Singgah di Kopi Ong Medan

Minum cangkir Pertama sebagai orang asing;
Minum cangkir Kedua bagaikan teman;
Minum cangkir Ketiga menjadi saudara

Tiga baris kalimat tersebut terpajang di atas 4 toples berisi biji kopi sangrai siap giling di sebuah kedai kopi di Medan. Itulah filosofi kopi yang diusung kedai kopi ini selama berdiri. Barisan kata itu, seolah hendak meyakinkan para penikmat kopi yang berkunjung. Kedai Kopitiam Ong sama sekali tidak berubah meskipun nama kedainya kini menjadi Kopi Ong.

Seharian ini pekerjaan banyak menyita energi. Melintas di jalan yang berlubang, berdiskusi dengan ibu-ibu petani pisang barangan di Desa Penen, Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang, cukup membuat tengorokan terasa kering. Menikmati secangkir kopi di Kopi Ong membuat segar kembali.

Kopitiam Ong kini berubah Kopi Ong. © Joeni Hartanto

Saya sengaja memilih Original Ong untuk merasakan atmosfir kedai pertama ‘dinasti’ kopi Ong. Kopi menyentuh ujung lidah dengan sensasi pahit lembut seolah tanpa gula. Saya memilih meletakkan gula di bagian bawah cangkir. Gaya seduh ini saya peroleh dari kawan Aceh yang selalu membuatkan kopi pahit diujung, saat keliling pantai barat Aceh beberapa tahun lalu. Cara begini sangat cocok untuk merasakan kualitas kopi. Awal mensesap rasanya pahit, berangsur terasa manis mendekati dasar cangkir. Tajam, keras, aroma manis tercium kuat, namun bertesktur rasa lembut dengan khas pahit Sumatra.

Kawan baru saya di Medan, ternyata paham dan tahu selera kopi saya. “Jika ingin menikmati Ong pilih yang original, sampean pasti suka,” sarannya. “Jangan taste citarasa modern. Sampean itu ‘old fashion’, original taste kopi!”

Sidikalang, Aceh, Lanang atau Lintong? Saya pilih Kopi Lintong Original Ong, karena mengingatkan saya pada coffeepreneur, Gani Silaban. Dia seorang petani kopi yang selama beberapa tahun belakangan ini mendapat perhatian publik lantaran inisiatifnya mengangkat Kopi Lintong dari Desa Lintong Ni Huta, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan-Tapanuli Utara.

Empat jenis kopi di Kopi Ong. © Joeni Hartanto

Ada sejarah unik dibalik kopi Lintong. Hingga sekarang banyak penduduk di Tapanuli Utara yang enggan meminumnya. Mereka menganggap kopi ini beracun. Varian kopi Arabika ini didatangkan oleh VOC pada tahun 1750. Setelah meminum kopi tersebut mereka mengaku sakit perut, bahkan ada yang diare. Anehnya mereka tetap menanam kopi tersebut sebagai pendapatan utama. Keanehan tersebut seakan terjawab. Ternyata kopi lintong adalah salah satu kopi terbaik yang telah diakui dunia, sebagai salah satu ‘biji emas’ kopi dataran Gayo yang dikemas sebagai kopi produk Starbucks. Anda merasa tertipu? Dan, menjadi bangga merasai gaya kopi Amerika dengan citarasa asli Lintong? Hahaha..

Sayang sekali saya tidak menemukan jajanan tradisional pendamping kopi di menu Ong selayaknya kedai-kedai kopi di Aceh. Seandainya ada jajanan sejenis jala durian atau timphan? Wooow! Lidah pasti koma! Saya kira banyak sekali jajanan tradisional Medan yang bisa lebih melegitkan citarasa kopi. Entah kenapa belum ada tercetak di daftar menu. Di sana hanya terpampang menu makan berat.

Oe…, tunggu dulu.Ternyata terselip satu jajanan nyuus ketela rambat goreng. Rasa lapar membuat saya menyerah. Pilihan tetap jatuh pada makanan berat; Nasi Goreng Belacang Ong. Hoaah, sendokan pertama mengejutkan. Pedas dengan balutan rasa belacang kuat. Sensasi bertambah gurih ketika seekor udang dan sekelompok teri medan putih sedikit asin menumpang sendok ke mulut. Terasakan semakin menonjokan rasa saudara tuanya belacang di lidah.

Kopi Lintong disajikan dengan Vietnam drip. © Joeni Hartanto

Pilihan Nasi Goreng Belacang sebagai pendamping kopi, sebenarnya mengkhwatirkan. Jangan-jangan akan mematikan lidah untuk menikmati kopi Lintong. Ternyata tidak terbukti, setelah sepiring nasi goreng menghuni perut. Sruputan pertama kopi Lintong mencuci bersih citarasa belacang. Sruputan kedua mengembalikan rasa kopi Lintong. Seruputan ketiga rasa kopi benar-benar kembali sebagaimana awal menyesapnya.

Saya memastikan empat jenis kopi bubuk original Ong menghuni rangsel butut sebelum saya pergi. Sebenarnya saya bernafsu membeli lebih banyak lagi, untuk menjamu kawan-kawan ‘pengopi’ di Jogja. Sayangnya saya perlu menahan diri. Perjalanan masih panjang, masih harus keliling Sulawesi, Papua, NTT, dst. Bahkan esok pagi, saya akan berkunjung ke petani kopi di desa Tangkidik, Barusjahe, di Tanah Karo.

Pekerjaan menuntut saya melintasi berbagai daerah di nusantara. Di sela-sela kerja ini saya menyempatkan diri berburu kopi. Menikmati kekayaan kopi nusantara di daerah asalnya.

Joeni Hartanto

Penikmat kopi.

  • eko susanto

    Titip robusta 1/4 bos nek mulih jogja ya hehehe…

  • Joeni Hartanto

    Bung Eko, semoga Trip ke II ini dapat kopi baru. Adakah yang bisa sarankan Kedai Kopi atau Biji kopi yang layak untuk dinikmati? Kali ini Trip II dengan route Jakarta-Bogor-Jakarta-Malang-Kediri-Bali-Papua-Kupang

  • eko

    Wah, itu daerah jelajahnya Kanjeng PEA. Dia mungkin lebih tahu, bos…kalo Papua ada Oni di sana. Dulu editornya INSISTPress. Dia juga pernah menulis kopi di laman ini. Selamat Hunting, bos. Ajalali Robusta hehehe….