Sirkus Pohon dan Gado-gado Andrea Hirata

Membaca Andrea Hirata, membaca sebuah karya original anak Indonesia dari pesisir Belitung. Sama halnya dengan novel-novel sebelumnya, Andrea menawarkan sebuah ilustrasi panggung daerah yang diwarnai dengan berbagai konflik yang sederhana, namun mengena.

Setelah dua tahun pembaca menunggu, Andrea Hirata akhirnya kembali menerbitkan novelnya yang kesepuluh berjudul Sirkus Pohon. Judul ini sangat menarik dan mempunyai makna yang sangat dalam menurut saya. Diiringi riset, karya novelis kondang asal Belitong ini dipenuhi dengan alur cerita yang khas.

Pembuatan alur cerita yang berwarna dan tokoh yang beragam, membuat buku ini layaknya sirkus; berisi banyak permainan dalam satu kelompok. Kepiawaian Andrea terlihat dalam menempatkan tokoh Hobri, Ibu Bos, Tara, Tegar, dan tokoh lain dalam satu potret kehidupan suatu masyarakat tertinggal, namun memiliki harapan.

Andrea Hirata
Andrea Hirata | Sumber: sainslovermania.blogspot.co.id

Diawali dengan Hobri alias Sobri, seorang tokoh yang tak memiiki harapan untuk hidup karena ditindas oleh nasibnya sendiri. Ia tinggal dengan seorang adik dan tiada hari hidupnya hanya diisi dengan omelan adiknya. Ia membujang di umur yang sudah tak lagi muda, tak punya pekerjaan, hanya tamatan SMP, tak punya pacar, tak punya harapan. Lalu tinggallah ia merenungi nasib hidupnya yang kelam.

Beberapa saat lamanya setelah bosan ia dimaki-maki oleh adiknya sendiri karena tak bekerja, bertemulah Hobri dengan seorang perempuan: Dinda. Seorang perempuan dengan senyum yang manis, penyuka delima.

Bertemu Dinda, gairah Hobri untuk hidup menyala. Ia mencari pekerjaan dan ingin secepatnya melamar Dinda. Usaha mempertemukan Hobri dengan seorang ibu yang sedang mulai mendirikan sebuah sirkus.

Hobri senang bukan kepalang karena setelah di-‘wawancara’ oleh ‘ibu bos’, ia diterima. Tugas Hobri selanjutnya adalah menjadi badut sirkus. Ia mengabarkan ke semua orang tentang pekerjaan barunya itu, dan tentu saja ia merasa sangat bangga dengan pekerjaannya.

Ia lalu bertemu dengan Tegar, anak laki-laki korban broken home yang nyaris putus asa mencari sosok anak perempuan yang dulu ia temui di balai pengadilan saat orangtuanya bercerai.

Kehidupan ‘Ibu bos’ dipaparkan pula oleh Andrea dengan apik.

Perceraiannya dengan mantan suaminya membuat hidupnya berantakan. Untungnya, Tara, anak semata wayangnya selalu menghibur dan membuat semangat hidupnya terus menyala. Berbekal bakat seni Tara, Ibu Bos pun membuka usaha peninggalan suaminya.

Sirkus Pohon karya Andrea Hirata
Sirkus Pohon karya Andrea Hirata | Sumber: bukalapak.com

Siapa yang menyangka, anak manis penyuka seni ini juga memiliki cerita cinta yang menarik. Ia habiskan seluruh waktunya untuk mencari anak laki-laki yang pernah membelanya dari gangguan anak-anak kecil laki-laki di balai pengadilan dulu, ketika orang tuanya bercerai. Sosok anak perempuan yang kehilangan ayah di masa muda, membuatnya tertarik dengan anak laki-laki yang melindunginya.

Nasib hidup yang keras mempertemukan mereka ke dalam suatu cerita utuh suatu sirkus keliling. Perlahan, kehidupan sirkus membuat kehidupan mereka berubah pula. Hobri dengan cintanya yang ironis, Tegar dan Tara yang akhirnya menemukan hal yang mereka cari, hingga akhirnya kehidupan sirkus keliling musnah karena satu orang penguasa yang tamak.

Hutang yang dimiliki mantan suami Ibu Bos harus ditanggung Hobri. Terpaksa ia membubarkan sirkus keliling. Hobri dan semua orang yang terlibat dalam sirkus kecewa sekaligus sedih. Rentenir itu memeras kehidupan dari segi ekonomi, sosial, psikologis, dan merambah ke politik.

Sekali ini saya menemukan bumbu cerita yang tidak biasa Andrea suguhkan dalam novelnya. Kali ini, ia lantang menyuarakan bagaimana seorang penguasa dapat membangun dan menghancurkan rakyatnya sekaligus, menentramkan dan membuat resah masyarakat dalam satu waktu, memberi janji dan mengingkarinya pada saat yang sama. Ia menyebut para penguasa itu sebagai “orang-orang yang memegang mik, merekalah yang berkuasa”.

Daya tarik sesungguhnya dari Andrea ialah pada latar dan sosial eksperimennya yang ia lakukan. Bertahun lamanya ia mengamati pola tingkah masyarakat sekitarnya dan menerjemahkannya dalam berlembar-lembar deskripsi tokoh dan karakter. Tidak dikarang-karang, realistis, dan pintar. Sirkus Pohon ini nampaknya jadi karya Andrea yang “gado-gado” dengan bumbu yang komplit.

Nur Hamidah

Penulis


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405