Sinestesia: Sebuah Konser Minimalis nan Magis

Konser Sintesia Efek Rumah Kaca yang digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016
Konser Sintesia Efek Rumah Kaca yang digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 13 Januari 2016 © Reza Fajri

Kala itu, waktu telah menunjukkan jam 20.15 ketika saya menduduki kursi di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya masuk agak telat, tapi syukur acara tak dimulai tepat waktu. Sepuluh menit berlalu, konser masih belum dimulai. Penonton lain hilir mudik, masuk dan mencari kursi untuk mereka. Saya tengok kanan-kiri, orang-orang mulai gelisah. Konser telat sekitar 30 menit, dan ternyata tidak menyenangkan.

Tapi sekali lagi, tidak apa. Bukankah lebih baik menunggu satu atau dua jam ketimbang harus menunggu 6 tahun untuk mendapatkan album ‘Sinestesia’? Toh, kita tetap saja rela menanti sampai album ketiga Efek Rumah Kaca (ERK) ini lahir.

Sejak jam 10 pagi, kerumunan orang sudah terlihat di depan Teater Besar. Mereka datang untuk menukar tiket dan memilih tempat duduk yang tersedia. Siapa cepat dia dapat. Saya sendiri datang 30 menit kemudian, menukar tiket dan memilih posisi duduk. Sayang, tempat-tempat terbaik telah diambil orang, hanya 30 menit setelah penukaran tiket dibuka.

Keasyikan bengong, prolog konser tiba-tiba terdengar. Wah asyik, pikir saya. Akhirnya mulai juga. Tak perlu lama, tirai panggung terbuka. Musik menghentak, konser dimulai dengan Tubuhmu Membiru Tragis dan Mosi Tidak Percaya. Beberapa penonton ragu untuk berjingkrak. Tapi sayup terdengar beberapa orang di belakang saya ikut bernyanyi.

Tata panggung begitu sederhana, tidak ada dekorasi yang berbelit. Panggung hanya dibalut kain putih berbentuk kotak, namun art director, Irwan Ahmett berhasil membuat konser ini nampak elegan dengan balutan tata visual yang apik. Panggung ditembak dengan efek-efek visual sederhana, hanya memainkan warna-warna seperti tema dalam album ketiga mereka.

Tata visual pangung dirancang oleh Irwan Ahmett
Tata visual pangung dirancang oleh Irwan Ahmett © Aditia Purnomo

“Itu penyanyi latar yang paling kanan seniman juga, gue pernah wawancara doi,” ujar seorang kawan disela konser. Ia menunjuk Monica Hapsari, backing vocal yang diangkat sebagai penyanyi utama di Pandai Besi, band side project ERK semasa vakum. Monica tampil begitu enerjik sepanjang konser, saya merasa tersihir dengan penampilannya.

Kawan saya, Tia Agnes adalah wartawan di kompartemen budaya Detik. Saya datang bersamanya dan dua orang kawan lain. Ia datang tidak untuk liputan, hanya untuk menyaksikan konser berlangsung. Bukan deh, dia datang karena sosok Irwan Ahmett. Ingin melihat bagaimana Irwan menampilkan tata panggung konser ini. Sementara dua kawan lain, William dan Thohirin sudah meniatkan diri untuk jingkrak-jingkrak sepanjang konser. Oh ya, nama terakhir ini yang bikin saya telat masuk ke gedung.

Dalam konser ini, ERK memainkan dua babak penampilan. Pada babak pertama mereka memainkan lagu-lagu lama yang diaransemen ulang dalam format orksetra, sama seperti konser tunggal pertama mereka di Bandung beberapa bulan lalu. Kemudian pada babak kedua, mereka memainkan semua lagu pada album ketiga, Sinestesia.

Album ini dirilis menjelang tutup tahun. Pada sebuah konser terbatas di Hard Rock Cafe Jakarta pada 20 Desember lalu. Esoknya, album fisiknya dijual secara melalui Demajors. Sebelumnya, album ini dirilis dalam format digital dan dijual melalui layanan iTunes. Dalam rentang belasan hari di tahun 2015, album ini berhasil masuk dalam beberapa nominasi album dan lagu terbaik 2015.

Pada 23 Desember, mereka merilis kabar akan menyelenggarakan konser pada 13 Januari. Banyak orang berdebar, menanti keterangan lebih lanjut soal di mana mereka bisa mendapatkan tiket konser tersebut. Meski terbilang agak mahal, antusias penggemar tidak menurun. Terbukti tiket langsung habis pada 4 Januari 2016, hanya sepekan setelah penjualan dibuka.

Dalam rilis resmi di situs efekrumahkaca.net, mereka menyatakan terima kasih atas antusias penonton yang begitu besar meski tiket konser terbilang cukup mahal. “Kekhawatiran tentang bagaimana harus menutup biaya produksi konser paling tidak hampir terpecahkan, walau belum sepenuhnya,” tulis mereka.

Selama 90 menit babak pertama digelar, histeria penonton terus menanjak. Begitu pun saya. sempat ragu untuk menyanyi keras-keras karena takut mengganggu beberapa penonton di sekeliling saya yang lebih banyak diam. Baru pada lagu Cinta Melulu, seluruh penonton ikut bernyanyi karena memang Cholil sama sekali tidak bernyanyi pada lagu itu. “Kapan lagi karaoke-an digitarin sama Cholil,” ujar William kepada saya setelah konser. Paduan efek warna dan musik yang mereka bawakan membawa magis bagi penonton. Setelah Cinta Melulu, tidak ada lagi lagu yang kami lewatkan tanpa ikut bernyanyi.

Menjelang babak pertama selesai, terjadi pergantian pemain. Para penyanyi latar ditarik meninggalkan panggung. Sementara, masuk satu pemain yang sudah lama absen akibat cedera. “Duh, cape juga ya nyanyi. Gimana kalau sekarang panggil sahabat aja buat ikutan nyanyi? Ini dia Adrian,” ujar Cholil disambut elu-elu penonton.

Seluruh gedung bergemuruh saat Adrian Yunan Faisal masuk didampingi Muhammad Asranur yang lantas mengisi posisi keyboard di panggung. Adrian sendiri duduk di sebuah bangku kosong yang sejak awal berada di panggung. “Selamat malam,” ujar Adrian sambil tersenyum dan melanjutkan konser.

Adrian sendiri adalah salah satu dari tiga punggawa utama dari Efek Rumah Kaca. Selepas mengeluarkan album kedua bertajuk ‘Kamar Gelap’, kesehatan basis sekaligus penyanyi latar ERK ini terganggu dan mengalami penurunan fungsi pengelihatan hingga kerap absen dari panggung-panggung yang diikuti ERK. “Sejujurnya saya merasa ini seperti konser pertama saya. Ini malam bahagia buat saya,” ucap Adrian disambut haru para penonton dan tepuk tangan kepadanya.

Babak pertama diakhiri lagu Sebelah Mata.

Tirai pun kembali tertutup dan penonton diperbolehkan beristirahat selama 15 menit. Memanfaatkan waktu yang ada, saya dan teman-teman langsung keluar untuk menyelesaikan hajat di toilet serta membasahi tenggorokan yang agak serak selepas bernyanyi tadi. Sepanjang pertunjukan, penonton tidak diperkenankan membawa air minum ke dalam panggung. Jadi wajar saja kalau banyak penonton keluar dulu untuk membasahi tenggorokan.

ERK ketika menyanyikan lagu-lagu dari Album terdahulu
ERK ketika menyanyikan lagu-lagu dari Album terdahulu © Aditia Purnomo

Sayangnya, babak kedua dimulai tanpa aba-aba. Tiba-tiba saja, tanpa pembuka, konser dilangsungkan. Dimainkan dengan lagu pertama pada album Sinestesia. Banyak penonton ketinggalan, dan riuh penonton terjadi lebih karena kaos yang terjadi akibat berdesak-desakan masuk ke ruangan. Saya sendiri kehilangan setengah lagu karena malas beradu desak dengan penonton lain. Meski begitu, secuil retak barusan tidak terlalu berpengaruh pada magis yang ditampilkan. Alunan musik dengan senandung lirik di lagu merah tetap asyik dinyanyikan.

Moralis, merasa paling baik

Macam yang paling etis, awas jatuh menukik

Band yang mendaku sebagai trio pop minimalis ini, menampilkan sebuah konser pernuh personel dengan gabungan nada dari masing-masing pemainnya. “Dulu, dari Twitter kami sering disebut trio pop minimalis, tapi sekarang liat, kami udah banyak banget kan di atas panggung?” canda Cholil. Sembari memperkenalkan masing-masing pemain, Cholil menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan-kekurangan yang ada di konser ini.

“Karena kami benar-benar menyelenggarakan konser ini secara mandiri, maka kami mohon maaf kalau ada kekacauan seperti double seat tadi, kami minta maaf,” ujarnya tegas. Ia pun mengungkapkan, “jika ada penonton yang kuang puas karena itu bisa menghubungi panitia untuk me-refund tiketnya.”

Sebagai sebuah konser yang mandiri, minim anggaran, atau indie seperti yang dijelaskan Cholil, Efek Rumah Kaca mencoba memaksimalkan apa yang bisa ditampilkan. “Setelah diskusi dengan Irwan Ahmett, ada beberapa opsi yang bisa dipilih, tanpa harus ngutang dan inilah yang bisa ditampilkan,” jelas Cholil.

Pada babak kedua konser, visual panggung menjadi sorotan utama. Tata panggung yang penuh warna sangat cocok dengan konsep album Sinestesia. Lirik-lirik yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia ditampilkan bersama musik yang apik disempurnakan dengan tata panggung tersebut. Benar-benar penuh warna seperti konsep albumnya.

Hingga kemudian, lima anak masuk ke panggung, bergabung menyanyikan lagu Kuning sebagai persembahan terakhir. Beragam rasa dan emosi timbul, lagu-lagu yang bernyawa, serta tata panggung yang apik disambut dengan nyanyian lagu rakyat asal Kalimantan Leleng membawa magis tersendiri hingga menjadikannya sebagai penutup yang apik dibarengi standing applause dari penonton.

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405