Sepenggal Kisah dari Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng
Pantai Ujung Genteng | © Irfan Teguh Pribadi

Kisah ini ditulis untuknya, seorang serdadu muda angkatan udara yang bertugas di pantai Ujung Genteng. Ia yang kamu tak tahu namanya, berjaga di garis barat pantai selatan Jawa. Kamu bisa saja bertanya atau menatap lekat tulisan namanya di baju seragam, namun itu tak kamu lakukan. Alasannya hanya satu, kamu enggan dianggap macam-macam dan dikira wartawan.

“Kang, ikut berteduh, ya?”

“Oh, iya silakan, Mas,” jawabnya sopan.

Usianya di bawahmu dan belum masuk kepala tiga, begitu kamu mengira-ngira. Ia bertugas di pos perwakilan TNI AU Ujung Genteng Lanud Atang Sendjaja. Selama lebaran dan seminggu setelahnya, ia piket mengawasi pesisir selatan Sukabumi. Berjaga penuh di garis depan pantai selatan Jawa dari segala ancaman dan marabahaya.

“Baru setahun saya bertugas di Ujung Genteng, tapi sering juga pulang ke Bogor, ke Atang Sendjaja. Kalau ke Madiun mah ya jarang sih,” ujarnya.

Mata serdadu muda itu (barangkali) memancarkan kerinduan pada Madiun, rumahnya nun jauh di timur, ketika Ujung Genteng justru tengah dipenuhi para pelancong yang berlibur dua hari pasca lebaran 1438 H.

Pos Jaga Serdadu Muda
Pos Jaga Serdadu Muda | © Irfan Teguh Pribadi

Pantai Ujung Genteng terletak di Kabupaten Sukabumi. Berjarak lebih dari 100 kilometer dari pusat kota, dan ditempuh 3-4 jam perjalanan darat. Jika dibandingkan dengan Pangandaran, Santolo, Rancabuaya, dan pantai-pantai lain di selatan Jawa Barat, akses ke Ujung Genteng lebih semenjana, oleh karenanya kurang populer.

Rumahmu yang jaraknya hanya 45 menit dari Ujung Genteng, membuat perjalanan di atas motor lebih santai. Siang itu, setelah pamit kepada orang rumah, dengan mengenakan sandal jepit dan bekal seadanya, kamu pergi ke selatan, hendak mengenang masa kecil ketika pergi ke pantai hanya ditempuh dengan sepeda.

Hari begitu terik dan angin berhembus lembab khas pesisir. Serdadu muda nikmat menyesap kopi, sementara kamu berkali-kali menenggak larutan Isotonik yang menyegarkan. Ketika matahari mulai tergelincir, kamu pamit dan melanjutkan perjalanan ke arah dermaga, tepatnya bekas dermaga yang hanya menyisakan reruntuhan.

Motor diparkirkan di dekat sebuah warung, dan kamu dengan kaki telanjang menuju dermaga itu, tempat terakhir kali kamu berkumpul dengan kawan-kawan Madrasah Tsanawiyah, sebelum merantau melanjutkan sekolah ke Kota Sukabumi.

Mercusuar dan hamparan pohon di bawahnya terlihat di kejauhan. Di sekitar pohon-pohon itu terdapat gua peninggalan zaman Jepang. Sementara waktu seperti meluncur deras ke belakang, saat kamu dan kawan-kawanmu berjanji untuk tidak saling melupakan. Kini sembilan belas tahun setelah perpisahan itu, hanya segelintir saja yang masih bisa dihubungi, itu pun lewat media sosial. Betapa keadaan telah bersalin rupa, mengiris nasib dan kesunyian masing-masing.

Ombak terus bergulung, sayup-sayup di kejauhan terdengar azan asar. Kamu mulai meninggalkan dermaga, dan bersiap pulang ke rumah. Belum begitu jauh dari Ujung Genteng, tiba-tiba kamu teringat cerita bibimu tentang Jaringao.

“Di Ciracap ada kampung Jawa, datanglah ke sana, temui para orangtua, dan minta mereka berkisah tentang para leluhurnya yang dibawa paksa oleh Belanda dari kampung halamannya,” ucap bibi sekali waktu.

Ujung Genteng masuk ke dalam Kecamatan Ciracap, artinya Jaringao yang bibimu katakan itu tentu tidak terlampau jauh. Sebelum melewati sungai Ci Karang, kamu berhenti di sebuah warung dan bertanya ihwal Jaringao.

“Masuk saja terus, nanti setelah jalan makadam akan ada jalan bagus beraspal, dari sana terus saja lurus, nanti kalau sampai di perkampungan tanya lagi ke orang di sana,” ujar penjaga warung ramah.

Konon Jaringao adalah kampung tempat dulu orang-orang dari Jawa Tengah dibohongi kaum kolonial. Mereka dijanjikan akan dibawa ke Kalimantan dan dipekerjakan di sana, namun ketika kapal yang membawa mereka singgah di Ujung Genteng, Belanda memberitahu bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Lalu mereka ditempatkan di sebuah tempat tidak jauh dari bibir pantai dan berbatasan dengan perkebunan kakao dan kopra. Mereka dipekerjakan di sana, menetap dan beranak-pinak.

Marga C. Kerkhoven dalam buku Our Family Tree: A History of Our Family menceritakan bahwa dulu di Citespong, kampung dekat Jaringao, ada sebuah perkebunan kakao yang dimiliki oleh orang Amerika. Hasil perkebunan tersebut diangkut ke dermaga Ujung Genteng dengan memakai lori. Tidak jauh dari sana, terdapat hutan yang bernama Cibanteng dan Cikepuh. Di sanalah dulu para juragan perkebunan Priangan melepaskan hasrat purba, berburu banteng dan hewan liar lainnya.

Setelah bertanya kepada ibu-ibu penggembala kambing, akhirnya kamu sampai di Jaringao. Warung adalah kunci, agar kamu bisa memesan kopi sachet sambil banyak bertanya kepada penjualnya.

“Sedari usia sekolah dasar saya sudah tinggal di sini, kira-kira sejak tahun 1960-an. Kata para sepuh, di sini dulu banyak orang Jawa yang hendak pergi ke Borneo, tapi oleh Belanda diturunkan di Ujung Genteng,” ujar pemilik warung itu.

Karena tak banyak yang ia ketahui, kamu akhirnya pamit dan mencari warga lain yang usianya lebih tua, berharap mendapatkan kisah yang agak banyak tentang orang-orang Jawa yang mula-mula bermukim di Jaringao.

Citespong kini sewujud perkebunan kelapa yang dimiliki oleh perusahaan Asaba Land. Kamu menembus perkebunan itu lewat jalan yang berdebu, sementara hari sudah semakin petang. Di ujung perkebunan yang ditandai dengan perkampungan, kamu kembali singgah di sebuah warung. Kali ini tanpa memesan apa pun, setelah mengucap salam dan memperkenalkan diri, kamu langsung bertanya kepada seorang ibu tua yang menunggu warungnya dengan wajah seperti mengantuk.

“Seingat ibu dari dulu memang banyak orang Jawa di sini. Sekarang pun masih ada, hanya saja karena sudah lama di sini ya sudah susah dibedakan, karena semuanya sudah bicara dalam bahasa Sunda,” ujarnya.

Ibu itu kemudian bercerita bahwa ketika ia kecil, tetangga dan kawan-kawannya di sekolah memang banyak orang Jawa, khususnya dari Cilacap dan Kebumen. Soal sejarah kedatangan mereka pun sama seperti yang diinformasikan oleh bibimu dan warga di warung pertama yang tadi kamu tanya.

Dalam perjalanan pulang benakmu melayang-layang ke masa yang tak pernah kamu singgahi, membayangkan orang-orang yang tercerabut dari kampung halamannya, lalu terdampar di tempat antah berantah tanpa mereka ketahui medan kehidupannya. Barangkali di waktu-waktu permulaan ketika mereka menjejak Ujung Genteng dan Jaringao, orang-orang itu tenggelam dalam rasa asing dan kerinduan yang mencekik.

Dan hari ini ketika kamu telah kembali ke Bandung, di perantauan yang dipisah ratusan kilometer, kamu teringat serdadu itu. Maka dalam remang bahasa kisah ini ditulis untuknya, seorang serdadu muda angkatan udara yang bertugas di pantai Ujung Genteng. Ia yang kamu tak tahu namanya, berjaga di garis barat pantai selatan Jawa.

Irfan Teguh Pribadi

Menulis di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Komunitas Aleut.