Soda ‘Peranakan’ dari Pekalongan

Cuaca siang enam hari setelah lebaran tidak terlalu panas di sekitar, Pekalongan. Langit agak bersahabat dengan awan mendung menutupi sebagian Kota Pekalongan. Bukan. Kali ini saya bukan bermaksud mengajak segenap pembaca Miko (minum kopi) untuk mengikuti petualangan berbelanja Batik di Pasar Grosir Setono-Pekalongan atau tawar menawar sarimbit di International Batik Center, sebelah Barat kota, tepatnya di Wiradesa. Kedua grosiran itu memang biasa menjadi tempat jujugan untuk kulakan batik, atau mborong oleh-oleh di sekitaran Pekalongan.

Pekalongan memang dikenal dengan Batik. Namun jangan lupa, Pekalongan pernah menjadi pusat administrasi Karesidenan Pekalongan yang membawahi beberapa daerah seperti Pemalang, Batang, Tegal, dan Brebes pada awal abad ke-20. Makanya, tak heran jika Kota Pekalongan memiliki keragaman masyarakat dan budaya. Keragaman budaya itu memengaruhi potensi kekayaan kuliner Kota Pekalongan, termasuk jenis minuman khasnya.

Sebagai kota pusat administrasi Karesidenan, Pekalongan mempunyai prasarana dan fasilitas kota yang digunakan untuk kepentingan administrasi pada masa kolonial. Daerah tersebut disebut sebagai kawasan Kota Lama Pekalongan atau yang sekarang disebut sebagai Kawasan Jetayu.

Siang itu, saya sengaja mengajak adik ke kawasan Kota Lama Pekalongan di Alun-alun Jetayu, ke arah utara Kota Lama, menuju daerah Bugisan. Kami menuju tempat pengolahan Soda dan Limun yang pada awal abad ke-20 disebut ‘Aer Blanda’. Selain dikenal dengan Kopi Tahlil, Pekalongan juga mempunyai minuman khas berupa Soda-Limun yang diproduksi langsung dari pabrikan di Pekalongan. Soda-Limun Oriental muncul sebagai bagian dari gaya hidup pada masa awal abad ke-20, seperti Saparella, yang dikenal sebagai minuman soda khas Jogja yang hingga kini mudah ditemukan di beberapa pusat perbelanjaan.

Bagian depan Rumah Njoo Giok Lien dan Pabrik Limun Oriental
Bagian depan Rumah Njoo Giok Lien dan Pabrik Limun Oriental | © Duwi AS

Untuk ke lokasi Pabrik Limun Oriental, kami melewati kawasan alun-alun Jetayu Kota Lama, lalu ke Jalan Rajawali yang berada di belakang Rutan Pekalongan, dekat dengan kawasan kali Kupang Pekalongan. Daerah itu biasa disebut daerah Bugisan. Di sudut jalan terdapat sebuah rumah dengan arsitektur Indis ala rumah gedongan awal abad ke-20 milik seorang keturunan Tionghoa, Njoo Giok Lien. Nama Njoo Giok Lien tak asing bagi saya yang berulang kali melihat namanya muncul dalam surat kabar Pekalongan pada awal abad ke-20. Njoo Giok Lien ‘bos Limun’ adalah salah seorang donatur sekolah swasta Tionghoa yang memberi banyak donasi dalam bentuk makanan ringan dan penyediaan Limun Oriental dalam beberapa acara yang diadakan oleh sekolah.

Mengunjungi Pabrik Limun Oriental, sama halnya mengingat kembali ‘jungkir balik’ perjuangan menyelesaikan tugas akhir. Sesampainya di kawasan Bugisan, kami memasuki gerbang berlogo pola bulat. Di bagian tengahnya terdapat gambar seorang perempuan yang sedang menenggak minuman dalam botol kaca dan di bawahnya tertulis, ‘Oriental’.

Bentuk Botol Limun Aer Blanda keluaran pertama tahun 1920-an
Bentuk Botol Limun Aer Blanda keluaran pertama tahun 1920-an | © Duwi AS

Setelah memasuki pintu gerbang, kami disuguhkan pemandangan rumah yang menyatu dengan pabrik limun. Pabrik limun Oriental yang terletak di Jalan Rajawali kawasan kali Kupang, Kota Pekalongan merupakan pabrik limun yang sudah ada sejak 1920-an. Setibanya di sana, saya mendapati beberapa pengunjung yang sedang menikmati segarnya limun oriental. Kami disambut oleh Bernardi, yang memperkenalkan diri sebagai generasi kelima dari keturunan Njoo Giok Lien sebagai pendiri pabrik limun. Kesan klasik dan kuno tidak hanya didapat sewaktu memasuki rumah dan Pabrik Limun Oriental. Interior kursi dan meja yang dipilih di ruang pemesanan limun yang didesain seperti warung minum juga menambah kesan klasiknya. Di bagian belakang ruangan pemesanan, terdapat ruangan besar yang digunakan sebagai pabrik pengolahan limun. pengunjung dapat langsung melihatnya dari ruang pemesanan.

Kami tiba di pabrik Limun Oriental pada pukul 12 siang. Limun yang kami pesan waktu itu ternyata sudah out of stock sejak hari Rabu, tiga hari setelah lebaran. Menurut penuturan Bernardi, pemesanan sebelumnya sebagian besar dibawa sebagai oleh-oleh atau digunakan untuk menyambut tamu dalam rangka lebaran. Pembuatan limun kebetulan dimulai pada hari yang sama pada jam satu siang. Tidak mendapati limun, kami memesan Soda Gembira. Soda putih ‘Oriental’ yang dicampur dengan sirup frambozen dengan ditambah susu.

Sembari menunggu soda pesanan, di sudut ruang pemesanan terdapat sebuah almari yang memajang berbagai botol yang pernah digunakan oleh pabrik limun sejak awal pendiriannya. Bernandi membukakan almari sambil menjelaskan jenis botol dari tahun ke tahun yang digunakan oleh pabrik limun Oriental. Transformasi botol limun digambarkan melalui bentuk logo Oriental. Logo yang sudah berupa Printing menandakan bahwa botol yang digunakan telah terjamah proses printing. Sedangkan untuk botol yang masih menggunakan tempelan kertas menggambarkan bahwa botol tersebut lebih dulu digunakan. Namun, produksi limun rasa kopi/moka yang masih dipasarkan sampai sekarang justru menggunakan tempelan kertas untuk penggunaan logo pada botol semakin menambah kesan minuman Jadul.

Mesin Kasir yang pernah digunakan oleh Pabrik Soda-Limun Oriental
Mesin Kasir yang pernah digunakan oleh Pabrik Soda-Limun Oriental | © Duwi AS
Ruang pemesanan yang menyatu dengan pabrik pengolahan Limun Oriental
Ruang pemesanan yang menyatu dengan pabrik pengolahan Limun Oriental | © Duwi AS
Menikmati segarnya Soda Gembira Oriental di Ruang Pemesanan
Menikmati segarnya Soda Gembira Oriental di Ruang Pemesanan | © Duwi AS

Tak hanya memajang berbagai botol yang pernah digunakan Pabrikan Soda-Limun Oriental, di ruang pemesanan juga terdapat benda lama yang turut menjadi saksi perjalanan Pabrik Soda-Limun Pekalongan, yaitu mesin kasir lama yang kini sudah tak lagi digunakan.

Pengiriman dan pemasaran limun dan soda Oriental hanya mencakup sebagian kecil wilayah Selatan Kota Pekalongan, seperti Sragi. Berbeda dengan soda merek ‘Badak’ dari Medan yang lebih dulu ada dan pemasarannya menjangkau sampai Pulau Jawa, pembuatan yang masih manual dengan menggunakan Gula Asli membuat soda-limun Oriental mampu bertahan sampai tiga bulan lamanya.

Menikmati Soda-Limun sama dengan kembali bernostalgia. Memutar kembali ingatan semasa sekolah dasar, membeli limun selepas jam olahraga bersama untuk melepas dahaga. Limun Oriental ini mempunyai rasa soda yang tidak selebay Soda Botolan-Cola yang telah mendunia. Rasa sodanya begitu ringan sewaktu melewati tenggorokan, sebagaimana minuman soda pada umumnya yang memicu sendawa.

Soda-Limun Oriental cocok dinikmati di ruang pemesanan dengan kawan lama selepas reunian paska lebaran, untuk apa lagi kalau bukan mengenang masa lalu —atau dibawa sebagai buah tangan untuk calon mertua. eh.

Duwi AS

Penikmat kopi sachet