jeruk hangat hanya menghabiskan Rp.15.000.

Namun, lebih penting dari itu, tempat ini telah menyimpan romantisme masa lalu. Tujuh tahun lalu, sejak SMA hingga lulus kuliah, soto Dwi Windu selalu rutin saya kunjungi setiap Minggu Kliwon selepas berburu unggas di Pasar Bantul. Baru setelah lulus kuliah dan memiliki kesibukan lain, saya menjadi jarang mengunjungi warung ini. Seingat saya terakhir setahun lalu.

Memang benar, sebuah kenikmatan bukan hanya bergantung pada rasa, namun juga pada kenangan masa lalu. Rasa yang kedua itu, bagi saya adalah kenikmatan rasa yang hakiki. Bahkan mampu mengalahkan rasa jasmani dari sebuah makanan. Nggak percaya? Nggak? Ah, pura-pura lupa. Gimana rasanya makan kalau pas abis putus sama pacar? Nah, kan.

* * *

Tak terasa semangkuk soto ayam di hadapan saya telah paripurna, pun dengan segelas wedang jeruk hangat. Pacar saya juga sudah menyelesaikan santapannya. Tiba saatnya waktu untuk membayar. Kami saling memandang. Saya menahan langkah, dengan tujuan biar pacar saya yang membayar. Maklum, nanti saya pasti yang membayar uang bensin.

Akhirnya setelah beberapa detik saling diam dia yang membayar. Saya melihat raut terpaksa pada geraknya. Hingga apa yang saya takutkan sejak mendapat ajakan pergi pagi ini terjadi. Benar-benar terjadi. Dalam perjalanan menuju pantai, pecahlah pertengkaran akibat siapa yang harus membayar soto.

Ganang Nur Restu

Suka melamun, tapi bukan penyamun.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405