Seruput Kenikmatan Sebatok Soto

Pagi itu, Yogyakarta sangat cerah. Saya memutuskan untuk sejenak berjalan-jalan ke sekitaran Yogyakarta. Pilihan saya yang pertama adalah berkunjung ke Candi Sambisari, yang terletak di daerah Kalasan, Yogyakarta.

Saya tak bisa mengajak seorang kawan, yang memang menjadi “pemandu” selama di Yogyakarta. Ia ada urusan pribadi. Jadi, saya putuskan menggunakan jasa ojek online. Di tengah jalan, saya berbincang dengan pengemudi ojek online itu.

Godaan Pengemudi Ojek Online

“Mas, sudah sarapan?” tanya pengemudi ojek online itu.

“Belum, Mas.”

“Mas harus coba soto di dekat Candi Sambisari. Uenak tenan.”

Ia berpromosi. Saya kurang tertarik. Saya pikir, ini hanyalah bualan kemarin sore, hanya untuk mengisi waktu luang saat ia mengantarkan saya ke Candi Sambisari. Lagi pula, di Jakarta banyak sekali soto. Mulai dari soto Betawi hingga Lamongan. Saya benar-benar tak tertarik. Sudahlah.

“Kemarin saya bawa orang Jakarta juga, Mas. Dia ketagihan. Kata dia, di Jakarta soto kayak gitu harganya bisa sampai Rp100 ribuan.”

Kembali si pengemudi ojek online menggoda saya. Kali ini, ia berpromosi soal harga. Saya pikir, di mana-mana soto harganya ya kisaran Rp15 ribuan. Bualannya basi sekali. Ah, sudahlah.

Sekitar 45 menit, kami tiba di Candi Sambisari. Pengemudi ojek online tak lantas menurunkan saya di muka gerbang kompleks candi. Ia membawa saya ke pelipir candi, hampir mengelilingi candi yang hanya “sepetak” itu.

Kami tiba di warung sederhana, ala rumah ndeso. Di sana, sejumlah sepeda motor terparkir tak rapi. Sejumlah pelayan warung berseragam kuning itu sibuk melayani pembeli yang hilir-mudik.

“Ini dia Mas warung sotonya,” kata pengemudi ojek online itu.

Mesin sepeda motornya ia matikan, tak jauh dari warung.

“Nggak deh Mas. Balik lagi ya ke candi,” kata saya.

Tapi, baru saja motor berjalan kira-kira tiga meter, saya berubah pikiran.

“Mas, di sini aja, deh. Saya mau cobain soto itu,” kata saya.

Kami pun berpisah. Saya bayar ia. Ia kasih kembalian ke saya.

Saya pesan satu mangkuk soto, satu peyek, satu sate usus, dan segelas es teh manis. Saya memilih duduk di meja agak belakang. Warung ini menggunakan bangunan mirip pendopo, yang dimanfaatkan untuk pembeli yang gemar makan lesehan. Dan, sejumlah meja-kursi untuk mereka yang tak mau lesehan.

Suasana warung soto
Suasana Warung Soto | © Fandy Hutari

Di kiri-kanan, ada pesawahan, lengkap dengan Pak Tani yang sedang asyik membajak sawahnya. Saya menatap sekeliling. Menarik napas panjang. Mencoba meresapi angin segar yang tak pernah saya dapat di kota besar macam Jakarta.

Soto dalam Batok

Tak lama, datanglah pelayan berseragam kuning. Usianya masih muda. Mungkin sekitar 25 tahun. Ia meletakkan soto, es teh manis, peyek, dan usus di depan saya. Mata saya langsung mengarah ke soto itu.

Saya terperangah. Untuk tak sampai menganga.

Soto itu disajikan di dalam batok berwarna hitam. Sedikit sekali.

Sebatok Soto
Sebatok Soto | © Fandy Hutari

“Mas, nasinya boleh nambah?” tanya saya, seperti orang bodoh.

“Wah, nggak ada Mas. Memang segitu porsinya.”

Ya sudah. Mungkin buat saya, soto sebatok ini habis dalam sekali seruput. Tapi tidak. Ini panas. Bibir saya bisa dower. Saya memutuskan menggunakan sendok untuk menikmatinya.

Ada irisan daging sapi, nasi, jeruk nipis,bawang, seledri, toge, dan kuah yang mengepul. Saya tambahkan sambal, kecap, dan peyek. Tak lupa sate usus yang tadi saya pesan. Hanya lima kali sendok, soto habis. Namun, sensasinya luar biasa. Segar. Maknyus, kata si Bondan Prakoso. Eh Bondan Winarno.

Lalu, saya melihat sobekan kertas menu, berisi daftar menu dan harganya. Hanya Rp5 ribu! Lagi-lagi saya terperangah. Kali ini saya terengah-engah, karena kepedasan dan kepanasan. Murah sekali. Lebih murah dari harga rokok setengah bungkus.

Daftar Menu
Daftar Menu | © Fandy Hutari

Kemudian, mata saya melihat tulisan nama restoran ini: Saotho Bathok Mbah Katro.

Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online. Tak ada kata saotho. Saya duga, mereka salah ketik. Harusnya soto, bukan saotho.

Namun, ketika saya membuka Mbah Google. Mencari tahu dengan menelusuri beberapa artikel. Ternyata, saotho itu sebutan lain untuk soto. Kata ini digunakan di daerah Solo.

Bathok, tentu saja merujuk pada tempat sajian soto itu. Mbah Katro, mungkin saja pendiri warung ini. Katro, dalam bahasa prokem anak-anak muda Jakarta berarti culun. Tapi, sajian kuliner si Mbah tak culun. Ini asyik dan menyegarkan.

Soto ini sangat cocok untuk sarapan. Namun, tak dianjurkan untuk makan siang. Karena nasinya terlalu sedikit. Sebelum meninggalkan warung itu, saya membayar tak lebih dari Rp10 ribu. Sangat murah.

Penyajian soto pun sangat pas untuk dikawinkan dengan suasana alam pedesaan. Kita bisa menikmati sebatok soto, sembari melihat Pak Tani membajak sawah. Amboi.

Fandy Hutari

Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah hiburan, terutama film dan teater masa kolonial.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405