Senjakala Pionir Colenak Bandung

Colenak, ketan dan jagung bakar di sepanjang Jalan Raya Lembang. Favorit saya ada di depan Restoran Pulo Mas
Colenak, ketan dan jagung bakar di sepanjang Jalan Raya Lembang. Favorit saya ada di depan Restoran Pulo Mas | © Fransisca Agustin

Tepung beras dicampur rempah-rempah bawang putih, lada, cabai, kayu manis, dan jahe. Tambah air tebu atau air kelapa. Buat adonan bulat kecil-kecil, tiga sentimeter diameternya, satu sentimeter tebalnya. Bungkus dengan daun pisang. Simpan dua-tiga hari sampai menjadi ragi.

Pilih ubi kayu yang mengandung banyak pati, agar terurai sempurna menjadi gula setelah diperam. Jangan pilih ubi kayu tua, karena patinya berkurang dan menjadi serat. Kupas, cuci, lalu rebus selama lima belas menit. Tusuk perlahan dengan pisau runcing. Jika ujung pisaumu lancar menembus ke dalam, berarti sudah masak sempurna. Angkat. Kipasi agar cepat dingin.

Haluskan ragi di piring. Lumuri merata pada ubi kayu, satu per satu. Bungkus dengan daun pisang. Tata dengan rapi dalam ember. Tutup lagi dengan daun pisang. Biarkan satu-dua hari. Jangan dibuka sebelum waktunya, agar udara di dalam tetap panas.

Sekarang, sudah terasa lunak kau tekan? Matang sudah.

Peuyeum. Tape singkong. Hmmm… saya suka yang sangat manis dan harum tuak. Kalau tak ada arang, cukup kau panaskan dengan wajan biasa sampai kecoklatan. Makan sedikit-sedikit sambil meneguk kopi kental pahit.

Lebih nikmat memang kalau kau panggang di atas arang. Tapi, sebentar. Rebus dulu santan, gula merah, dan daun pandan. Tunggu sampai mendidih sambil kau aduk. Tambahkan sedikit garam. Setelah gula merah benar-benar mencair, masukkan parutan kelapa setengah tua. Aduk-aduk sampai kental. Setelah saus ini siap, barulah kau panggang peuyeum itu.

Potong peuyeum dengan garpu, cocol-cocol ke dalam saus gula kelapa. Dicocol enak. Colenak. Kalau peuyeum yang kau punya sudah sangat manis, buatlah saus yang lebih banyak kelapa. Kurangi gula merahnya.

Dulu jaman masih sekolah, ketika uang jajan tidak banyak, kami hanya bisa pergi jalan-jalan ke Lembang. Boncengan beberapa motor. Berhenti di salah satu pedagang colenak dan ketan bakar yang berjajar di kanan-kiri jalan. Penjual favorit kami ada di depan restoran Pulo Mas.

Peuyeumnya selalu pas lunak dan manis, sausnya gurih. Ketannya bagus. Saus oncom dan taburan serundengnya juga bersih dan harum. Mintalah ketannya untuk diiris dua sebelum dipanggang, supaya lebih kering dan terasa aroma khas beras ketan bakar. Sebetulnya mereka juga menjual jagung bakar, tapi jagungnya seringkali terlalu keras. Andai saja mereka lebih cerdik, mereka akan mencari cara menyerut jagung, lalu menambah sambal atau parutan keju dan susu kental manis, seperti yang dilakukan deretan tukang jagung di Jalan Dago.

Colenak Lembang dengan peuyeum yang lebih lunak dan lebih manis
Colenak Lembang dengan peuyeum yang lebih lunak dan lebih manis | © Fransisca Agustin
Ketan bakar Lembang dengan saus kacang, oncom dan serundeng
Ketan bakar Lembang dengan saus kacang, oncom dan serundeng | © Fransisca Agustin

Setelah makan colenak dan ketan bakar, kami meneruskan perjalanan ke Ciater untuk berendam air belerang. Itu kalau kami punya uang lebih. Kalau tidak, kami hanya ziarah ke Pertapaan Karmel. Berdoa, berkontemplasi, atau sekedar berjalan-jalan di taman mungil. Lalu pulang.

Ah… kontemplasi. Sementara colenak semakin lekat sebagai kuliner Lembang, ada sebuah nama yang lekang oleh waktu. Murdi, pelopor colenak yang menjadi bagian sejarah pada Konferensi Asia Afrika pertama, tahun 1955. Beliau mulai berjualan tahun 1930 di pinggir Jalan Ahmad Yani no.733.

Jalan Ahmad Yani panjang membentang dari Bandung Tengah sampai Cicaheum, Bandung Timur. Pusat perdagangan yang sangat bergengsi pada era 1950-1980an. Harga tanahnya termasuk yang tertinggi sekotamadya. Di pinggir jalan, saat ini mencapai 8 juta/ m2. Setengah kilometer sebelum Cicaheum, ruko Colenak Murdi Putra menjulang.

Daerah ini, yang disebut Cicadas, penuh sesak dan lusuh oleh PKL. Setiap hari macet merayap. Warga mengeluh, walikota masih belum bisa menepati janji menata PKL. Masih kalah oleh preman.

Murdi Putra menyediakan colenak durian dan nangka, tapi bukan memakai buah asli, sehingga kami batal memesan. Colenak original saja. Konon, masih menggunakan resep yang sama dengan resep Kakek Murdi 86 tahun yang lalu. Sepuluh ribu. Sedikit lebih mahal daripada colenak Lembang.

Gigitan pertama… kecewa. Peuyeumnya kurang lunak dan… dingin! Padahal di dalam ruko ini tentu ada dapur. Sausnya sangat kental, lagi terlalu manis. Jauh lebih manis daripada peuyeumnya. Kombinasi kesalahan fatal.

Pionir Colenak Bandung
Pionir Colenak Bandung | © Fransisca Agustin
Colenak Murdi Putra rasa original
Colenak Murdi Putra rasa original | © Fransisca Agustin

Ketika saya sedang mengunyah, beberapa orang duduk di meja belakang kami. Lalu salah seorang dari mereka menelpon lewat ponsel, di depan dua orang yang lain. Terdengar ia memperkenalkan diri pada seseorang di seberang sana, lalu… menawarkan menjual ruko tiga lantai itu . Sepuluh miliar!

Apa saya salah dengar?

Setelah makan, saya mencari wastafel karena jari saya agak lengket terkena saus gula. Ada dua di pojok, berdampingan. Tidak ada sabun satupun. Tak jadi cuci tangan.

Kami keluar. Si belahan jiwaku memundurkan motornya. Seorang tukang parkir tak berseragam menghampiri. Saya masih sibuk memotret bagian depan ruko, tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Saya naik ke boncengan. Belahan jiwaku memutar gas dengan sentakan. Eh? Biasanya dia mengemudi dengan pelan, malah cenderung lambat. Lalu menyalip motor lain dengan kasar.

“Kamu kenapa, sih?”

“Itu, tukang parkir! Saya kasih seribu, dia bilang ‘Sekarang mah dua ribu.’ Mana karcisnya?? Aturannya juga masih seribu kok!”

Saya terdiam. Berpikir sejenak.

“Kalau kita saja “dipalak” tukang parkir liar, bagaimana dengan Colenak Murdi Putra yah? Merk legendaris… pasti diperas sana-sini. Pantas saja kalau mereka mau menjual tempat itu.”

Ah… premanisme. PKL. Satu paket masalah. Kalau PKL digusur, preman bertindak, dan medsos menyalak menyalahkan aparatur yang dicap beringas.

Senjakala pionir colenak Bandung.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.