Sejarah Pemboikotan Kedai Kopi

Akhir Juni lalu, media sosial heboh dengan seruan pemboikotan terhadap kedai kopi ternama, Starbucks. Hal ini terjadi lantaran Starbucks pada Januari lalu secara terang-terangan menyatakan dukungannya untuk merangkul hak-hak kaum LGBT. Ini disampaikan oleh CEO mereka sendiri, Howard Schultz, pada sebuah rapat pemegang saham, Januari lalu.

Sikap Starbucks itulah yang menjadi dasar sebagian orang di Indonesia, menyerukan untuk memboikot perusahaan asal Amerika itu. Beberapa tokoh pun turut serta menyerukan pemboikotan ini. Salah satu di antaranya adalah KH Anwar Abbas yang merupakan Sekjen MUI dan pengurus Muhammadiyah. Menurutnya, seruan pemboikotan ini perlu, karena jelas-jelas dukungan Starbucks terhadap kaum LGBT, tidak sejalan dengan ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila. Seruan serupa juga datang dari tokoh lain, Fahira Idris. Fahira yang merupakan Wakil Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah RI, menyatakan perlunya gerakan kolektif dari masyarakat, terutama anggota ormas keagamaan, untuk tidak membeli produk Starbucks. Gerakan ini menurutnya penting, daripada hanya menunggu sikap pemerintah untuk mencabut izin usaha Starbucks.

Starbucks, kedai kopi yang terkemuka itu, seketika menjadi momok yang dinilai dapat menghancurkan peradaban bangsa karena sikapnya yang mendukung kesetaraan hak-hak LGBT. Sehingga perlu untuk disingkirkan keberadaannya dari Indonesia.

Jika kita menilik sejarah, seruan untuk memboikot sebuah kedai kopi, juga sudah terjadi di masa lampau. Perkenalan benua Eropa dengan kopi di abad ke-17 misalnya, adalah perkenalan yang—seperti rasa kopi espresso— pahit. Beberapa fragmen menunjukkan, kaum agamawan dan politikus pada masa itu, sempat tidak suka dengan kehadiran kopi dan menjamurnya kedai-kedai kopi. Hal ini disebabkan karena pada saat itu kedai-kedai kopi kerap menjadi tempat tumbuh suburnya ide-ide revolusioner yang diperbincangkan oleh para pengunjungnya. Dan itu memang terjadi. Sejarawan Prancis, Michelet, berujar bahwa kedai-kedai kopi di masa itu, adalah tempat di mana berita dan ide-ide diperbincangkan. Kesadaran otomatis menjadi tumbuh dari dialog-dialog itu, dan semuanya membawa kepada salah satu sejarah besar dunia: Revolusi Prancis.

Revolusi Kopi
Revolusi Kopi | Sumber: etccoffee

Hal seperti ini jelas mebuat ketakutan para penguasa yang saat itu sedang berkuasa. Alhasil berbagai upaya untuk memboikot kopi dan kedai-kedainya pun dilakukan para penguasa saat itu dengan memakai pelbagai macam argumen untuk melegitimasi tindakan mereka. Dari mulai argumen primordial hingga argumen “saintifik”.

Dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, Linda Civitello mengungkapkan, pada tahun 1679, untuk membuat masyarakat berhenti mengonsumsi kopi, seorang dokter muda di Prancis membuat penilaian buruk tentang kopi. Kopi dinyatakan sebagai biang segala penyakit. Mulai dari menyebabkan keletihan, menggerogoti fungsi tubuh, melemahkan otak manusia, dan bahkan menyebabkan impotensi. Argumen ini persis seperti argumen yang dinyatakan Dr. Balthazar Bekker pada abad ke-18 di London, ketika menjelaskan bahaya masturbasi. Pada saat itu, Dr. Bekker mengatakan masturbasi adalah sumber dari segala penyakit yang mewabah di masyarakat. Mulai dari muntah-muntah, encok, hingga hilang ingatan.

Specimens of the 1921 Magazine and Newspaper Copy Sumber ebook All About Coffee
Specimens of the 1921 Magazine and Newspaper Copy | Sumber: All About Coffee

Argumen lain yang dipakai untuk menghentikan kebiasaan orang berkumpul di kedai kopi adalah argumen primordial. Seperti yang dilakukan penguasa Jerman, Frederick de Great pada 1777. Ia menyerukan dan mengajak rakyatnya yang pada saat itu sudah gandrung minum kopi, untuk kembali mengonsumsi minuman tradisional mereka, beer. Ia berujar bahwa kemuliaan bangsa mereka sejak zaman nenek moyang sedari dulu adalah berkat menenggak beer.

Di Inggris pada 1675, raja mereka saat itu, Charles II, sempat berencana akan membuat aturan pelarangan kedai-kedai kopi. Ia beralasan kedai kopi membuat orang-orang lupa akan tanggung jawab sosialnya dan membuat terganggunya stabilitas kerajaan. Rencana itu mengundang banyak protes dan kecaman keras di London. Alhasil, dua hari sebelum aturan itu diresmikan, karena kuatnya kecaman, Raja Charles II terpaksa mengundurkan diri.

Mengingat rekam jejaknya dari fragmen-fragmen di atas, dari abad lalu hingga kasus terakhir yang menyangkut Starbucks, menunjukkan kedai kopi selalu erat kaitannya dengan sebuah gagasan. Kedai kopi identik dengan sebuah gagasan yang, pada zamannya masing-masing, cukup “menakutkan” bagi para penguasa/politisi yang sedang mengampu jabatan. Sehingga seruan boikot pun menjadi semacam kawan seperjalanan kedai kopi dari masa ke masa.

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang gemar menonton sepakbola.