Sepi, Cappuccino, dan Kota Perth yang Melepas Lelah

Dome
Dome, gerai kopi waralaba di pusat kota Perth. © Iqbal Aji Daryono

Saya menulis cerita ini dalam kondisi badan yang begitu penat. Hidup di sebuah kota yang tidak saya cintai, menjalani pekerjaan fisik yang.. haha.. tentu saja bukan passion saya, ditambah setumpuk pikiran buruk, membuat saya tiba-tiba ingin menyepi.

Di Yogya, bila sedang mau sok menyendiri, saya tidak menuju warung kopi. Tempat-tempat keramat semacam warung sate kambing Pak Jito atau gudeg sebelah Bioskop Permata, menjadi jujugan saya. Adapun warung kopi menjalankan peran peradaban yang berbeda. Vito Cafe Seturan, misalnya, jadi andalan saya untuk tempat menulis atau menyunting naskah. Kedai Kopi Jalan Kaliurang, nah, itu meeting point buat kumpul sama teman-teman.

Tapi ini Perth, bukan Yogya. Salah satu kota penting dari sebuah negara yang konon maju, tapi Anda perlu tahu bahwa kemajuan tidak melulu berbanding lurus dengan beragamnya pilihan.

Maka, saya menuju Dome. Ini nama kafe, gerai kopi waralaba, yang cabangnya ada banyak di sekujur Perth. Kali ini saya pilih yang gampang saja, di city center, pusat kota. Itu tak jauh dari dock (pool) truk tempat saya bekerja. Cukup 15 menit perjalanan, sejalur menuju rumah, sementara tak jauh darinya ada jajaran tempat parkir sepanjang Swan River yang gratis di atas jam enam.

Dengan badan masih lengket oleh keringat, dengan sepatu bulukan yang ujungnya berlapis lempeng besi pengaman, saya melangkah masuk ke kafe cantik ini.

“Cappuccino, regular cup, please,” kepada mbak-mbak berwajah Asia Timur itu saya memesan. Entah mengapa banyak cabang Dome yang mempekerjakan orang Asia.

Dome
Pelayan kafe Dome sedang menerima pembayaran dari pengunjung lokal. © Iqbal Aji Daryono

Cappuccino menjadi pilihan saya, sebab tentu saja tak ada Aceh Gayo atau Flores Bajawa. Saya juga memesan sandwich wrap vegetarian. Yah, sekadar formalitas. Perut memang tak lapar, tapi rasa sepi tak boleh dikombinasi dengan sikap pelit pada diri sendiri.

Saya sodorkan 15 dolar, sembari bertanya mereka tutup jam berapa. Lalu saya menunggu, memilih duduk di kursi luar.

* * *

Perth yang bubaran. Dari tempat duduk di emperan Dome, saya sedang memandang sebuah kota yang melepas letihnya. Ini Jumat malam. Saat ini semua orang sedang ingin lupa, bahwa sepanjang lima hari terakhir mereka adalah zombie-zombie yang memeras pikiran dan tenaga dengan amat sadisnya.

Karena ini City Center, daerah perkantoran dan kerja-kerja alusan, layar yang terbentang di depan saya adalah kibasan aroma rapi dan wangi. Selain mobil-mobil yang melesat, taksi-taksi, bus-bus Transperth yang hijau itu, beberapa motor gede, tampak pula satu-dua lelaki dengan tampilan eksekutif muda. Mereka berjalan cepat di trotoar.

Di sisi sebelah sana para perempuan dengan kostum yang agak rapi (untuk ukuran orang Perth, yang dalam soal berpakaian kadang semaunya itu) juga bergegas dengan menjinjing tas. Mereka mau pulang, pastinya. Mengejar bus, atau kereta.

Tidak semuanya memilih pulang. Tepat di seberang jalan depan Dome, puluhan orang nongkrong dan tertawa-tawa. Di atas mereka sederet huruf menyala: Public House Kitchen & Bar. Jauh lebih rame ketimbang Dome. Ya, sebab ada alkohol di sana, menu wajib di malam akhir pekan.

Sambil membayang-bayangkan apa yang tengah orang-orang itu obrolkan dengan begitu riuhnya, tersapu penampakan beberapa jenis manusia lain melintas di depan saya. Baju-baju mereka sudah bukan baju kantoran lagi. Mungkin mereka mau dugem, atau bergabung di bar-bar lainnya.

Dari arah barat, seorang gelandangan lusuh berjalan terbungkuk sambil mengangkat tas-tas ukuran besar. Ya Tuhan, ini Perth di Australia, atau.. Jakarta?

Menolehkan kepala ke arah timur, saya lihat sepelemparan batu di sana, gedung Grand Lodge Freemason Western Australia tampak senyap, angker, dan gelap. Ya, loji Freemason Australia Barat. Saya yakin, di ruangan bawah tanahnya sedang berlangsung ritual memuja setan, atau penyembelihan manusia korban persembahan. Biar saja, suka-suka mereka.

Dome
Cappucinno, sandwich wrap vegetarian, dan novel Lasmi. © Iqbal Aji Daryono

Cappucino saya datang. Segera saya sambar. Saya hirup baunya. Saya jilati taburan choco granule di atasnya. Saya seruput ia pelan-pelan… mengendapkannya sesaat… menunggu kafein menyebar ke seluruh jaringan saraf.

Kadang saya heran. Tuhan mencipta keajaiban selezat kopi, tapi kenapa dunia ini masih saja mengenal istilah ‘sepi’?

Saya seruput lagi sampai tinggal separuh itu kopi. Kemudian membuka HP, dan mulai mengetik paragraf-paragraf ini.

* * *

Sorry, can I blablabla these all?” Si Mbak Berwajah Asia itu datang, entah bilang apa. Yang jelas dia mau membersihkan meja saya. Saya tengok arloji di tangan, jarum jam bertengger di posisi 7.50. Tinggal sepuluh menit lagi, dan Dome harus kukut. Menutup pintu-pintunya bagi siapa pun, bahkan mungkin bagi lelaki lain yang jauh lebih kesepian dibanding saya.

Sebagai sesama orang Asia saya pun tahu diri, dan lekas berdiri. Menutup HP, menenteng novel berjudul Lasmi yang sedianya mau saya baca (tentu berakhir sebagai obral janji belaka), dan melangkah menuju parkiran di mana mobil berada.

Ingin saya mengucap selamat malam kepada Si Mbak Berwajah Asia itu, tapi.. saya urungkan niat saya.

Selamat malam? Tak ada selamat malam di Perth. Ketika pada pukul 19.50 cangkir-cangkir kopi sudah diberesi, dan tepat jam 20.00 pintu-pintu kafe sudah ditutupi, lantas apa yang bisa kau selamati dari sebuah malam?

Iqbal Aji Daryono

Sopir truk, sementara ini ngekos di Perth, Ostralia. Bisa ditemui di akun Fesbuk-nya.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405