Singgah di Kedai Kopi Srinthil

Kedai Kopi Srinthil
Kedai Kopi Srinthil yang terletak di salah satu alun-alun Kota Temanggung. © Nody Arizona

Adhi Andita mengurangi percepatan vespa berwarna merahnya, lalu menghentikan di depan sebuah ruko, yang berada di salah satu sudut alun-alun Kota Temanggung. Sebuah kedai kopi bernama Kopi Srinthil terlihat. Dan tepat, ini yang kami butuhkan sebentar rehat dan secangkir kopi, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Kedai kopi terlihat baru buka. Belum terlihat ada seorang pelanggan pun. Rafika Utami, yang biasa dipanggil Tami, bahkan masih membenahi rambutnya kembali setelah teracak ketika mempersiapkan kedai kopi. Ia melayangkan senyum, mempersilakan kami singgah dan sebentar kemudian menyodorkan menu yang tersedia.

Menu yang ditawarkan cukup menarik. Jangan harap menemukan kopi dari Aceh, Sulawesi, Papua, dan lain sebagainya, karena kedai ini memang tak menyediakan. Kopi yang disediakan berasal dari kebun-kebun kopi yang dipanen dari gunung-gunung yang berada di daerah Temanggung.

Kedai Kopi Srinthil
Aneka varian kopi dari Temanggung. © Nody Arizona

Teman saya, Adhi Andita, sekonyong-konyong memesan kopi srinthil. Dan itu tidak tersedia, karena srinthil bukan jenis kopi. Srinthil adalah tembakau khas Temanggung yang berharga sangat mahal, dan menjadi ikon kemakmuran petani tembakau di daerah sini. Menurut Tami, kedai kopi ini dinamakan Kopi Srinthil karena menu yang disajikan berasal dari daerah Temanggung. Tidak hanya kopi, juga aneka kudapannya. Ia memberikan contoh untuk menu nasi jagung goreng yang biasa dikonsumsi masyarakat Temanggung. “Menu yang disajikan inginnya khas dari Temanggung,” ujar Tami.

Adhi memesan kopi bulu, jenis kopi arabika yang dihasilkan dari Desa Bulu, di lereng gunung Sumbing. Sedangkan saya, memesan kopi tlahab. Kopi tlahab yang saya pesan dikisahkan Tami, merupakan dihasilkan dari pohon kopi di Desa Tlahap, Kecamatan Kledung. Letaknya di lereng gunung Sindoro. Di desa itu tanaman kopi ditanam secara tumpang sari dengan tanaman tembakau, selain fungsinya untuk mencegah erosi tanaman kopi juga bernilai ekonomis bagi penduduk.

Kedai ini baru buka sekitar enam bulan lalu. Imam, peracik kopinya, mendapatkan kesempatan belajar meracik kopi di Yogyakarta terlebih dahulu. Baru kemudian praktik, dan membagikan ilmunya kepada kawan-kawannya di kedai kopi.

Kedai Kopi Srinthil
Secangkir kopi tlahab. © Nody Arizona
Kedai Kopi Srinthil
Rafika Utami, peracik kopi di kedai Kopi Srinthil. © Nody Arizona

Seorang pengunjung memesan kopi dengan sajian tubruk, Tami segera meracikannya.

Sementara itu Adhi, sibuk membalas pesan dari teman-temannya di Yogyakarta yang pesan untuk dibawakan kopi dari Kedai Kopi Srinthil. Ia terkena tulah karena pamer foto sedang ngopi di kedai ini.

Setelah kopi kami tandas, saya mengajak Adhi untuk segera melanjutkan perjalanan agar tak terlalu malam sampai Yogyakarta. Tak lupa, ia membawa tiga bungkus pesanan kopi sebagai buah tangan kawan-kawan di Yogyakarta.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.