Sensasi Mandi Kopi di Kebun Kopi Blawan

Rabu, 22 April 2015, merupakan peringatan Hari Bumi.

Satu hari sebelumnya, muncul keinginan dalam benak saya untuk bisa melakukan sesuatu, tentunya yang berhubungan dengan alam. Setelah membayangkan banyak hal, pikiranku tertuju pada kopi. Pasti sangat nikmat minum segelas kopi di alam terbuka.

Lalu saya bercerita —via BBM (Blackberry Massangger)— mengenai keinginan saya tersebut pada seorang teman, Heri. Ia baru beberapa bulan pulang dari Malaysia. “Her, ayo jalan-jalan. Besok hari bumi, kayaknya enak minum kopi di alam terbuka,” pesanku pada Heri. Agak lama Heri tak membalas pesanku. Kukirim lagi pesan: “PING!!!”. Kemudian ia langsung membalas, “Mandi kopi saja ayok, di Blawan.”

Booh. Ketika mendengar kata “mandi kopi”, saya langsung membayangkan seperti halnya orang kaya mandi susu. Dalam sebuah bak mandi, air dicampur dengan kopi. Tapi ternyata bayangan saya sesat, bukan itu yang dimaksud Heri. Dia mengajakku menikmati kopi sambil berendam air panas alami di alam terbuka, tentunya sambil menikmati keindahan alam yang masih jauh dari polusi. Oke, fix.

Rabu pagi, sekitar jam 7.30 kami berangkat berdua saja, layaknya orang ngapel, ke Blawan. Bagi kami, tempat itu tidaklah asing. Karena ketika SMA, saya, Heri, dan teman-teman lainnya sering ke Blawan saat akhir pekan, atau pada jam sekolah. Mungkin itu termasuk bolos.

Untuk sampai ke Blawan, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dari desa tempat tinggal saya (Wonokusumo), dengan sepeda motor. Kalau dari Pusat kota Bondowoso, membutuhkan waktu sekitar 2 jam, itupun kalau tidak ada polisi jalanan yang malakin. Jalan yang harus kami lewati sudah cukup bagus. Tapi ketika masuk ke Daerah Blawan, bersiaplah menghadapi goncangan, karena jalan terbuat dari tatanan batu yang tidak rata.

Sekitar jam 9.00 kami sampai di lokasi. Ternyata cukup ramai orang yang ngopi di pendopo dandi kolam air panas. Karena sudah lama tak berkunjung ke tempat itu, saya dan Heri memutuskan untuk jalan-jalan sejenak. Kondisinya masih sama ketika saya terkahir ke sana. Hutan yang lebat, kebun kopi, kubis, lombok, masih menjadi wajah lama. Hanya ada beberapa fasilitas yang mulai rusak, seperti jalan dan tangga ke gua kapur. Di sekitar warung kopi memang ada peninggalan bersejarah.

Beberapa tempat bersejarah yang cukup menarik tersebut, antara lain; gua kapur, yang konon adalah tempat persembunyian Damarwulan ketika dikejar-kejar oleh Minak Jinggo. Ada juga kolam air panas di jalan menuju gua kapur. Konon, kolam tersebut adalah tempat Damarwulan menyucikan diri. Selain itu, terdapat juga makam leluhur, dan ada beberapa wisatawan yang datang sambil berziarah.

Sewaktu di gua kapur, saya bertemu dengan sorang lelaki —seumuran bapak saya—, namanya Pak Tono. Ia bersama temannya dari Banyuwangi, dengan tujuan ziarah dan berendam air panas. Kami berkenalan, sedikit ngobrol tentang tempat itu, lalu ia mengajakku kembali ke pendopo untuk minum kopi bersama.

Minum Kopi
Heri dan pak Tono sedang bercengkrama sambil minum kopi. © Hudi Majnun
Kopi Arabika
Kopi arabika manis dan pahit. © Hudi Majnun

Sampai di pendopo, kami duduk bersama dan memesan tiga gelas kopi. Heri memesan yang biasa, saya dan Pak Tono memesan yang sedikit gula, agar rasa kopinya lebih terasa. Kopi yang disajikan adalah tanah Belawan sendiri, yaitu Arabika. Beberapa saat kemudian, Pak Faruk —penjaga tempat tersebut— mendekat dan ikut berbagi cerita. Kami menyambutnya dengan hangat.

Kehadiran Pak Faruk membuat pembicaraan semakin hangat, karena ia merupakan orang asli Blawan. Ia merupakan penjaga sejak tempat tersebut dibuka, yaitu tahun 2000, bersama dengan istrinya (Hj. Maymunah). Mereka adalah pasangan yang berjasa membabat tempat tersebut. Istrinya mulai membuka warung sejak saat itu juga. Tidak hanya kopi yang dijual, ada minuman lain seperti; teh, susu, minuman rasa-rasa, dan makanan, seperti; keripik, krupuk, mie, dan nasi.

Kami berbagi bercerita mengenai mitos-mitos dan sedikit sejarah tempat tersebut. Menurut Pak Faruk —yang ternyata sudah naik haji—, Blawan berasal dari kata berlawan atau berlawanan. Ia mengartikan istilah tersebut sebagai pertarungan yang terjadi antara Damar Wulan dan Minak Jinggo. Artinya, Damarwulan dan Minak Jinggo itu berlawanan, entah pemikiran atau ilmu Kanuragan yang dimiliki, sehingga mereka bertengkar. Oleh sebab itu, tempat tersebut diberi nama Blawan.

Pabrik Kopi Kebun Blawan
Pabrik Kopi Kebun Blawan © Heriyanto

Blawan bukan hanya sedakar perkebunan, di tempat tersebut pemukiman rumah warga sudah mulai cukup padat. Rata-rata, orang yang tinggal di perkampungan tersebut bekerja di kebun. Perkebunan terus dikembangkan sedemikian rupa. Selain kopi, PTPN juga membuat kebun jeruk dan strawberry. Terdapat juga lahan yang ditanami berbgai jenis sayur, seperti kubis, lombok, wortel, dan sebagainya.

Blawan merupakan tempat penghasil kopi yang terus berkembang, baik dari pengolahan, manajemen, dan penghasilan. Pada 1996, Perkebunan Blawan secara resmi dikelola oleh PTPN XII. Pada 1998 mampu melahirkan Java Coffee Blawan ,yang merupakan produk andalan Perkebunan tersebut. Lahirnya Java Coffee Blawan ditandai dengan diakuinya sebagai specialty coffee oleh Specialty Coffee Association of America (SCAA). Namun, orang-orang asli Blawan tidak bisa menikmati kopi hasil tanahnya sendiri, karena ada larangan dari pihak PTPN XII.

“Kalau orang sini ingin menikmati kopi hasil perkebunan, ya harus sembunyi-sembunyi. Atau bisa beli milik PTP yang sudah dikemas tapi mahal,” kata Faruk. Namun, karena anak Pak Faruk bekerja di pabrik kopi, jadi ia selalu mendapat jatah kopi bubuk setiap bulannya. Selain itu, dengan jujur ia berkata, bahwa sering membeli dari warga yang sembunyi-sembuyi membawa pulang kopi dari kebun. Lalu kopi tersebut ia jual kembali di warung dan sebagian lagi untuk dikonsumsi sendiri. Oleh sebab itu, kopi yang disajikan dengan harga Rp 3.000, begitu nikmat, apalagi diracik oleh orang asli Blawan.

Warung Kopi
Warung kopi yang berdekatan dengan pemandian air panas. © Hudi Majnun
Air Panas dan Kopi
Saya dan Heri sedang berendam air panas dan menikmati kopi.

Tidak hanya wisatawan yang datang untuk menikmati kopi dan berendam air panas. Orang-orang yang pulang dari berkebun juga sering mampir untuk sedekar istirahat, menyantap bekalnya, dan memesan segelas kopi sebagai pelengkap. Jika itu kurang, mereka bisa menikmati kopi sambil berendam air panas, supaya tubuh yang letih karena bekerja bisa langsung segar kembali.

Banyak manfaat dari mandi air panas alami ini, di antaranya; mampu mengeluarkan racun, menghilangkan stres ringan, mengobati eksema, infeksi, flu, sakit kepala, memperlancar sirkulasi darah, dan sebagainya. Kedatangan Pak Tono dari Banyuwangi juga ingin mengobati temannya yang terkena gatal-gatal. Banyak yang percaya, dengan mandi air panas belerang bisa menyembuhkan gatal-gatal.

Setelah pembicaraan panjang lebar dengan Pak Faruk dan Pak Tono, saya bersama Heri melanjutkan minum kopi sambil berendam air panas. Ada dua kolam dengan level panas yang berbeda. Yang kami tempati levelnya sedang. Di sebelahnya panasnya cukup tinggi, karena kolam tersebut adalah aliran pertama sumber air. Mungkin panasnya bisa mematangkan telur dalam waktu 10 menit.

Badan yang letih karena perjalanan langsung hilang seketika. Panasnya air yang membalut sekujur tubuh, seperti sebuah pijitan refleksi oleh tangan sehalus Miyabi. Apalagi sambil meneguk kopi arabika, jadi hangatnya dari luar dan dalam. Tidak hanya itu, sambil berendam dan minum kopi, kami juga bisa menikmati pemandangan yang begitu alami dan udara begitu sejuk.

Kami dikelilingi tebing-tebing yang hijau, kebun kopi, sungai, monyet-monyet, suara burung, dan sebagainya. Rasa kerinduan dengan alam yang hijau sudah sangat terobati. Benar-benar menikmati hari bumi. Dan sudah seharusnya kita menjaga alam, supaya kopi yang dihasilkan menjadi sangat nikmat untuk kita nikmati bersama.

Tempat seperti ini sudah sangat langka, apalagi di kota. Dengan minum kopi di alam, saya mengoreksi diri, dan sedikit merenungkan. Setiap tanggal 22 April, banyak peringatan hari bumi dilakukan. Entah dengan aksi di jalan, orasi, menulis tentang hari bumi, dan sebagainya. Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk menyuarakan hari bumi. Dan cara yang saya lakukan tidaklah haram. Saya menyuarakan hari bumi untuk diri sendiri, dengan menikmati kopi di alam.

Kopi merupakan salah satu hasil bumi. Dan betapa kayanya tanah ini, menghasilkan berbagai jenis kopi dengan rasa yang tak pernah sama.

Mochammad Sholehudin

Petani yang sedang sibuk memacul takdir Tuhan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Wahhhh asik banget. Tapi kayaknya kalau mau ke sana harus naik motor ya. Nggak ada kendaraan umum dan penginapannya kah?

  • ada kendaraan umum dari kota langsung lokasi, bis mini. penginapan juga ada, hotel, rumah warga, dan goa.