Sepasang Kekasih dan Dua Pria di Vito

Vito Coffee Shop
Espresso @Vito © Danu Saputra

A day without coffee is like year without sunshine.

Kalimat inilah yang menyambut kedatangan saya saat berkunjung ke sebuah coffee shop di Jalan Seturan Raya No 399 A, Yogyakarta.

Vito: Internet & Coffee Shop. Dari namanya kita tentu sudah bisa menebak jika Vito mencoba memadukan antara coffee shop dan akses layanan internet. Tentu saja saya jadi bertanya-tanya. Di banyak kedai kopi yang berkonsep modern layanan internet bukankah sudah menjadi standar layanan? Di warung internet pun banyak yang menyajikan minuman dan hidangan sebagai menu tambahan?

* * *

Awalnya saya khawatir tak bisa mendapat tempat duduk sembari menikmati kopi. Begitu banyak motor di halaman depan Vito. Saya coba mengintip bagian dalam coffee shop ini dari jendela kaca. Terlihat tak begitu banyak orang yang duduk di coffee shop. Saya pun memutuskan masuk.

Pintu kaca yang berpola kupu tarung sedang rusak di satu sisi. “Pintu rusak.” Tulisan itu tertempel di pintu sebelah kanan. Di bawahnya ada keterangan supaya pintu di sisi kiri yang dibuka. Saya membuka pintu sebelah. Tak sampai sepuluh orang ada di Vito saat saya datang. Dua orang lelaki sedang berselancar dengan menggunakan komputer jinjing dengan lambang apel tergigit menyala. Sepasang kekasih sedang berada di sebelah kiri. Mereka sedang menonton film.

Jangan terkecoh seperti saya. Di teras hampir selalu terlihat banyak motor sedang parkir. Namun kebanyakan yang memarkirkan motor berada di lantai dua, tempat internet disediakan. Coffee shop yang buka 24 jam non stop selama sepekan ini terbagi menjadi dua lantai. Di lantai pertama tersedia coffee shop dan di lantai dua tersedia layanan internet. Terdapat 31 bilik internet yang bisa digunakan pengunjung.
Vito Coffee Shop
Vito © Danu Saputra

Sofa-sofa nan nyaman berwarna merah terdapat 30 buah. Dindingnya pun berwarna abu-abu dengan atap merah muda. Nuansanya gelap. Di salah satu sudut ruangan dipajang kopi dari berbagai daerah berikut dengan grinder manual di sisinya. Hanya lampu temaram yang menjadi penerang ruangan. Keakraban di antara pengunjung pun bertambah. Suasana ini pas pula bagi seseorang untuk mengusung pekerjaan dari kantor. Akses internet yang melaju kencang dan stabil akan membantu terlaksana pekerjaan tanpa ada gangguan koneksi.

Di belakang meja kasir, Didi Setiawan, yang mengenakan baju lengan panjang berwarna merah langsung menyambut. Ia memberikan daftar menu yang bisa dipesan di Vito. Menu best seller di kedai ini dipampang di belakang kasir. Chocolate banana. Vietnam Kopi. New Zealand delight. Thai milk tea. Ada pula makanan khas Italia, Bologna spaghetti dan prata chicken curry.

Dalam daftar menu saya melihat satu menu yang disisipkan tersendiri. White coffee. Kopi ini tentu bukan dari kopi kemasan sebagaimana kita lihat di iklan di televisi. “Dibuat dari biji kopi yang digongseng (roasted) tidak sampai masak, sehingga menghasilkan biji kopi yang berwarna lebih terang….” Sebuah keterangan di daftar menu menarik perhatian. “Chocolate bukan hanya memberikan rasa senang dan memberi sensasi luar biasa, … membuat detak jantung meningkat, bahkan hasil penelitian ilmuwan dari Inggris Dr. David Lewis (pakar psikologi), rasa chocolate ternyata memberikan sensasi yang lebih dahsyat dibanding ciuman.”

Malam telah larut. Saya membutuhkan minuman hangat. Kopi memang mengandung kafein yang membuat mata jadi terjaga, tapi saya memesan Chocolate dahulu. Barangkali saya bisa mendapat sensasi dahsyat seperti kata Dr. David Lewis.

* * *

Saya duduk di bagian ujung. Note book saya keluarkan dari tas. Pesan singkat yang masuk di telepon genggam mengabarkan seorang kawan telah mengirim surat elektronik. Saya butuh untuk membacanya.

Tak lama kemudian Didi mengantarkan menu pesanan. Saya meminta password agar bisa terhubung dengan internet. Dia bertanya, “Mau yang berbayar atau yang free?” Ia lanjut memberi penjelasan, kalau yang prabayar cukup 15 ribu bisa akses internet selama empat jam dengan kecepatan 150 KBS. Empat jam itu bisa digunakan lain waktu pula. Sedang untuk akses gratis memang standar. Saya memilih yang kedua, saya hanya membutuhkan sekedar mengecek email.

Vito Coffee Shop
Suasana ngopi di Vito © Danu Saputra

Dia minta ijin untuk mengambil password. Ia pun berjalan ke bagian kasir dan mengambil secarik kertas. Di secarik kertas itu ada password yang membuat saya terhubung dengan dunia maya. Saya tak lama berada di dunia maya. Hanya butuh sekian menit untuk mengecek email. Setelahnya, notebook saya matikan.

Di depan saya televisi layar lebar sedang memutar film. Sepasang kekasih tampak makin mesra menyatu dengan suasana ruangan yang hangat. Si wanita barangkali sedang kelelahan. Dia tertidur di pangkuan sang lelaki yang serius menyaksikan film yang berlangsung.

Saya minum chocolate selagi hangat. Manis dan pahitnya cokelat terpadu dengan pas. Hmmm, tapi saya enggan berkomentar soal hasil penelitian Dr. David Lewis.

* * *

Film merupakan salah satu bagian dari kelebihan Vito. Terdapat banyak film tersedia, dari drama Korea, Barat, Animasi, Mandarin, dalam negeri dan masih banyak lagi. “Ada berapa koleksi film di coffee shop ini,” saya bertanya pada Didi. Ia kesulitan untuk menjawab. Ia tak tahu persisnya ada berapa. “Ratusan mungkin,” katanya. “Soalnya film-film itu disimpan di hard disk di lantai dua.”

Pengunjung bisa memesan melalui kasir, jika judul film yang hendak ditonton telah diketahui. Tapi bila tidak tahu, pengunjung bisa naik ke lantai dua dan melihat-lihat koleksi yang tersedia. Bila hendak menonton layaknya di bioskop, tinggal bilang saja pada kasir. Dia akan memutarkannya melalui layar lebar yang tersedia di Coffee shop.

Vito Coffee Shop
Suasana ngopi di Vito © Danu Saputra

Coffee shop ini pun menyediakan ribuan lagu, anti virus dan e-book yang bisa dipesan. Atau jika hendak memilih-milih dulu pengunjung bisa naik ke lantai dua untuk bisa melihat-lihat menu tambahan di Vito. Saya tak sempat mencicipi White Coffee pada kunjungan pertama namun memilih espresso. Dari varian inilah aneka menu kopi dibikin. Tak lama kemudian Didi membawakan espresso yang disajikan dalam wadah 45 milimeter. Cara otomatis digunakan di coffee shop ini. Kebaikannya standar rasa akan terjamin, tidak ditentukan oleh barista. Meskipun barista sedang galau rasa kopi tetap terjaga.

Sebelum meninggalkan Vito, saya melirik ke samping. Wanita masih terlelap, dan si lelaki masih menonton film. Sedang dua lelaki dengan laptop masih duduk di tempat yang sama. Mereka teramat asyik dengan laptopnya masing-masing hanya sesekali mereka terlihat mengobrol.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.