Segelas Kopi Retro-Nasionalisme

Warkop Indonesia. © Eko Susanto

Sebuah papan kayu besar bertuliskan ‘Warkop Indonesia’ terpampang di tempat ini. Dari perempatan jalan ganda depan Fakultas Peternakan UGM terlihat papan tersebut. Warna papannya sama dengan bendera Indonesia, merah dan putih.

Saya masuk ke dalamnya. Ada 5 set meja-kursi. Di kanan dua, di kiri tiga. Di pojok kiri, ada sebuah screen berukuran kira-kira 1×1,5 meter menampilkan tayangan salah satu TV swasta. Ruangan ini dipenuhi dengan pernak-pernik klasik.

Saya mulai mengamati, ada dua termos tua dan lusuh di pojok ruangan. Termos air hangat dan termos es batu. Di atasnya, foto-foto pahlawan terpampang. Pertama dan paling besar, foto termasyhur Soekarno yang sedang duduk dengan kaki dilipat. Di sebelahnya, potret-potret belasan pahlawan pergerakan nasional baik yang hidup sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Saya berjalan lagi. Tepat di depan saya, ada lemari tua berisi sekumpulan dompet berukuran mini dengan gambar boneka. Ada pula sebuah radio tua yang mempermanis tampilan lemari tua ini.

Satu benda yang membuat saya tercengang, di rak nomer 2 ada sebuah buku tebal, Di Bawah Bendera Revoloesi Jilid II. Saya meraihnya, membaca sedikit, dan merasakan gurat-gurat kertas buku ini menyentuh jari-jari tangan kanan saya.

* * *

Wall of hero. © Eko Susanto

Selang beberapa menit setelah saya mendapatkan tempat duduk, persis di depan layar raksasa, si pemilik, Dony Dwiharto, datang menemani saya. Pria subur ini duduk berdampingan dengan istrinya, Rizki Trisna Suci.

“Saya kan aktif di Gerakan Cinta Indonesia, terus punya Colourfull Indonesia yang jadi Toko Kaos Indonesia, nah gak teman-teman sering ngumpul di situ. Tapi karena tempatnya sempit, jadi saya mikir, harus punya warung kopi. Lha semuanya suka ngopi. Jadi buka warung kopi,” tutur Donny membuka cerita Warkop Indonesia ini.

“Dulu tahun pertama namanya Warkop DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sini sempat jadi posko Keistimewaan Yogya. Kan dulu ramai-ramainya,” lanjutnya, “sekarang sudah selesai, dan saya pengen menasional, jadi namanya diganti ini, Warkop Indonesia.”

Memang nampak sekali keinginan kuat Dony untuk membuat warungnya bernafas Indonesia. Selain benda-benda yang langsung menarik perhatian ketika pertama kali masuk, di dinding dekat pintu masuk, ada sebuah peta Indonesia. Di sisi lain warung ini, ada pula naskah Pembukaan UUD 1945.

Dony punya sebutan sendiri tentang suasana di warungnya ini: “Retro Nasionalis.”

Pria ramah ini mengaku kalau sudah sekitar satu dekade lamanya ia terobsesi oleh 2 hal. Pertama, sudah ia buktikan dengan nuansa di warungnya ini.

Seperti yang ia katakan dengan berapi-api, ia akan selalu membawa nuansa Indonesia di tempat usaha yang akan ia dirikan. Termasuk Warkop Indonesia yang akan ia pindah ke tempat yang lebih luas. Dony pun sedang bersiap merealisasikan rencananya untuk membuka Warkop Indonesia di 2 kota lain, yakni Surabaya dan Bandung. Ia memperkirakan kalau tahun depan, setelah Warkop Indonesia pindah ke tempat yang lebih ‘layak’, ia sudah bisa membuka Warkop Indonesia di 2 kota metropolitan tersebut.

Kedua, adalah kopi. Khususnya, kopi Sidikalang Sumatera.

* * *

A cup coffee. © Eko Susanto

“Tahun 2002, saya pernah ditraktir teman ke Jepang. Sebulan itu saya di Jepang. Nah waktu di coffee shop, di Kyoto, tapi saya lupa nama coffee shopnya, saya pesan kopi. Wah enak banget kopinya. Ternyata setelah teman saya tanya, itu kopi Toraja!” tuturnya setengah berteriak.

Setelah pulang dari Jepang, ia menyimpan lekat-lekat ingatan itu. Tapi kesempatan belum datang, ia masih belum punya cukup uang untuk mengeksekusi mimpinya. “Saya pengen mengenalkan ke anak muda, kopi dari Indonesia itu diakui, dihargai di luar. Kok malah pengen ngopi luar negeri,” begitu ia mengkristalisasi impiannnya dalam kata-kata.

Sampai di Indonesia, Dony lalu bekerja di sebuah artist management. Ia yang harus bekerja sampai semalam suntuk, terus bersentuhan dengan kopi dan makin mencintainya. Sambil terus mematangkan rencana untuk membuka warung kopi.

Lalu tak dinanya, seorang perempuan datang. Ia Rizki, yang sekarang menjadi istrinya. Rizki berasal dari Binjai, yang amat dekat dengan Sidikalang, salah satu kecamatan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang telah tersohor sebagai penghasil kopi bermutu. Kebetulan pula, kerabat Rizki adalah pemasok kopi. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Akhirnya, setelah niatnya membuka warung kopi, yaitu Warung DIY yang kemudian bermetamorfosis menjadi Warkop Indonesia, ia memakai kopi dari Sidikalang. Perlahan, Dony belajar menangani kopi yang memang terkenal sebagai tanaman rewel.

“Kalau Kopi Sidikalang, mas, saya gak berani sembarangan. Saya simpan bubuknya di tupperwear (tempat plastik kedap udara) yang saya lapisi kertas aluminium foil,” jelasnya, “jadi waktu dibuka, whurrr… Aromanya sudah terasa. Kalau kopi biasa gak perlu, mas. Lebih kecil resikonya.”

Bahkan esok, ketika sudah pindah ke tempat yang ia inginkan, Dony akan langsung mendatangkan barista dari Binjai.

* * *

Soal kecintaannya pada barang-barang beraura klasik, Dony mengatakan kalau semua berawal dari rumah eyang. Ia selalu ingin mengekalkan ingatan ketika ngopi di rumah eyangnya. Itulah yang kemudian membuatnya gemar mengumpulkan barang-barang retro, hingga ke yang paling kecil semacam termos, kursi, dan tulisan-tulisan di papan rumah kuno. Seperti tulisan ‘Maloe Membeli Sesal Dihatie,’ yang ia dapatkan di salah satu pasar tradisional di Semarang.

“Mas, aku cuma pengen setiap orang yang datang ke Warkop Indonesia seperti ada di rumah sendiri. Bukan ke warung, tapi ke rumah sendiri,” ucapnya sambil menerawang. Rizki hanya tersenyum manis mendengar penuturan suaminya.

Ini nampak dari penataan kursi dan meja di warung ini. Ada kursi yang sandarannya memakai anyaman rotan yang dilengkapi meja bulat dari kayu, persis seperti yang ada di rumah-rumah tua. Di sisi lain warung ini, ada meja rias disertai kaca mungil. Nyaris mirip dengan rumah yang dipakai untuk film dengan latar tahun 1960-1970an.

Dony dan Rizki juga sengaja menggunakan gelas belimbing di warungnya. Gelas tersebut ditemani oleh sendok dari seng dengan gagang panjang dan lebar. Nuansa retro hadir di sini sejak pertama kali menginjakkan kaki sampai menyesap kopi.

Situasi yang retro-nasionalis ini disukai pengunjung. Seperti yang tampak pada malam saya berkunjung, Warkop Indonesia penuh. Dony dan Rizki mengaku kalau memang warung mereka ini ramai. Bahkan kelewat ramai. Dengan luas ruang yang tak seberapa, Dony bahkan harus menyiasati agar para pengunjung tak datang bersamaan. Ia memecah pertemuan berbagai komunitas yang biasa mengadakan rapat atau diskusi di warungnya.

Dony turut mengatur jadwal mereka, “Aku malah serem kalau ramai ngumpul semua, mas. Makanya aku atur, gantian jadwalnya. Kalau enggak, wah bisa repot.”

Hal ini dilakukan, selain karena kapasitas warungnya yang tak seberapa, juga untuk menghindari ketaknyamanan warga sekitar. Pernah Dony dan para pegawainya ditegur karena kendaraan-kendaraan para pengunjung sampai di depan rumah warga.

* * *

Siang keesokan harinya, ketika kepala saya masih merasakan efek beberapa cangkir kopi semalam, tiba-tiba sebuah pesan mendarat di telepon genggam saya. Saya tak kenal nomornya. “Semalam aku lupa kasih tahu kalau Warkop Indonesia punya tagline ‘Pejuang Butuh Begadang’. Kami mengundang seluruh pejuang Kehidupan untuk tetap semangat kerja keras. Hehe!”

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405