Sekoteng Lintas Generasi Pak Wan

“Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu”

– Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono –

Bulan Juni sudah sampai pada ujungnya, tapi hujan tak jua reda. Dingin menusuk, sepi merasuk, rindu menggebu saat malam memeluk mimpi. Kira-kira begitulah yang ingin disampaikan Sapardi dalam puisi Hujan Bulan Juni.

Nyatanya memang ketika musim hujan tidak menentu seperti sekarang ini, kita sering membutuhkan sekedar minuman atau camilan penghangat badan. Selain kopi, salah satu yang paling cocok adalah minuman berbasis jahe. Dari mulai Bandrek, Wedang Jahe, Wedang Ronde, dan jangan sampai ketinggalan, Sekoteng.

Minuman-minuman ini sejauh yang kita tahu adalah minuman khas dari Jawa, khususnya Jawa Tengah. Tapi untuk minuman yang terkahir, yakni Sekoteng, sebetulnya bukan asli dari Jawa. Kata Sekoteng adalah serapan dari bahasa Tionghoa (Hokkian) yakni dari kata Shi atau Su yang berarti sepuluh atau empat, Guo yang berarti buah, dan T’eng yang berarti kuah atau sup.

Maka tidak heran jika Sekoteng yang kita kenal mengandung biji-bijian seperti kacang-kacangan. Dari daerah asalnya Sekoteng ini berisi empat macam buah yang dikeringkan yakni Kacang Amandel, Buah Jail, Biji Teratai, dan Kelengkeng.

Es Sekoteng Pak Wan Khas Pekalongan
Es Sekoteng Pak Wan Khas Pekalongan | © Imam B. Carito

Menurut legenda, Sekoteng sudah dikonsumsi sejak masa Kaisar Qin Shi Huang (masa Dinasti Qin 221 SM – 206 SM). Pada masa itu, Sekoteng dipercaya dapat meningkatkan kesehatan dan menjaga kehangatan tubuh. Saat ini, di negeri asalnya Sekoteng disajikan hangat pada saat udara dingin dan disajikan dingin dengan menambahkan es pada cuaca panas.

Di kepulauan Riau dan Singapura minuman ini dikenal dengan nama Cheng Teng. Disajikan sebagai dessert dengan isian berupa Lengkeng, Jali, Ginko, dan Biji Teratai. Sedangkan di Medan, minuman ini disebut Shiguotang. Isiannya antara lain Semangka, Pepaya Muda, Jagung, Buah atap, Cincau Hitam, Agar-agar, Selasih, Jali-jali, dan irisan Jeruk.

Di Tanjung Pinang minuman ini disebut Chengteng atau Es Koteng yang berisi Job’s Taer (Chinese Pearl Barley atau Jali-jali), Atap Ci (Kolang–kaling), Sek Liu Ci (Biji Delima), Jagung, Pek Mak Je (Theochew), Bai Mu Er (Jamur Putih), dan Keladi. Sedangkan di Jawa Tengah khususnya, kita akrab dengan Sekoteng yang terbuat dari wedang jahe yang berisi kacang hijau, kacang tanah, pacar Cina Kolang-kaling, Roti tawar potong dadu, dan susu.

Tapi dari semua variasi Sekoteng diatas, kalau kamu masih ingin kombinasi yang lain, datanglah ke Pekalongan. Di Kota dimana Kampung Cina, Kampung Jawa, dan Kampung Arab hidup berdampingan. Dan jangan heran, meskipun terdapat Kampung Cina, ketika kamu ingin diajak Sekotengan kamu tidak akan di bawa ke Kampung Cina, melainkan ke Kampung Arab. Disanalah terdapat “Warung Makan dan Wedang Sekoteng” pak Wan. Tepatnya di Jl. Kenanga, Klego, samping Pro Futsal.

Minuman asal Tionghoa (Cina), dijual oleh orang jawa, di Kampung Arab. Akui sajalah, dimana lagi ditemukan hal semacam ini, kalau bukan di Pekalongan.

Halaman warung Sekoteng Pak Wan lengang menjelang pagi
Halaman warung Sekoteng Pak Wan lengang menjelang pagi | © Imam B. Carito
Dapur Sederhana Tempat Meracik Sekoteng dan Gorengan
Dapur Sederhana Tempat Meracik Sekoteng dan Gorengan | © Imam B. Carito

Warung Sekoteng pak Wan ini sudah ada sejak 1989, dan sekarang dilanjutkan oleh generasi kedua, yaitu Pak Abdullah. Disini kamu akan disuguhkan sekoteng dengan rasa manis, bukan rasa rempah dan jahe yang mirip jamu. Dengan isian yang sama sekali lain, tanpa buah–buahan kering atau biji–bijian.

Sekoteng Pak Wan ini berisi Susu, Sirup, Roti Tawar potong dadu, Biskuit dan Miswa. Sirup yang digunakan adalah sirup hasil racikan sendiri dari resep turun temurun dari generasi ke generasi. Sedangkan Mieswa adalah bahan untuk campuran roti yang berbentuk seperti mie kering.

Di Cina Mieswa terbuat dari tepung gandum sedangkan di Indonesia terbuat dari tepung terigu. Karena melambangkan umur yang panjang, Mieswa sering dimakan bersama keluarga di hari pagi hari perayaan ulang tahun. Dengan harapan bahwa di tahun ini keluarga tersebut mengalami panjang kerukunan, panjang kesehatan, serta panjang rezeki sebagaimana panjangnya Mieswa tersebut.

Wedang Sekoteng Pak Wan tidak hanya disajikan panas sebagai penghangat tubuh. Di warung ini Sekoteng juga disajikan dingin dengan menambahkan es. Dan kalau kamu ingin makan yang berat, disini juga ada Nasi Megono Campur dengan pilihan lauk yang bervariasi, dari telur sampai daging. Dan kalau ingin nyemil santai sambil ngobrol, kamu bisa pesan tempe mendoan atau gorengan sembari menikmati Es Sekoteng.

Bahan–bahan Pembuat Sekoteng Pak Wan
Bahan–bahan Pembuat Sekoteng Pak Wan | © Imam B. Carito
Es Sekoteng, Nasi Megono Campur, Gorengan Tempe dan Sambel Kecap yang Nikmat
Es Sekoteng, Nasi Megono Campur, Gorengan Tempe dan Sambel Kecap yang Nikmat | © Imam B. Carito

Disini hanya ada gorengan tempe, tidak ada yang lain. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Tempe adalah olahan yang paling fleksibel. Dari digoreng hanya tempenya saja, sudah jadi gorengan tempe wudo (telanjang). Jika digoreng setengah matang dengan tepung, namanya menjadi mendoan. Dan jika digoreng sampai kering, namanya menjadi gorengan. Hanya dengan tempe kamu bisa menikmati tiga varian gorengan. Dan karakter ini tentu tidak dimiliki oleh gorengan lain semacam tahu atau bakwan.

Murah adalah kunci penting dari warung ini. Dengan hanya Rp. 15.000 saja, kamu sudah bisa dapat Sekoteng, nasi megono campur, dan gorengan. Kenyang, nikmat, hemat dan bersahaja. Sambil beristirahat selepas main futsal misalnya.

Maka disini, di Pekalongan, di Warung Sekoteng Pak Wan, nikmat sekoteng mana lagi yang hendak kau dustakan?

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.