Sekuel John Wick Yang Lupa Bahwa Itu Film Action

John Wick 2 - Kill Count
John Wick 2 – Kill Count | Sumber: screenrant.com

Penantian tiga tahun menunggu sekuel film ini tayang, akhirnya dibayar di muka dengan adegan John Wick (Keanu Reeves) kejar-kejaran dengan pengendara motor di tengah kota, mengobrak-abrik pool taxi sekaligus sukses menggertak bosnya. Klasik, Wick bisa kesumat seperti itu di menit awal, ihwalnya karena mobil pribadinya yang dicuri dan anjingnya yang dibunuh.

Sang sutradara, Chad Stahelski nampaknya tidak mau melakukan pengulangan dengan menampilkan drama menjadi suguhan pembuka. Keputusannya menyajikan aksi “ringan tangan” Wick di menit awal, cukup gemilang. Pun sepertinya Chad memang sengaja ingin mengajak penonton sedikit bernostalgia bersama John Wick (2014) sembari mengingat bertapa “ringan tangan”-nya sang tokoh utama hanya karena perkara mobil dan anjing.

Mobil dan anjing adalah harga diri. Jangan macam-macam dengan itu.

Kisah yang tertoreh pada menit-menit berikutnya tidak lagi melibatkan mobil yang dicuri dan anjing kesayangan yang dibunuh. Wick bermain dengan hutang budinya pada seorang mafia Italia, Santino D’Antonio (Riccardo Scamarcio) yang sebetulnya enggan dilunasi oleh Wick. Sebab, sarat melunasinya harus membunuh Giana (Claudia Gerini), adik D’Antonio sendiri. Pembakaran rumah hingga menjadi kerangka gosong, membuat Wick yang awalnya menolak, akhirnya menerima.

Kali ini, terbakarnya rumah Wick, yang membuat dirinya kembali “ringan tangan”. Wick bukan orang yang materialistik, dia seorang manusia berhati lembut dan mudah baper. Maka dari itu, Wick kesal dan selalu merenungi rumahnya yang penuh dengan kenangan bersama mendiang sang istri.

Menyimak sekuel ini, terlihat pengembangan pada beberapa bagian film. Chad membuat konfliknya lebih kompleks dari prekuel. Di mana Wick yang tadinya bekerja untuk D’Antonio kemudian beralih menjadi musuh. Pun, begitu juga dengan pertemanan Wick dengan Winston (Ian McShane) yang berujung tidak menyenangkan. Aksi Wick yang lebih melulu memburu seperti di film awal, di sekuel kali ini justru Wick lebih banyak diburu. Plot kian menegangkan ketika mendapati Wick menjadi target pembunuhan berhadiah bagi satu kota New York dan kemudian statusnya meningkat menjadi seantero dunia.

Sungguh Wick yang malang.

John Wick 2
John Wick | Sumber: bloody-disgusting.com

Sementara itu pengambilan lokasi tidak stuck di Amerika Serikat. Untuk membunuh Giana, Wick harus terbang ke Roma. Berjibaku di antara bangunan Koloseum, Italia yang magis. Satu adegan berkesan buat saya, ketika Wick harus mengakhiri pertikaiannya dengan Cassian (Common) dengan duduk bersama di bar hotel plus ditraktir minum. Entah emosi macam apa yang mereka rasakan, bisa duduk anteng setelah sebelumnya berhasrat saling membunuh.

Meski plot dan latar gambar berkembang lumayan banyak dari sebelumnya, entahlah, saya merasa film ini terlalu monoton. Pasalnya, koreografi Wick dan pemain lain, tak ada perkembangan dari film sebelumnya. Bahkan, Wick terlihat kaku ketika harus melakukan adegan perkelahian dengan tangan kosong. Namun tidak ketika dirinya menggunakan pistol. Adegannya berkelahi dengan Cassian di menit 1:02:35, terlihat seperti dua orang dewasa yang saling adu pukul setelah bersenggolan di depan panggung dangdut. Tidak memperlihatkan sebagai seorang profesional penjahat. Satu hal yang membuat saya hambar jika mengingat film ini disebut bergenre action-thriller.

Meski begitu, tak semua koreografinya buruk. Aksi Wick melumpuhkan pemuda gendut yang nampak seperti sumo perlu diapresiasi, bagian menusuk pria necis dengan pensil pun sama, pertarungan dengan Ares juga menjadi satu yang cukup baik dan juga perkelahian keduanya bersama Cassian di dalam kereta perlu diakui, setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

Wick nampaknya terlalu kaku untuk melakukan serangkaian aksi dengan tangan kosong. Lebih piawai menggunakan pistol, akurasinya perlu diacungi jempol. Satu-satu gerakan terbaiknya tanpa pistol, ketika Wick selalu mampu menusuk aorta lawannya.

Entah apa yang dilakukan Chad selama tiga tahun sehingga menciptakan koreografi yang biasa saja untuk sebuah film yang diagung-agungkan. Sesekali Chad saya rasa perlu ngobrol santai dengan Timo Tjahjanto atau Iko Uwais soal hal ini.

Soal betapa kakunya Reeves ketika berkelahi, harus dimaklumi. Mengingat konsistensinya mempertahankan mimik muka yang tenang seraya emosi pembunuh berdarah dingin dari film pertama hingga kedua perlu diberi standing applause.

Sekuel ini juga memperlihatkan emosi Wick yang tidak ada di film sebelumnya. Ketika Wick menunjukan sisi neurotik manakala dirinya menjadi buruan internasional. Jika memang kelak akan beredar John Wick: Chapter 3. Semoga lebih banyak yang bisa dipersiapkan oleh Chad. Terutama soal koregrafi di film ini.

Ingat Chad, filmmu bergenre Action-thriller!

Alfian Putra Abdi

Pengemban jargon #hidupadalahnongkrong yang senang membariskan kata. Bercita-cita hidup tanpa utang bank.