Segelas Kopi Susu Warkop Geleng dan Kombur Telolet

Tampak Depan Warung Kopi Pa Geleng
Tampak Depan Warung Kopi Pa Geleng | © Anwar Saragih

Pagi ini datang lebih cepat dari biasanya. Anak-anak sekolah terlihat menjinjing tas penuh harapan, angkot hilir mudik kesana-kemari mencari sewa. Tukang sayur mendorong gerobak jualannya, di seberang jalan yang tak jauh dari warung kopi yang biasa kukunjungi, ada suara lantang terdengar persuasif dan terkesan tergesa-gesa terdengar nyaring di telinga saya.

“Ku ja kam e… bi? bangku dua ras bangku tempel lit denga. Ota, siat denga..”
(Mau kemana bu? Bangku di belakang supir dan bangku tambahan masih ada)

Frasa itu rutin saya dengar setiap pagi hari kala akan menyeberangi Warung Kopi Pa Geleng atau yang kerap dipanggil Warkop Pa Geleng. Warung kopi yang terletak di Jalan Jamin Ginting Nomor 108, Simpang Pos Padang Bulan Medan yang umurnya sudah mencapai 50-an tahun. Tempatnya berseberangan dengan terminal bus PO. Sinabung Jayapionir utama berkembangnya usaha bus pengangkut sewa dan barang dari kota Medan ke Tanah Karo, Sumatera Utara. Hingga saat ini PO. Sinabung Jaya merupakan “Raja Jalanan” yang menguasai secara absolut yang mampu menjinakkan jalan berliku, menanjak, dan berlubang jalan utama; Medan-Sibolangit-Berastagi-Kabanjahe. Bus yang melintas gagah dari kota, pemukiman penduduk, hingga hutan menuju Tanah Karo.

Bibik Ukur Boru Ginting Pengelola Warung Pa Geleng
Bibik Ukur Boru Ginting Pengelola Warung Pa Geleng | © Anwar Saragih

“Warung kopi ini sudah ada sejak tahun 1963”, kata Bibik Ukur boru Ginting yang merupakan adik kandung dari (Alm) Geleng Ginting, pengelola pertama warung kopi ini. Setelah Kila (paman) Geleng Ginting meninggal dunia tahun lalu, Warkop Pa Geleng dikelola oleh adik-adiknya. Kila Geleng merupakan anak pertama dari 6 bersaudara yang keseluruhan adiknya adalah perempuan. Selain Bik Ukur saya juga kerap bertemu Bik Rohulina boru Ginting yang juga adik dari Kila Geleng.

Melintasi berbagai generasi, Pa Geleng adalah saksi sejarah bagaimana tradisi minum kopi di kota Medan menjadi hal yang tidak sekadar tempat obrolan biasa. Namun sudah menjadi tradisi membangun kekerabatan masyarakat. Tak jarang bagi sebagian pengunjung bahkan menganggap Pa Geleng sebagai arena rekreasi yang membebaskan jiwa dari segala rutinitas sehari-hari yang penuh kepenatan. Lebih lanjut suasana ramah, bersahabat, dan penuh canda khas suku Karo kerap saya temukan kala mengunjungi warung kopi ini.

Tak jarang obrolan politik dengan nada sedikit meninggi juga terselip diantara diskusi panjang para pengunjung yang didominasi Kalak (orang) Karo. Tidak ketinggalan obrolan bola, musik, harga cabai, sayur sampai harga jeruk dibahas penuh canda. Bahkan di masa yang lalu salah satu calon gubernur Sumatera Utara pernah berkampanye di sini. Di dinding warkop ini tak ketinggalan foto Soekarno di sebelah kiri dan Megawati Soekarnoputri di sebelah kanan mengapit beberapa foto Geleng Ginting semasa hidupnya.

“Kopi susu sada (satu) bik” pesanku pada bik Ukur pagi ini.
e saja (satu) nakku” sahutnya.
“ue (iya) bik” kataku.

Pa Geleng memperkerjakan karyawan dengan pembagian tiga shift perharinya. Shift pagi dimulai pukul 05.00 sampai 13.00 wib, siang pukul 13.00 sampai 16.30 wib, dan malam mulai pukul 16.30 sampai 01.00 wib.

Satu gelas teh susu dihargai enam ribu rupiah, kopi susu tujuh ribu rupiah, teh manis panas tiga ribu rupiah, teh susu telur atau kerap disingkat TST seharga delapan ribu rupiah, dan kue khas Medan “roti bohong” seribu rupiah perpotongnya. Bagi yang suka makanan berat, Pa Geleng juga menyediakan mie pangsit seharga sepuluh ribu perporsi, mie tiaw goreng delapan ribu rupiah dan nasi gurih medan (nasi uduk) seharga sepuluh ribu rupiah.

Hal yang unik dari Pa Geleng adalah; tidak menyediakan rokok yang dijual batangan, kecuali kretek (Dji Sam Soe) yang dijual dua ribu perbatangnya. Bermodalkan uang sebelas ribu rupiah kita sudah bisa menikmati segelas kopi susu khas Pa Geleng dan dua batang rokok.

Sejenak kuperhatikan menu yang dijual Pa Geleng. Timbul pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya konyol dan memang tak membutuhkan jawaban yang terlalu menarik untuk dijawab. Mengapa akhirnya Warkop Pa Geleng memutuskan hanya menjual rokok Dji Sam Soe batangan saja.

“Bik, kenapa kam hanya menjual Sam Soe batangan saja bik ?” tanyaku.

“Itu dia nakku, terkadang pengunjung warkop ini suka lupa waktu, jadi rokok batangan ini yang jadi pengingat waktu. Kira-kira semacam alarm bagi pengunjung. Habis dua batang, pulang dia” jawab Bik Ukur penuh serius.

Lebih lanjut sejenak kuperhatikan pula, mengapa setiap minuman yang disajikan Pa Geleng baik kopi susu maupun teh susu selalu penuh sampai bertumpahan di-lepek-nya.

“Bik, ini kenapa kalau kam ngasi minuman selalu sampai tumpah-tumpah bik” tanyaku lagi.

“Kalau itu beda lagi nakku, Itulah dia filosofinya orang Karo kenapa menyajikan minuman sampai tumpah ke-lepek-nya. Kalau sampai tumpah gitu berarti berkat (rezeki) bagi pengunjung yang minum di sini melimpah pula” jawabnya.

Kursi bagian dalam Warung Kopi Pa Geleng
Kursi bagian dalam Warung Kopi Pa Geleng | © Anwar Saragih

Segelas Kopi Susu dan Tiga Batang Kretek Menemani Pagi Saya
Segelas Kopi Susu dan Tiga Batang Kretek Menemani Pagi Saya | © Anwar Saragih

Tak lama setelah perbincangan dengan Bik Ukur pagi ini. Suara klakson “Telolet..Telolet…Telolet” bus Sinabung yang datang dari Kabanjahe mulai memasuki arena perhentian di seberang warkop. Saatnya bus dari Medan yang menunggu giliran harus segera berangkat ke Kabanjahe.

Panggilan terakhir dari kernet dan supir bus Sinabung sebelum berpetualang ke Kabanjahe pun terdengar kembali dengan nyaring nan fasih.

Ula kam mbiar bi..,nangkihken. ” (Jangan kamu takut bik, naiklah.)

Aku tersenyum pagi ini, sesekali tertawa mendengar klakson telolet di Pa Geleng. Bi Ukur melanjutkan kisahnya, Pa Geleng punya sejarah panjang bagi masyarakat Karo di Kota Medan. Pada masa lalu ada orang yang rela berangkat ke Medan dari Berastagi yang jaraknya sekitar 70 km hanya sekadar untuk meminum segelas kopi susu Pa Geleng.

Ada pula para pedagang sayur-mayur dan buah-buahan yang selesai menjual hasil pertaniannya ke Medan, langsung bertemu di Pa Geleng. Warkop yang merupakan (dan dianggap sebagai) markas utama para pedagang tersebut sebelum kembali ke Kabanjahe bekerja.

Alasan itu pulalah mengapa bus Sinabung Jaya dan Pa Geleng menjadi dua insan yang tak pernah terpisahkan di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan. Di samping jarak dan akses yang sangat dekat. Suasana ramah penuh kekerabatan khas suku karo “rakut sitelu” langsung menyatu dengan bahasan berbagai hal di sana.

“Bingung aku, masa bunyi klakson “om telolet om” mendunia sekarang” kata teman saya Agung Bangun, pagi ini.

“Jalan-jalanlah orang itu (orang yang heboh) ke Tanah Karo naik Sinabung. Tiap Sinabung bunyinya kayak gitu” lanjutnya.

Teman saya si Agung mulai bercerita tentang bagaimana pengalaman-pengalaman yang ia alami ketika naik bus Sinabung pagi itu. Tak lupa dia juga menyelipkan cerita-cerita unik yang dia dapatkan dari bulang-nya (kakek) tentang Sinabung Jaya di masa lalu.

Pekerjaan sopir di masa lalu sangat prestisius dan membanggakan bagi anak-anak muda di Tanah Karo, khususnya pemuda yang tidak ingin melanjutkan sekolahnya. Pada masa lalu untuk menjadi sopir tidaklah semudah sekarang. Seseorang harus menjadi kernet terlebih dulu sebagai batu pijakan karir. Harus bangun lebih pagi untuk membersihkan bus. Setoran harus selalu mencapai target pemilik bus dan kernet harus selalu setia pula pada sopir agar tidak dipecat sewaktu-waktu.

Di samping itu, pada masanya pekerjaan sebagai sopir sangat dihormati oleh masyarakat di daerah khususnya desa-desa di Kabupaten Karo ketimbang seseorang itu harus berladang di kebun orang tuanya. Sopir juga menjadi idaman para gadis-gadis cantik di desa Tanah Karo. Mobilitas yang tinggi, pekerja keras, dan sangat bertanggung jawab adalah hal yang disukai para gadis di masa lalu. Pada masanya, salah satu alternatif utama mencapai cita-cita itu adalah menjadi sopir PO. Sinabung Jaya.

Kuhabiskan energi untuk tertawa pagi itu. Mendengar cerita baru yang sangat menarik di Warkop Pa Geleng. Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 wib. Aku sudah menghabiskan tiga batang dji sam soe. Sudah lewat dari ketentuan awal yang hanya dua batang. Namun segelas kopi susu Pa Geleng, tiga batang dji sam soe dan cerita-cerita unik pagi itu membayar semua waktuku. Kupanggil bang Dedi Ketaren pegawai yang bekerja di warkop Pa Geleng, kemudian membayar kopi susu dan rokok pagi ini.

skai (berapa) bang?

“13 ribu bang” jawabnya

Ingin kuhentikan waktu agar tak melaju, sebab kebersamaan pagi itu adalah kerinduan yang ingin selalu kudapatkan di setiap warung kopi.

“Telolet..Telolet..Telolet” bunyi klakson Sinabung Jaya (lagi)

Tersadar ini sudah bus keempat yang kembali dari Kabanjahe. Saatnya mandi dan bekerja kembali.

Keterangan :

  • Rakut Sitelu adalah sistem kekerabatan dalam suku Karo.
  • Kam adalah panggilan sopan orang karo yang berarti Kamu.
  • Kila adalah suami saudara perempuan ayah
  • Bibik (bik) adalah panggilan dari perempuan adik ayah atau ibu dalam suku Karo. Kerap pula digunakan seorang perempuan umurnya seumuran ibu kita.
  • Kombur adalah Bahasa yang digunakan masyarakat Kota Medan yang berarti berbincang-bincang.

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi