Sepanjang Jalan Kenangan, Jalan Alkateri

Purnama di malam hari
Purnama di malam hari | © Fransisca Agustin

Menyusuri Jalan Alkateri, terlihat deretan toko gordyn dan toko permadani. Para pemilik toko duduk di belakang meja, seperti yang mereka lakukan setiap hari selama berapa dasawarsa. Dari Senin sampai Minggu, bahkan di hari libur. Mereka, orang-orang yang justru akan gelisah jika diajak liburan dan harus tutup toko. Dedikasi rutinitas, yang tak akan pernah bisa aku pahami.

Sebelum berbelok ke warung kopi, tepat di seberangnya terlihat plang ronde jahe Alkateri yang masyhur seantero kota. Ingin sekali aku pesan, atas nama kenangan. Sayang, sekarang masih pagi, belum buka. Lain kali saja.

Warung kopi Purnama. Satu-satunya warung kopi legendaris di Bandung. Aku menarik kursi di pojokan, berhadapan dengan meja kasir. Pelayan muda menyerahkan menu. Ada yang berubah sedikit. Tapi tetap terasa ganjil di dunia Pecinan dengan aura rutinitas yang pekat. Seingatku dulu rotinya memakai roti Sumber Hidangan, bakery purba jaman Belanda yang padat dan tanpa bahan pengawet. Sekarang bentuk rotinya lain, seperti roti Djie Seng. Sebuah pabrik roti tua yang kini sudah membuka banyak cabang. Cabang-cabang itu dibuka oleh anak cucunya, dengan ditambah inovasi rasa yang macam-macam. Yang jelas roti Djie Seng lebih lunak dan lebih manis. Terlalu lunak untuk dibuat sandwich, dan terlalu manis untuk diberi selai srikaya, selai home-made ciri khas Purnama.

Lagu yang dipasang? Ah, bossa nova. Jenis lagu andalan yang memang cocok untuk kedai kopi minimalis modern, tapi terasa ganjil ketika mengudara di langit-langit tinggi bangunan arsitektur jaman kolonial, yang menjadi saksi pergolakan Pecinan sejak tahun 1930—termasuk kerusuhan rasial pada 10 Mei 1963, kerusuhan rasial terbesar dalam sejarah Bandung, yang disulut oleh pertengkaran intern antar mahasiswa ITB tapi merembet keluar kampus sampai ke alun-alun dan sekitarnya. Adegan demi adegan melintas di depan mata. Mama yang sembunyi di selokan, Papa yang putus sekolah…

Toko kelontong sepupu Papa masih berdiri di Belakang Pasar, tapi tak selaku dulu. Bersebelahan dengan Babah Kuya, toko jamu yang justru makin perkasa setelah hampir satu abad. Dulu, ketika Kakek baru datang dari Fujian, Kakek bekerja membantu toko adiknya itu. Jaman kejayaan, karena belum ada supermarket yang menjual daging dan manisan kalengan impor dari RRT, juga arak beras ketan dan lap cheong (sosis babi tradisional) buatan sendiri. Nenek ikut memasak sosis dari usus babi, diisi daging cincang dan potongan lemak babi yang sudah dibumbui, lalu dipanggang. Sayang, masa keemasan yang tidak bertahan tiga generasi. Kini kami tak ada yang bisa membuatnya.

Bubur kampung
Bubur kampung | © Fransisca Agustin

Pesananku datang. Bubur ayam. Seorang bapak paruh baya mengantarkan bubur ayam dari luar, memakai nampan. Mang Lili. Lebih murah kalau makan di luar, dekat roda kaki limanya. Tapi tidak nyaman untuk bernostalgia. Kopi tubruk (Rp14.000) dan pisang goreng (Rp16.000) menyusul. Kopi Medan yang sangat kental. Dedaknya mengendap, hampir seperempat cangkir. Pisang gorengnya, ah, sudah berubah. Tak lagi goreng tepung yang panas dan renyah. Lenyap sudah, semenjak Bi Iti, tukang gorengan penyuplai yang berjualan di depan, wafat sekitar setahun yang lalu. Kini diganti pisang goreng gepeng setengah sale, yang disajikan dingin.

Seorang bapak tua masuk, menenteng rantang besar isi kue jajanan pasar. Setiap pagi, beliau datang berjualan, menyusuri meja satu-persatu. Saya membeli dua buah onde-onde dan nagasari.

Bapak tua penjual jajanan pasar
Bapak tua penjual jajanan pasar | © Fransisca Agustin

Pengunjung ramai. Ini adalah kedai kopi dengan jam kerja paling panjang: buka jam 6.30 pagi, tutup jam 10 malam! Kedai kopi modern biasanya buka tengah hari, sebagian bahkan baru buka pukul 3 sore. Mungkin dengan pertimbangan, pagi hari biasanya orang terlalu terburu-buru untuk ngopi di luar sebelum masuk kerja.

Tapi Pecinan punya rutinitas sendiri. Orang-orang biasa bangun pagi. Toko-toko sepanjang Jl. Alkateri, Jl. ABC dan Jl. Suniaraja buka jam 9-10. Para pemilik, yang kebanyakan sudah bercucu, lebih rindu teman mengobrol, daripada orang muda. Masa-masa sepi ketika anak-anak sudah menikah semua dan berkunjung paling di akhir pekan. Empty nests, jadilah warung kopi Purnama menjadi tempat berkumpul para bapak dan ibu paruh baya di pagi hari setelah mereka jogging atau senam.

Saya pernah mendengar, sekitar pukul 7-8 pagi, banyak janda dan duda paruh baya menjadikan Purnama sebagai tempat mencari jodoh. Jam 10 – 3 sore warung agak sepi. Lalu setelah jam 4, ada langganan rombongan lain. Biasanya bapak-bapak. Mungkin sekali mengaso sehabis tutup toko di sekitar situ.

Saya tidak bertemu mereka kemarin. Saya perhatikan, dua meja orang-orang muda yang memesan dengan terlebih dahulu membuka instagram dan memberikan gambarnya pada pelayan, “Ini menu yang mana, Mas? Saya mau pesan yang seperti ini.” Penting dicatat, ini adalah satu-satunya warung kopi di Bandung yang menyediakan menu makanan tidak halal. Terbaca jelas di menu, nasi sekba (Rp30.000), nasi bakut (Rp35.000), bacang sekba (Rp30.000).

Selesai makan, saya berangkat mengajar. Murid saya hanya dua, ibu-ibu usia 64 dan 70 tahun. Yang satu pemilik toko buku di Jl. Jendral Sudirman, satu lagi pemilik toko gordyn di Jl. Alkateri. Sudah 12 tahun mereka belajar guzheng (kecapi cina). Tapi kami lebih banyak bercerita daripada belajar.

Jl. Alkateri, 26 Mei 2016. Jam 7 malam.

Sepanjang jalan sepi. Juga gelap. Hanya ada dua toko gordyn yang masih buka. Mungkin kebetulan ada pembeli dari luar kota yang belum selesai transaksi. Menjelang puasa penjualan gordyn selalu meningkat untuk menyambut Lebaran.

Orang-orang duduk menunggu ronde di mulut gang Al Jabri
Orang-orang duduk menunggu ronde di mulut gang Al Jabri | © Fransisca Agustin

Warung Kopi Purnama masih buka, tapi saya bukan hendak ke sana. Saya memarkir motor di seberangnya. Ronde jahe Alkateri. Tempatnya sangat kecil. Dalam gang Al Jabri. Kios yang dijaga dua mbak manis hanya berukuran 3 x 2 meter. Pembeli duduk di seberangnya, hanya cukup paling untuk 10 orang.

Kuahnya bisa memilih kuah gula merah atau gula putih. Jahenya bisa tambah dari botol kecap plastik. Rondenya bisa memilih ronde kecil polos semua, ronde kacang semua, atau ronde campur. Harga rata, Rp16.000.

Butiran kacang kasar di dalam
Butiran kacang kasar di dalam | © Fransisca Agustin

Keluarga Encim ronde jahe sudah membuka cabang-cabang lain di Bandung. Tapi buatan Encim di sini yang paling enak. Sulit dipahami, mengingat mereka hanya menjual ronde. Bahannya cuma tepung ketan yang diisi kacang tanah. Kuahnya hanya jahe dan gula merah, tambah sedikit serai dan daun jeruk. Tapi kacang tanahnya berbeda. Butirannya agak kasar, pertanda tidak diblender. Warnanya agak coklat seperti diberi gula merah dan bukan gula putih seperti di resep umum. Beda supplier kacang tanah atau ganti merk gula merah saja, mungkin bisa membuat rasanya berubah drastis.

Tak henti orang membeli ronde, baik makan di tempat ataupun dibungkus. Di benak saya berkelebat bayangan saya, usia sekolah dasar, malam-malam duduk di sini dengan dua kakak dan orang tua. Lebih dari dua puluh tahun lamanya, saya tidak pernah kemari lagi. Entah kenapa.

Jalan Alkateri, tempat di mana waktu berjalan lambat, bersama serangkaian pahit manis kenangan masa kecil.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405