“Semua Boleh Kau Rampas, Tapi Tidak Secangkir Peradaban dalam Genggaman Ini!”

Segelas kopi pancong
Segelas kopi pancong © Morenk Beladro

Dia bukan seorang ahli kopi yang mempunyai berbagai macam keterampilan dan pengetahuan tentang penyajian kopi. Tak ada lisensi untuk lidahnya, dia hanya belajar tentang kopi dari orang-orang di kampung halamannya dan para petani kopi, di Gayo, Aceh.

Dia juga tak menggunakan mesin brewing kopi, plunger, atau mesin pembuat kopi espresso. Kopinya, kopi tubruk. Teknik penyajian tradisional yang telah lama hidup dan dikenal orang.

Sebagai orang Aceh, dia merasa terlambat mengenal kopi arabika gayo. “Orang Aceh itu kan ngopinya di kedai-kedai kopi di pinggir jalan, kopi saring disebutnya. Itu dulu kopinya kebanyakan adalah kopi robusta,” terangnya.

Menurutnya, orang mulai mengenal kopi arabika gayo, setelah terjadinya gelombang tsunami tahun 2006. Pada saat itu banyak orang datang ke Aceh untuk membantu penanganan korban bencana. Dari situlah banyak orang yang mendapat informasi tentang kopi arabika gayo. Hingga akhirnya mulai bermunculan kedai-kedai kopi di Aceh yang menjual kopi arabika.

Tahun 2008 dia pergi ke Malaysia, sehari-hari dia menikmati kopi tiam. Namun karena kandungan asamnya yang tinggi, dia sempat tak bisa minum kopi untuk beberapa waktu karena merasa mual setelah minum kopi.

Tahun 2009 dia kembali ke tanah Rencong. Pada suatu saat, diajaklah dia oleh seorang teman untuk minum kopi di sebuah kedai di daerah Darusalam. Kedai kopi tersebut menyajikan arabika gayo. Bermula dari kedai itulah, dia mulai jatuh cinta dengan arabika gayo. Sehari-hari dia minum kopi di kedai tersebut, hingga dia mengenal beberapa pegawai dan pemiliknya.

Pada tahun yang sama, dia memutuskan untuk melancong ke ibu kota. Kopi gayo dibawanya sebagai bekal untuk menikmati pagi dan sore hari dalam sebuah cangkir. Tak bisa ke lain hati, cintanya sudah diberikan kepada arabika gayo. Baginya, kopi ini sudah tak bisa digantikan dengan jenis kopi-kopi lainnya. Cinta buta.

Sampai pada suatu saat, kopi yang dimilikinya habis. Sementara temannya yang memasok kopi selama ini telah keluar dari kedai tempanya bekerja. Lalu ia minta dicarikan kopi gayo dalam jumlah banyak untuk dikirim ke Jakarta, semata agar stok tidak putus. Lima kilogram kopi arabika gayo dikirim ke Jakarta.

“Bingung juga dapat kopi 5 kilo, banyak banget. Tapi dari situ aku mulai berfikir untuk menjualnya dalam kemasan-kemasan kecil. Kebetulan aku juga punya keahlian di bidang desain grafis, lalu aku buatlah satu brand. Namanya Beladro Coffee,” tuturnya.

Kopi Pancong di Kalibata City Square, Tower Gaharu, Jl. Kalibata Raya No. 1, Kalibata, Jakarta
Kopi Pancong di Kalibata City Square, Tower Gaharu, Jl. Kalibata Raya No. 1, Kalibata, Jakarta © Alfa Gumilang
Suasana malam di Kopi Pancong
Suasana malam di Kopi Pancong © Alfa Gumilang

Sekilas nama ‘Beladro’ seperti nama orang yang sedikit berbau-bau latin, namun ternyata bukan. Beladro diambil dari bahasa Aceh. ‘Bela’ artinya membela. ‘Droe’ artinya diri. Yang secara utuh mempunyai makna membela diri atau memberdayakan diri. “Apa yang kita miliki harus kita explore dan berdayakan,” begitu dia coba menjelaskan.

Dalam perjalanannya belajar tentang kopi, ia bertemu dengan seorang bernama John, biasa disapa uncle John. Bagi kalangan pecinta kopi, dia cukup dikenal sebagai tokoh senior. Konon kabarnya ia telah berkelana ke berbagai belahan dunia untuk mencoba rasa beragam kopi.

“Sudah benar kau main di kopi Gayo. Setelah perjalananku keliling dunia, kopi Gayo ini yang paling enak. Ada semacam gongnya di dalam rasa kopi gayo yang kita minum,” begitu tutur uncle John kepadanya.

Lalu dia berfikir ada benarnya ucapan uncle John. Sejenak angannya terbawa pada seni tari dari Aceh, tari Saman. Tari Saman dimulai dengan perlahan-lahan, lalu temponya terus meningkat semakin cepat dan dinamis dalam geraknya, hingga akhirnya berhenti disatu titik yang menjadi gong dari tarian tersebut.

“Di situ aku melihat kesamaan antara kopi gayo dengan seni tradisi Aceh. Sebenarnya aku ingin mengajak orang yang minum kopi bukan hanya sekadar mencicipi dan menikmati rasanya, tapi juga melihat hal-hal lain di balik secangkir kopi. Melihat adat, budaya dan tradisi dalam kopi, kehidupan petani kopi, atau juga berbagai persoalan-persoalan yang ada di balik kopi,” harapannya.

Slogan yang dimiliki oleh Beladro Coffee sangat filosofis, seperti yang tertuang dalam judul tulisan ini. ‘Semua boleh kau rampas, tapi tidak secangkir peradaban dalam genggaman ini!’

Slogan itu bukan lahir dari khayalan tentang kata-kata mutiara yang indah. Slogan itu lahir dari perjalanan panjangnya atas tanah Aceh, slogan yang lahir dari kontemplasi diri dan perenungan pengalaman hidupnya.

“Aceh itu ibarat sebuah wilayah yang bisa dibilang sudah habis. Dari segi politik dan konflik politiknya, bencana, kekayaan alamnya yang dikuras, perang yang memakan puluhan ribu nyawa. Habis semua,” ujarnya dengan wajah penuh haru.

“Kalimat tersebut adalah sebuah pesan kepada siapapun, bahwa semua yang ada di tanah Rencong sudah habis dirampas oleh orang dan kepentingan. Tapi tidak secangkir peradaban dalam genggaman ini. Akan aku jaga!” ujar Morenk ‘Beladro’, menyudahi kisahnya.

Alfa Gumilang

Kretekus sehat, buzzer buruh dan tani | bisa disapa di @alfagumilang


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • HLS

    Ooo, yg di Kalibata City yah, menarik dicoba. Soal rasa ya masing2 saja

  • bekmob

    Bang Morenk kereeen, kopi adalah identity dan inspirasi.