Si Polisi Pikiran

Frank Zappa
Frank Zappa | Sumber: futuristika.org

… kita tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi.

Di hari ketiga awal 2017 ini, saya memutuskan untuk duduk manis dan menyeduh kopi goodday seraya mengotak-atik latar belakang skripsi saya yang tidak segera disetujui oleh dosen. Tidak ada yang salah, segala berjalan normal, kecuali ketika tiba-tiba lagu milik Frank Zappa yang berjudul who are the brain police berputar di playlist. Sekonyong-konyong ambyar keinginan untuk memperbaiki latar belakang skripsi yang memang sudah mengenaskan itu.

Kali pertama Zappa saya temukan ketika secara tidak sengaja membaca ungkapan “so many books, so little time”di goodreads. Melihat ungkapan yang aduhai tersebut, lewat kekuatan google, saya tahu bahwa Zappa bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang gitaris, penyanyi, komposer musik, artis dan juga satiris asal Amerika. “Who are the brain police”menjadi pilihan pertama untuk didengarkan.

Apa yang membuat lagu tersebut menarik? Kenyataan bahwa lagu tersebut membuat saya buru-buru membuka kembali novel 1984 milik George Orwell dan menonton ulang “V for Vendetta” besutan James McTeigue. Mumpung tahun 2017 masih hangat, ketiganya saya rekomendasikan untuk kembali didengarkan, dibaca dan ditonton.

Salah satu gambar album Frank Zappa
Salah satu gambar album Frank Zappa | Sumber: mangemesdix.blogspot.co.id

Ketika mendengarkan “who are the brain police,” saya sendiri dibawa ngeri dengan musiknya. Sesuatu yang mengingatkan tentang “Gloomy Sunday”: suram dan muram. Mendengarnya pertama kali, lagu ini akan terasa seperti lagu untuk para pesakitan mental. Tetapi ketika mencermati liriknya, lagu ini sebenarnya berbicara tentang bagaimana otak manusia bekerja. Tentang pikiran-pikiran yang dibatasi, tentang polisi-polisi pikiran yang dibentuk. Oleh siapa? Oleh kita sendiri tentu saja, si pemilik otak.

What will you do if we let you go home?
And the plastic’s all melted
And so is the chrome?
Who are the brain police?

Bagi saya, sepenggal lirik di atas tidak bisa dipahami sekali dengar. Tidak, saya baru benar-benar paham ketika Orwell menggunakan kata ‘polisi pikiran’ dalam novel 1984-nya, novel yang saya rekomendasikan untuk orang-orang yang terus menerus bersinggungan dengan kabar buruk di media sosial.

Dalam 1984, Orwell bercerita bagaimana pikiran harus seminimal mungkin dibatasi, karena ada polisi-polisi pikiran yang akan menindak jika kita memikirkan apa yang ‘partai’ anggap haram, salah satunya adalah mempertanyakan masa lalu. Dalam dunia 1984, tidak ada masa lalu, yang ada hanya partai dan masa kini. Pikiran harus berisi slogan dan nyanyian serta dedikasi tinggi terhadap partai. Karena itu, bercinta secara tidak sah adalah terlarang. Bagi partai, bercinta adalah usaha untuk menghasilkan generasi patuh selanjutnya. Tidak boleh ada percintaan yang menyenangkan! Karena sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan akan membuat pikiran-pikiran liar tidak bisa dikendalikan saudara-saudara!

1984 mengajak kita merasakan betapa mengerikannya tidak diperbolehkan memiliki masa lalu dan juga pikiran sendiri untuk dilamunkan. Pertama, polisi pikiran akan menertibkan pikiran kita, lewat teguran, ancaman dan pemusnahan. Yang kedua, seperti yang Zappa siratkan dalam lagunya, polisi pikiran akan terbentuk dengan sendirinya, secara otomatis, menjadi laku hidup yang mematikan imaji dan ide. Sudah melihat betapa kerennya lagu dan novel ini?

Albert Camus dalam salah satu esainya pernah berkata, “aku memberontak maka aku ada”. Tokoh V dalam film “V for Vendetta” adalah seorang pemberontak, begitu dilihat dari kacamata pemerintah. Film yang diadapatasi dari komik ini bercerita tentang V yang melakukan serangkaian teror untuk melawan pemerintah. Dalam film ini, perhatikan Lewis Prothero memandu acara bincang-bincang di British Television Network dan bagaimana ia menuduh sumber segala masalah adalah “Godless-ness” atau ketiadaan Tuhan. Jangan lupa, acara bincang-bincang itu disiarkan secara rutin tiap malam.

Sesuatu hal yang rutin bisa jadi membahayakan, dan mendengarkan serang provokator bicara tiap malam yang difasilitasi oleh pemerintah tentu saja memuakan. Rakyat bukannya tidak jengah, tetapi pemerintah begitu kuat menanamkan pengaruh dan kekuatannya. Dan V, dengan topeng Guy Fawkesnya, adalah tokoh yang mencoba merobohkan bentang tirani itu. Sekilas seperti itu gambaran filmnya.

Mendengarkan Zappa, tetiba saya teringat tokoh Dinarli dalam novel Perahu Kertas karya Carlos Dominguez. Bagi Dinarli, memahami satu buku tidak bisa hanya tunggal. Harus ada buku-buku yang lain untuk membantunya mengerti apa yang ia baca, maka membaca adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai karena itu terus bersambung. Begitu juga ketika saya mendengarkan Zappa. Orwell dan V membantu saya memahami kenapa lagu ini dibuat. Zappa adalah seorang satir, dia sedang menyindir orang-orang dengan imajinasi terbatas.

Dalam dunia yang sudah terlalu sumpek dengan orang-orang bersumbu pendek, bagi saya menikmati ketiga karya di atas adalah upaya menjaga kewarasan, mengingatkan saya betapa bahayanya pembelokkan pikiran, dan betapa menakutkannya sebuah ide.