Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen

Uap kukusan terlihat keluar dari dalam panci. Klaras akan berubah warna dari coklat kekuningan menjadi coklat gelap setelah dikukus.
Lihat Galeri
6 Foto
Kacang tanah sebagai bahan isi kue lompong yang telah disangrai dan siap untuk dihaluskan
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Kacang tanah sebagai bahan isi kue lompong yang telah disangrai dan siap untuk dihaluskan

© Bayu Wira Handyan

Proses penumbukan kacang tanah untuk bahan isi dengan alu dan lumpang agar hasil tumbukan tidak benar-benar halus dan masih menyisakan tekstur kacang tanah tersebut.
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Proses penumbukan kacang tanah untuk bahan isi dengan alu dan lumpang agar hasil tumbukan tidak benar-benar halus dan masih menyisakan tekstur kacang tanah tersebut.

© Bayu Wira Handyan

Sapto mempersiapkan luweng (tungku api berbahan dasar kayu) untuk mengukus kue lompong. Penggunaan luweng ini dimaksudkan agar hasil kukusan pada kue merata. Lama pengukusan berkisar antara 30-45 menit.
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Sapto mempersiapkan luweng (tungku api berbahan dasar kayu) untuk mengukus kue lompong. Penggunaan luweng ini dimaksudkan agar hasil kukusan pada kue merata. Lama pengukusan berkisar antara 30-45 menit.

© Bayu Wira Handyan

Uap kukusan terlihat keluar dari dalam panci. Klaras akan berubah warna dari coklat kekuningan menjadi coklat gelap setelah dikukus.
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Uap kukusan terlihat keluar dari dalam panci. Klaras akan berubah warna dari coklat kekuningan menjadi coklat gelap setelah dikukus.

© Bayu Wira Handyan

Sapto memindahkan kue lompong dari dalam panci kukusan ke atas tampah. Semua alat yang digunakan dalam proses pembuatan kue lompong ini masih menggunakan alat-alat tradisional.
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Sapto memindahkan kue lompong dari dalam panci kukusan ke atas tampah. Semua alat yang digunakan dalam proses pembuatan kue lompong ini masih menggunakan alat-alat tradisional.

© Bayu Wira Handyan

Kue lompong ini sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet dan sanggup bertahan selama 2 minggu jika tidak dimasukkan ke lemari pendingin. Jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin, maka kue ini akan sanggup bertahan selama 1 bulan.
Si Hitam Manis dari Tlatah Bagelen
Kue lompong ini sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet dan sanggup bertahan selama 2 minggu jika tidak dimasukkan ke lemari pendingin. Jika dimasukkan ke dalam lemari pendingin, maka kue ini akan sanggup bertahan selama 1 bulan.

© Bayu Wira Handyan

Bagi sebagian orang yang tinggal jauh dari wilayah eks karesidenan Kedu dan Yogyakarta pasti akan asing saat mendengar nama kue lompong. Memiliki bentuk persegi, kekuatan kue lompong terletak pada manis gula jawa (gula kelapa) dan kacang tanah yang menjadi isi adonannya.

Kue lompong adalah satu dari sekian jenis makanan khas yang berasal dari Kabupaten Purworejo. Kue ini terbuat dari adonan tepung beras ketan dan gula pasir dengan isian gula jawa (gula kelapa) dan kacang tanah yang sudah dihaluskan.

Nama lompong didapat dari lompong hitam yang digunakan kue ini sebagai pewarna. Di beberapa daerah, lompong biasa juga dikenal sebagai lumbu, senthe, atau talas. Proses pewarnaan lompong adalah dengan dilumat untuk kemudian dicampur ke dalam adonan kue yang terdiri dari tepung ketan dan gula pasir. Biasanya, untuk mendapatkan warna yang lebih pekat, bubuk lompong dicampur dengan merang yang sudah dihaluskan.

Kue lompong juga tidak bisa diproduksi di sembarang tempat. Tentu karena tak di semua tempat lompong hitam dapat ditemukan. Makanya, ada beberapa pembuat kue yang berusaha mengakalinya dengan memakai pewarna makanan biasa. Dan tentu dengan hasil yang berbeda, kue lompong dengan lompong hitam asli akan menghasilkan kue lompong hitam yang lebih bagus.

Selain menggunakan lompong hitam sebagai pewarna, yang membuat kue ini menarik adalah bahan pembungkusnya yang masih menggunakan klaras atau daun pisang kering. Beberapa pembuat kue lompong pernah mencoba mengganti bahan pembungkus yang ada dengan plastik atau bahan-bahan lainnya, namun hasil yang didapat adalah kue menjadi lengket dan sulit ketika akan dimakan. Klaras yang digunakan sebagai bungkus kue harus kering secara alami. Bukan kering karena dijemur atau dikeringkan dengan sengaja.

Menurut Sapto, salah satu pembuat kue lompong dengan cara-cara tradisional, penggunaan klaras dalam membuat kue ini menjadi salah satu kunci enak atau tidaknya, serta awet atau tidaknya kue lompong. Penggunaan klaras yang buruk, hanya akan menjadikan kue lompong ini berbau apek dan gampang sayup (busuk). Dengan penggunaan klaras yang sesuai, kata Sapto, selain nantinya kue lompong akan berbau wangi—tentunya wangi khas klaras yang dikukus—juga akan menjadikan kue lompong awet untuk setidaknya dalam jangka waktu satu bulan.

Namun belakangan, proses pembuatan kue lompong mulai menggunakan alat-alat yang lebih modern demi menunjang kecepatan dan tingginya produksi. Meski begitu, tidak bagi Sapto. Ia mengaku masih akan setia menggunakan alat-alat tradisional dalam membuat kue lompong. Alasan pemakaian alat-alat tradisional itu tak lain untuk menjaga rasa kue agar tidak berubah.

Misalnya, ia masih memakai lumpang dan alu dalam proses penumbukan, bukan blender. Cara itu dilakukan agar kacang yang dihaluskan tidak halus benar alias masih bertekstur. Meski lebih efisien dengan blender, namun itu kurang bagus karena kacang tanah yang dihasilkan akan sangat halus. Itu kurang bagus untuk kue nantinya.

“Kalau luweng (tungku api berbahan dasar kayu) dimaksudkan agar hasil kukusan itu lebih merata. Jadi, matang benar dan tetap empuk ketika digigit. Pemakaian luweng juga dimaksudkan agar Kue Lompong tidak mudah basi”, tambahnya.

Untuk soal rasa, kue lompong memiliki tekstur yang kenyal saat digigit. Selain itu, adonan kacang tanah dan gula jawa (gula kelapa) dalam kue menjadikan kue lompong nougat a la tlatah bagelen. Kenyal ketika digigit dengan sensasi manis di dalamnya.

Jika anda sedang dalam perjalanan dan kebetulan melewati daerah Kabupaten Purworejo, tidak ada ruginya untuk mencari kue ini. Namun, sebagai pengingat, tidak semua orang doyan pada kue ini. Setidaknya, begitu pengakuan mereka yang pada akhirnya jatuh cinta pada kue lompong.