Sisi Lain Onghokham

Jika Anda adalah orang yang suka sejarah, nama Ong Hok Ham tentu tidak asing. Karya-karyanya bersanding dengan karya-karya Kuntowijoyo, Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, dan karya sejarawan lain di rak buku.

Anda mungkin mengamini, bahwa di rak buku Anda ada buku Runtuhnya Hindia Belanda, Negara dan Rakyat, Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, Wahyu yang Hilang Negeri yang Goncang, dan karya Ong yang lain.

Karya adalah anak pikiran yang dituangkan dalam tulisan. Dalam hal ini, jika kita mencermati karya Ong, maka itulah representasi pikiran Ong, yang tercipta dari lingkungan dan gaya hidupnya.

Lingkungan dan gaya hidup Ong bisa Anda baca pada buku Onze Ong (Onghokham Dalam Kenangan). Buku ini bukan buku baru. Terbit pertama kali tahun 2007, artinya sudah sepuluh tahun.

Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan
Onze Ong, Onghokham dalam Kenangan | Sumber: komunitasbambu.com

Onze Ong berisi kumpulan tulisan orang-orang yang dekat dengan Ong, dan merekam sifat-sifatnya yang membuat Anda heran dan kagum dalam waktu bersamaan.

Biasanya kita mengenal akademisi dengan sifat yang sopan, menjaga tindakannya, dan rapi. Nah, Ong lain dari anggapan itu. Rekaman sifat Ong yang sekarepe dhewe dalam kumpulan tulisan ini, membuat kita memahami mengapa Ong menciptakan karyanya itu.

Dalam pandangan saya, salah satu hal yang didapat ketika membaca buku memoar ini adalah, kita bisa belajar dari Ong, tentang bagaimana menikmati hidup.

Pekerjaan yang kita geluti, bukanlah menjadi penghalang untuk melakukan kegiatan lain yang kita sukai. Ong adalah sejarawan yang produktif menulis esai di beberapa media. Ia juga sebagai salah satu dosen di Universitas Indonesia.

Kedua pekerjaan ini tentunya akan menyita waktu lebih. Tapi Ong bisa mengerjakan tugasnya, sembari menikmati hobinya yang dalam pandangan beberapa orang, akan terlihat kontras dengan profesinya.

Selera seni Ong juga tinggi. Ia hias rumahnya dengan ornament-ornamen antik, dan mempunyai nilai seni yang tinggi. Ia bahkan rela berburu barang-barang antik itu hingga ke keraton Mangkunegaran.

Selain sejarawan, Ong juga dikenal sebagai koki. Keahliannya ini didapat ketika ia belajar di Amerika. Keahlian memasak begitu Ong banggakan, daripada gelar akademik yang ia peroleh.

Ia gemar memasak, apalagi makan. Anda akan menemukan kisah yang lucu tentang kegemaran makan Ong, ketika Anda membaca buku ini.

Saya sedikit membocorkan dari tulisan JJ Rizal:
“Misalnya ketika peluncuran buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa di Bandung. Ong menolak ke acara sebelum dibelikan 10 bakpaw Min Yen kedoyanannya.” (halaman 184).

Ong yang ketika muda dipanggil Sinyo Hansje, juga gemar minum. Bahkan kebiasannya ini masih berlanjut ketika ia terkena stroke.

Ia tak risau meskipun tak menikah. Ia membayangkan waktunya akan habis jika harus mengurusi anak dan istri. Waktu untuk melakukan hobinya akan tersita ketika ia harus mengurusi anaknya.

Gaya hidup seperti Ong, sebenarnya mebuat saya iri. Punya rumah antik, banyak megoleksi buku, makan, minum. Bah, lengkap!

Jika Ong masih hidup, menarik rasanya jika ia menulis untuk minumkopi.com.

Arienal Aji Prasetyo

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com