Sosok di Balik Rekonstruksi Dawai Karmawibhangga: Gasona, Gasola, dan Solawa

Di suatu sore yang bergelayut mendung, suara Vespa terdengar di depan rumah. Suaranya tak asing. Dugaan saya, pasti Ali yang datang. Melongok ke jendela, tepat, Vespa berwarna biru-putih sudah parkir di depan gerbang.

Ia menyapa. Seperti biasa dengan raut wajah yang dipenuhi senyum.

Sore itu, ia datang di saat yang tepat, bersamaan dengan hujan, sehingga suasananya menjadi dingin. Bagi saya, setiap kedatangan Ali, artinya harus meluangkan waktu banyak untuk meladeni tumpahan isi kepalanya. Ia memang suka diskusi dan sosok yang asyik untuk dijadikan teman berimajinasi.

Saya membuka obrolan dengan bertanya tentang kegiatannya di Borobudur Cultural Feast, 17 dan 18 Desember 2016 lalu.

Ia pun menjelaskan pengalamannya selama di sana dengan penuh ketakjuban.

Ali bermain musik dalam satu panggung bersama Trie Utami, Dewa Budjana, Redy Eko Prasetyo, Rayhan Sudrajat, John Arief, dan Agus Wayan Joko Prihatin, membawakan komposisi Sound of Borobudur, Mantra, dan Padma Swargantara. Didukung penampilan Didik Nini Thowok yang mengekspresikan gerak tari Karmawibhangga.

Menurut pria, yang bernama lengkap Ali Gardy ini, bermain musik di Borobudur Cultural Feast, tak pernah terbersit dalam imajinasi maupun mimpinya selama ini. Semua berjalan begitu saja dan ia sangat menikmati.

Kiri ke Kanan: Agus Wayan Joko, Didik Nini Thowok, Trie Utami, Ali Gardy, Dewa Budjana, Redi Eko Prasetyo.
Kiri ke Kanan: Agus Wayan Joko, Didik Nini Thowok, Trie Utami, Ali Gardy, Dewa Budjana, Redi Eko Prasetyo. | © Ali Gardy
Bersama Para Pendukung Acara Borobudur Cultural Feast 17-18 Desember 2016
Bersama Para Pendukung Acara Borobudur Cultural Feast 17-18 Desember 2016 | © Ali Gardy

Ali adalah sosok di balik rekonstruksi tiga dawai di relief Karmawibhangga yang terukir di kaki candi Borobudur. Ia memadukan kemampuan seni rupa dan musik untuk mewujudkan tiga dawai tersebut. Di sana ia mendapat suatu kehormatan besar saat Dewa Budjana menyematkan nama pada ketiga dawainya Gasona, Gasola, dan Solawa.

Dilihat dari latar belakangnya, relief Karmawibhangga baru ditemukan pada 1885 oleh Dr. Ir. J.W. Ijzerman. Bentuknya berupa susunan panel-panel yang belum diketahui maknanya. Baru setelah 44 tahun kemudian, disimpulkan oleh Sylvian Levi, bahwa itu adalah gambaran teks Buddhis Maha Karmawibhangga, sesuai dengan naskah yang ditemukannya di Kathmandu, Nepal. Temuan tersebut semakin diperkuat oleh arkeolog N.J. Krom yang menganalisis kesesuaian antara relief di kaki candi Borobudur dan isi naskah Maha Karmawibhangga.

Dalam relief Karmawibhangga terdapat beberapa panel yang menggambarkan ragam instrumen musik (waditra). Dibagi berdasarkan kategori ideophone (jenis kentongan dan kerincingan), membraphone (jenis gendang dan kentingan), chardophone (jenis dawai: petik dan gesek), serta aerophone (jenis tiup).

Di candi Borobudur, relief Karmawibhangga ini letaknya tersembunyi di dasar candi karena ditutupi susunan batu penyangga. Alasan diberi penyangga adalah untuk mengantisipasi agar candi tidak runtuh. Pernah pada 1890, batu penyangga itu dibuka untuk keperluan pemotretan relief Karmawibhangga oleh Kassian Cephas, lalu ditutup kembali pada 1891.

Saat ini, salah satu cara untuk mengetahui relief tersebut adalah dengan melihat dokumentasi foto yang dipotret oleh Kassian Cephas. Fotografer pribumi berasal dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang mendapat bantuan dari pemerintah Hindia Belanda untuk mendokumentasikan situs-situs arkeologi Hindu-Buddha.

Beberapa informasi/pengetahuan tersebut baru diketahui secara lengkap oleh Ali setelah ia ikut acara itu. Bahkan dari itulah ia baru mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Borobudur untuk pertama kalinya.

Terasa janggal memang. Bagaimana ia dengan bekal informasi yang minim bisa merekonstruksi instrumen musik yang terukir sejak 1300 tahun lalu?

Ia lantas bercerita tentang runutan prosesnya.

Semua berawal saat Ali mendapat pesanan tiga dawai dari teman di komunitas Jaringan Kampung Nusantara (Japung). Ia dipasrahi untuk menciptakan dawai yang kira-kira bisa sesuai dengan bentuk relief Karmawibhangga dan bisa dibunyikan.

Pesanan itu merupakan tantangan bagi Ali. Ia yang selama ini memang sering membuat dan sekaligus memainkan instrumen musik Sapek (dawai khas Kalimantan), menyanggupi pesanan tersebut.

Mulanya, ia mengamati foto-foto relief Karmawibhangga. Ia menjadikan dirinya sebagai model menyerupai posisi yang tergambar dalam relief. Lalu, membuat prototipe ukuran instrumen menggunakan kertas karton, dengan pertimbangan kenyamanan saat dipegang dan dimainkan.

Selanjutnya, ia mencari kayu jati sebagai bahan dasar. Jenis kayu jati dipilih hanya yang kualitasnya baik. Secara fisik dipilih kayu yang diperkirakan seratnya akan tampak menonjol setelah dipotong sesuai prototipe.

Berikutnya, membuat lubang resonansi suara. Caranya, tidak dengan mesin atau alat canggih lainnya, tetapi ia memilih melubanginya dengan menggunakan pahat. Alasannya, ia ingin merasakan ruang resonansi suara yang bisa sesuai untuk jenis instrumen yang dibuatnya.

Setelah bentuk dasar mulai tampak, di tahap akhir dilakukan pengukiran, pemasangan penutup lubang resonansi, memasang dawai dan kelengkapannya, lalu dilakukan penghalusan.

Kiri ke Kanan: Bentuk Dasar Instrumen Musik Solawa, Gasona, Gasola Buatan Ali Gardy.
Kiri ke Kanan: Bentuk Dasar Instrumen Musik Solawa, Gasona, Gasola Buatan Ali Gardy. | © Ali Gardy

Hasil akhir setelah tahap demi tahap dilewati, terbentuklah tiga dawai dengan spesifikasi berikut:

Dawai pertama, yang terpanjang, memiliki ukuran panjang 123 cm dan lebar tabung resonansi 16 cm. Di ujung depan dawai terdapat ukiran bunga teratai (padma). Dawai string yang digunakan berjumlah dua, tanpa fret, dengan pilihan nada rendah (low). Dawai ini disebut Gasona.

Dawai kedua, yang sedang, panjangnya 106 cm, dan lebar tabung resonansi 17 cm. Juga berukiran bunga teratai (padma) di ujung depan dawai. Dawai string yang digunakan berjumlah empat, fret berbahan rotan, dengan pilihan nada sedang dan tinggi (middle high). Dawai ini disebut Gasola.

Dawai ketiga, yang terpendek, panjangnya 75 cm, dan lebar tabung resonansi 25 cm. Dawai nilon yang digunakan berjumlah lima, tanpa fret, dengan pilihan nada rendah dan sedang (low middle). Dawai ini disebut Solawa.

Tantangan setelah selesai proses pembuatan ketiga dawai itu adalah menentukan penyelarasan nada (tuning). Pemusik mencari keselarasan nada antar instrumen untuk menciptakan harmoni. Namun, karena sama-sama pertama menjajal instrumen baru, disepakati untuk tidak dibakukan keselarasan nadanya. Tujuannya agar setiap pemusik diberi keleluasaan untuk menggali dan mengkreasikan kemungkinan bunyi melalui instrumen yang direkonstruksi dari 13 abad lalu itu.

Selaras dengan tema acara yang diangkat, gotong royong pitutur agung guyub rukun gemah ripah loh jinawi jayaning nusantara amargo lelaku, semua yang ikut berkontribusi di sana berupaya untuk mengedepankan sikap saling mengapresiasi. Dengan kesadaran untuk nyengkuyung bersama-sama kebudayaan nusantara.

Ali bertekad, dalam waktu dekat, ia ingin terus menggali dan mengenalkan warisan sejarah dan budaya Indonesia. Tentunya melalui kemampuan seni rupa dan musik yang selama ini memang ditekuninya.

Ia berharap kelak akan semakin banyak generasi muda yang tak hanya sadar sejarah, tetapi juga bisa merekontruksinya dalam bentuk kreasi konkret. Sehingga muncul suatu kepercayaan diri akan identitas sebagai negara bangsa dan berdaulat atas hal-hal yang sudah pernah dikembangkan oleh leluhurnya. Sebagaimana ia telah mewujudkan instrumen musik di relief Karmawibhangga, yang selama ini tersembunyi di kaki candi Borobudur.

Benar-benar bersemangat si Ali ini, pikir saya.

Setelah Ali pulang, benak saya berbicara, saya bangga punya teman sekaligus adik seperti dia. Di sela perbincangan sebelumnya, ia sempat menyinggung tentang tujuannya berkreasi sejauh ini hanyalah untuk mengenalkan kota kelahirannya; Situbondo. Namun, setelah berpartisipasi di acara Borobudur Cultural Feast, ia mulai berpikir jauh untuk mengenalkan budaya bangsanya: Indonesia.

Marlutfi Yoandinas

Pengelola Rumah Baca Damar Aksara di Kampung Langai, Situbondo.