Si Mbok dan Pohon Kopi di Pekarangan Rumahnya

Kopi sangrai tradisional.
Kopi sangrai tradisional. © Mohamad Ulil Albab

Sebuah tungku tua membumbungkan asap. Dari luar, asap tersebut terlihat merembes keluar dari pori-pori genting yang sudah menghitam. Ketika seperti itu, saya seringkali terpikat, menuju ke dapur Si Mbok sekadar ingin tahu apa yang sedang dimasaknya. Saya terbiasa masuk lewat pintu belakang langsung menuju dapur.

Semua peralatan memasak Si Mbok bisa dikatakan masih tradisional. Terutama peralatan mengolah biji kopi dari pohon sampai siap minum.

Si Mbok tinggal di samping rumah saya, terletak di Desa Wringinputih, Muncar. Kebutuhan bahan bakar memasak seperti kayu dan pelepah pohon kelapa cukup mudah dicari. Sekitar 80 persen di sekitar rumah desa saya dipenuhi pohon kelapa. Tempat memasak dengan bahan bakar kayu disebut luweng (tungku).

Apapun jenis makanannya, bila dimasak dengan tungku pasti cepat masak, dan rasa matangnya sungguh optimal, karena panas api yang lebih besar dibanding kompor. Ini standar selera lidah saya sih, tidak tahu dengan citarasa kalian, tapi apa salahnya dicoba bagaimana rasanya makanan dengan proses memasak alat tradisional.

Setiap pagi pula, sambil memasak, Si Mbok selalu ditemani secangkir kopi. Si Mbok biasa meracik tiga kopi. Satu untuk dirinya sendiri, sedangkan dua cangkir untuk anaknya. Bila saya datang, satu cangkir lagi dibuatnya. Si Mbok sudah tahu selera saya, kopi tanpa gula.

Si Mbok terbiasa memproduksi sendiri kopi yang diminumnya
Si Mbok terbiasa memproduksi sendiri kopi yang diminumnya. © Mohamad Ulil Albab

Entah sejak kapan Si Mbok ketagihan minum kopi. Tapi yang jelas, Si Mbok pernah membuat usaha bubuk kopi yang diproduksi sendiri. Agar jumlah bubuk bertambah, kopi dicampur dengan beras dan kelapa. Sebelum dimasukkan ke dalam tong rakitan sendiri, tempat menyangrai, beras terlebih dahulu direndam. Sedangkan kelapa dipotong kecil-kecil. Proporsinya 50 persen untuk kopi dan 50 persen campuran beras. Sekarang produksinya sudah tidak jalan lagi, kalah dengan kemasan kopi instan buatan industri.

Si Mbok memang sudah tidak memproduksi kopi untuk dijual. Meski demikian, ia masih mengolah untuk konsumsi sendiri. Di belakang rumah, ada satu pohon kopi dengan tinggi sekitar tujuh meter. Entah jenis kopi apa. Kata Si Mbok itu kopi “buriah”. Tapi yang pasti itu merupakan kopi robusta karena berada di lahan kering, dataran rendah, dan bisa berbuah dengan baik. Antara bulan Mei dan Juni, pohon kopi tersebut mulai siap dipanen.

Biji kopi yang sudah berwarna merah dipanen dengan menggunakan sabit. Hasil panennya kemudian ditumbuk dengan lesung agar kulit biji kopi terkelupas, setelah itu baru dijemur. Habis dijemur ditumbuk lagi sampai kulit biji kopi benar-benar terkelupas bersih.

Si Mbok orangnya memang suka yang ngirit-ngirit, meski untuk konsumsi sendiri, tetap saja dicampur dengan beras, dan kelapa untuk menambah aroma segar. Setelah disangrai di atas tungku, kopi racikan Si Mbok siap digiling dengan mesin butut kepunyaannya. Bila saya datang, biasanya Si Mbok menawarkan kopi murni, alias tidak ada campurannya, hanya hasil olahan biji kopi saja. Katanya, bila minum kopi murni, membuat badan tetap segar dan tidak gampang mengantuk.

Kopi murni milik Si Mbok menghasilkan warna hitam bening bila diseduh. Rasanya lebih segar dan harum, endapan bubuk kopinya sedikit, beberapa malah ada yang naik di atas permukaan karena gilingannya kurang halus. Saya sendiri malah senang bila digiling tidak terlalu halus, karena ada yang dikunyah sambil merasakan aromanya. Beda dengan kopi campuran beras dan kelapa, warnanya lebih hitam pekat dan rasanya kurang harum.

Menjaga api tungku tetap membara
Menjaga api tungku tetap membara. © Mohamad Ulil Albab

Membuat kopi sendiri dalam pengertian mulai dari proses panen, mengupas kulit biji kopi, menjemur, menyangrai, menggiling untuk dijadikan bubuk, sampai menyeduh dan siap dikonsumsi, memang sebuah kerja membanggakan. Rasa nikmat kopi benar-benar bisa dirasakan.

Beda dengan nikmat kopi siap minum: tinggal pesan di warung atau beli kopi kemasan siap saji. Meski kualitas rasa bisa dibilang kalah dengan pengolahan modern macam kopi latte, espresso, capuccino, dan lain sebagainya. Letak kenikmatan “kopi tradisional” milik Si Mbok ini dari hasil kerjanya.

Saya sendiri masih berada dalam tahapan penikmat amatiran saja. Paling-paling kerjanya hanya menyeduh saja untuk diri sendiri atau diminum bersama kawan atau kerabat. Belum pernah menikmati kopi dari hasil memetik sendiri.

Sedangkan Si Mbok? Dia memang orangtua yang istimewa. Bayangkan saja, untuk menikmati kopi, terlebih dahulu ia melampaui proses kerja-karja tradisional pengolahan kopi, mulai dari proses panen sampai siap diseduh. Masih menggunakan alat tradisional macam lesung dan perapian tungku lagi. Meski untuk proses penggilingan masih menggunakan mesin.

Si Mbok merupakan orangtua yang tidak bisa diam. Ada saja yang dikerjakan di dapur. Misalkan membuat kerupuk dari sisa nasi, mengurus ayam-ayamnya, mencari kayu bakar, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya. Semua kerjaannya itu dimulai dari menyeruput kopi di pagi hari.

Saya sempat membaca di buku Multatuli, karangan Douwes Dekker, seorang Asisten Residen di Lebak yang humanis. Tidak mau melihat orang-orang pribumi hanya dikuras tenaganya saja oleh bupati. Pada suatu kesempatan saat berbincang-bincang dengan pejabat kolonial. Ada diskusi kecil soal kopi. Mengapa orang pribumi sehat-sehat? Karena mereka tidak minum air dingin selepas kerja. Melainkan menyeruput yang panas-panas seperti kopi, cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Mohamad Ulil Albab

Sejarawan Partikelir