Si Hitam Manis Khas Aceh

Sajian Kopi Terbalik Warung Kafe Tubruk
Sajian Kopi Terbalik Warung Kafe Tubruk | © Rara Yufita

Jejeran gelas kopi telihat di meja saji saat ia sedang menuangkan air panas dari tungku memasak. Kepulan uap air keluar dari tungku saat Hamzah membuka tutup panci di hadapannya. Tubuh yang tinggi dan sedikit kurus, serta senyum simpul yang sesekali muncul sambil tangannya cekatan membuat kopi. Hamzah adalah salah satu dari lima karyawan yang bekerja di warung ini.

Warung yang bertempat di jalan Kuta Paya, Meulaboh, Aceh barat. Sekilas sama saja seperti warung pada umumnya, namun ketika kita masuk ke dalam, terlihat gelas kopi hampir di tempat duduk setiap pengunjung.

Warung dengan luas 100 meter ini selalu ramai pengunjung setiap harinya. Lebih dari 200 orang setiap harinya berkunjung untuk sekedar menikmati seruputan kopi khas Aceh ini. Rasa yang manis pahit melebur menjadi satu. Ditambah dengan pengemasan yang unik dengan kopi yang sudah diaduk dengan gula atau susu. Dan diletakan di piring kecil lalu di balik.

Alhasil, kopi ini disebut juga sebagai kopi terbalik, karena penyajiannya yang unik ini. Cara meminum kopi ini juga unik, yakni dengan menggunakan sedotan yang diletakan pada bibir gelas.

Suara-suara yang ditimbulkan dari sedotan pada saat meminum kopi, menghasilkan sensasi yang menyenangkan.

Adi, salah satu pelanggan, khusus datang ke warung ini untuk sekadar menikmati segelas kopi hitam kesukaannya. Ia adalah pelanggan yang terbilang sering datang di sini. ”Saya kalau ke sini enggak bayar pun ngak apa-apa,” guraunya.

“Menurut saya kopi di sini lebih aja dari kopi-kopi di tempat lain,” tambahnya menjelaskan alasannya.

Adi bukan satu-satunya pelanggan setia yang sering berkunjung. Sebelumnya, banyak pelanggan yang berasal dari berbagai daerah seperti Banda Aceh bahkan luar Aceh seperti Jakarta.

Warung Pantai Kenangan atau yang lebih dikenal dengan nama Kafe Tubruk ini sudah berdiri sejak tahun 1992. Agus Saini adalah pemilik warung saat ini. Ia penerus setelah pada tahun 1992-2004 kafe ini dipegang oleh orang tuannya, M. Yusuf.

Hingga kini, warung Kafe Tubruk masih menjadi favorit bagi pengemar kopi terbalik. Bahkan, banyak wisatawan dari dalam dan luar Aceh yang singgah hanya sekadar minum kopi.

Pengunjung yang datang tidak hanya kalangan lelaki, namun banyak anak-anak muda baik laki-laki atau pun wanita datang untuk menikmati segelas kopi, atau pun makanan lainnya, seperti mie, rujak, dan berbagai aneka jus buah.

Tempat yang tenang dengan hebusan angin sepoi khas pinggir laut, serta lokasi yang strategis yang terletak tidak terlalu dekat dengan jalan raya menjadikan suasana warung Tubruk tidak riuh dan tenang. Juga menjadi alasan banyak pengunjung memilih datang ke pusat kuliner kopi ini.

Pelayanan yang baik juga menjadikan poin penting banyaknya pengunjung bahkan menjadi pelanggan setia warung ini.

Bagi yang ingin datang kesini, datanglah pada waktu yang tepat. Walaupun tak pernah sepi, warung ini hanya buka dari jam 09.00-06.00 sore. Untuk harganya relatif murah, kopi tubruk sendiri dikenai biaya Rp4000 dan Rp6000 untuk kopi susu.

Jadi, bagi siapa pun yang penasaran ingin merasakan kenikmatan kopi tubruk khas Aceh ini, silakan mampir ke warung Tubruk ini. Anda akan merasakan rasa yang tak terlupakan dan niscaya akan ingin terus datang.