Segelas Kopi Joss di Stasiun Tugu

Kopi Joss - Angkringan Lek Man - Yogyakarta
Kopi Joss – Angkringan Lek Man – Yogyakarta

Sebuah kota tanpa identitas kopi seperti kota yang hidup hanya dengan kegembiraan. Meski dikawinkan dengan gula, kopi tetap saja menyediakan rasa pahit. Rasa pahit kopi menjadi semacam ramuan mujarab bagi penghuni kota dalam menghadapi kerasnya aktivitas sehari-hari.

Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Yogyakarta, saya kira saya tak dapat menikmati kopi sama sekali di sini. Di sebuah angkringan, dengan tubuh yang lelah setelah setengah hari perjalanan dari Jember, saya memesan segelas kopi. Astaga! Betapa terkejutnya saya, di meja terhidang segelas kopi besar lagi encer. Karena telah terlanjur pesan, terpaksalah saya minum. Ah, rasanya begitu tawar. Lidah bermasalah dengan kopi ini.

Selanjutnya, saya memesan kopi di angkringan lain. Pikirku, mungkin hanya kebetulan saja di angkringan itu kopinya terasa aneh. Kali ini saya memesan dengan petunjuk khusus pada si penjual, “Kopinya kental, airnya sedikit.” Sebab, mataku sama sekali tak menemukan cangkir kecil dalam barisan gelas angkringan itu. Si penjual itu lalu menakar-nakar sajiannya itu.

Nasib itu terulang lagi. Walaupun, airnya telah dikurangi, saya kembali dihidangi segelas kopi besar dengan air tiga perempat gelas. Kopinya tak kental, ini seperti siksaan saat menegaknya. Rasa kopi tak kuat.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tempat saya lahir dan besar, sudah kebiasaan menyeduh kopi dengan cangkir kecil namun kental. Aroma kopi akan menyebar begitu tutup dibuka. Pahit dan ada getir yang terasa di lidah. Di penjuru desa akan banyak tersedia warung yang menyediakan kopi seperti ini. Di sawah-sawah, para petani yang sedang istirahat akan berkumpul di warung sambil menghisap kretek dan menikmati secangkir kopi.

Kali ini saya menuju angkringan Kopi Joss. Ini kunjungan kali kedua. Pada kesempatan pertama, saya berkunjung sebab tertarik dengan cerita seorang kawan yang juga penikmat kopi. Kopi Joss, apa menariknya? Apakah mungkin di Yogya yang tradisi minum tehnya lebih mengakar punya suguhan kopi ‘istimewa’?

Kopi Joss - Angkringan Lek Man - Yogyakarta
Kopi Joss – Angkringan Lek Man – Yogyakarta

Bilamana Anda berjalan-jalan di Malioboro, ada baiknya menyempatkan waktu untuk menikmati kopi khas yang dihadirkan di Yogya ini. Angkringan Kopi Joss ala Yogyakarta memang mulai merebak di banyak wilayah. Namun, yang paling banyak memikat pengunjung adalah kopi yang disuguhkan di angkringan Kopi Joss di sebelah utara Stasiun Tugu.

Angkringan Kopi Joss ini buka setiap hari, mulai pukul 14.00 sampai dini hari. Tapi sayang, cuaca sedang tidak bersahabat saat saya berkunjung ke sana, 4 Februari 2012. Hujan tak henti-hentinya mengguyur.

Sampai di sana, telah banyak orang yang merapat di lapak-lapak angkringan. Sebagian memang hendak meminum kopi, sebagian lagi menyempatkan pula berteduh. Untungnya, saya masih mendapatkan tempat untuk duduk, meskipun cipratan air hujan tak terhindarkan membasahi tubuh bagian belakang.

Saya memesan Kopi Joss. Kawan di sebelah memesan segelas teh. Tak lama kemudian di depan telah terhidang segelas Kopi Joss. Ya, segelas, saya tak salah. Karena kopi ini disajikan dengan gelas yang sama besar degan kopi-kopi di tempat lain di kota ini. Sedang di daerah lain biasa mengatakan secangkir kopi. Perbedaan Kopi Joss dengan kopi lain di kota ini, adalah arang yang menyembul dari dalam gelasnya.

Di kejauhan ada satu keluarga yang berteduh dari hujan di angkringan Lek Man, tempat saya duduk dan memesan kopi. Si ayah dan ibu lebih memilih teh daripada Kopi Joss. Nampak kedua anaknya ingin merasakan Kopi Joss. Keluarga itu tampak melakukan tawar menawar. Tak lama kemudian tercapai kesepakatan di antara mereka: dua anak itu akan meminum segelas Kopi Joss untuk berdua.

Kopi Joss - Angkringan Lek Man - Yogyakarta
Kopi Joss – Angkringan Lek Man – Yogyakarta

Kopi di meja masih sangat panas, saya masih tak berani menyeruputnya. Arang membara diambil dari tungku tempat memanaskan air, lalu dimasukkan pada segelas kopi. Seorang bocah yang lebih besar dari keluarga itu rupanya tak sabar untuk menikmati Kopi Joss. Dengan sedotan, ia menyeruput kopi. Dia terkejut.

“Panas, panas,” katanya, sambil mengeluarkan lidahnya. Ayah dan ibunya hanya tertawa.

Busa berwarna coklat mengambang di bagian atas. Kopinya lebih hitam, mungkin karena arang yang ada di dalamnya. Saya baru berani meminumnya setelah yakin tak terlalu panas lagi. Rasa khas tersaji di lidah. Ada pahit seperti kebanyakan kopi dan rasa arang masih terasa.

Meski telah banyak dijual di berbagai tempat. Namun di tempat saya duduk inilah asal mula Kopi Joss. Kopi Joss Lek Man, nama angkringannya.

Angkringan ini telah diwarisi secara turun menurun. Pak Kobar, penjualnya saat ini, adalah generasi ketiga dari keluarga penjual Kopi Joss. Pak Kobar hanya menjual kopi selama 14 hari setiap bulannya. Ia meski berbagi rezeki dengan keluarga yang lain. Bilamana sedang tak ada jadwal berjualan, ia istirahat di rumah.

Kakek Pak Kobar, Sisdiman, adalah si jenius penemu ramuan Kopi Joss. Ya, walaupun sudah menjadi ikon, penemuan ini awalnya cuma coba-coba. Ketika itu, ada penjual kopi kaleng dari Semarang yang kerap berkunjung ke Yogya. Rupanya si kakek ingin tahu bagaimana rasa kopi jika dicampur arang. Maka dicobalah. Lah kok, rasanya berbeda.

Dari sana, mula kebiasaan sang kakek. Akhirnya, penemuan itu diujicobakan pada khalayak umum. Nama angkringan Lek Man dari nama Sisdiman pula, sang penemu Kopi Joss. Kopi Joss, berasal dari bunyi yang ditimbulkan saat arang membara dimasukkan ke dalam segelas kopi: josssss.

“Sebelum ada Ekstra Joss, kita sudah joss terlebih dahulu,” canda Pak Kobar menyinggung sebuah minuman berenergi yang juga menggunakan label ‘joss’.

Ayah Khobar, Poiro, meneruskan usaha ayahnya. Cara menjualnya sama-sama berkeliling, belum menetap. Baru tahun 1970an, Poiro memiliki tempat menetap untuk angkringan jualannya. Pertama kali di area Taman Hiburan Rakyat (THR), kemudian mereka pindah di stasiun Tugu sampai sekarang ini.

Di tahun 2007, ada Peraturan Walikota yang melarang orang berjualan di trotoar. Negosiasi dilakukan dengan kesepatan bahwa bangunan yang digunakan untuk berdagang tidak lagi permanen. Saat pagi hari, semuanya telah bersih dan para pejalan kaki tak terganggu saat melintas di trotoar.

* * *

Kopi ini telah menjadi salah satu ikon Yogya. Belakangan, banyak pihak menyadari hal ini. Contohnya, Garuda Indonesia memasukkan Kopi Joss dalam promosinya tentang Indonesia.

Banyak orang berkunjung ke tempat ini untuk menikmati Kopi Joss.

Kebanyakan mereka yang memesannya memang bukan orang Yogya, tapi orang yang kebetulan datang ke Yogya dan ingin merasakan kopi campur arang. Orang dari Yogya sepertinya lebih memilih meminum teh daripada Kopi Joss. Dari sekitar delapan orang di meja ini, hanya saya sendiri yang memesan Kopi Joss.

“Sesekali saja kelompok kami meminumnya,” kata Kusmono, pelanggan setia angkringan Lek Man. Kawannya, Budi, atau biasa dipanggil Ping, membenarkan pendapat ini.

Kusmono dan kelompoknya baru akan memesan Kopi Joss apabila sedang tidak enak badan. Menurutnya Kopi Joss bisa menggurangi masuk angin. “Memang belum ada penelitian ilmiah yang sudah menguji ini, tapi banyak orang yakin akan khasiat itu. Mungkin karena panas, keringat keluar dari tubuh,” terang Pak Kobar.

Kopi Joss - Yogyakarta
Kopi Joss

Di angkringan Kopi Joss tak hanya Kopi Joss saja yang ditawarkan pada pengunjung. Teh, tentu saja. Teh ini yang justru lebih banyak dipesan orang, terutama penduduk lokal.

Saya merasa beruntung kunjungan kali ini dibarengi hujan lebat dan sedikit cipratan air hujan. Jika tidak, pasti bukan main ramainya pengunjung. Apalagi sekarang malam Minggu. Deretan trotoar di seberang jalan akan terisi penuh, banyak orang yang akan memesan Kopi Joss. Tapi sayang, kebanyakan orang yang ada di angkringan Lek Man kali ini memesan teh. Saya tidak bisa bertanya lebih jauh soal sensasi yang dirasakan penikmat kopi.

Kopi Joss ini mulai ramai dikunjungi orang baru menjelang tahun 2000. Seturut pengakuan Pak Kobar, orang hendak mengetahui rasa kopi dicampur arang. “Tangapan mereka sih enak,” katanya.

Banyak orang dari luar Yogya serasa belum berada di kota ini bila tidak menikmati Kopi Joss. Kusmono pun bercerita tentang seorang Skotlandia yang ketagihan Kopi Joss ini, yang sempat ia temui beberapa waktu yang lalu. Orang Skotlandia itu bekerja sebagai guru di Surabaya, setiap berkunjung ke kota ini ia akan mampir ke Kopi Joss Lek Man.

Menurut Pak Kobar, tak ada ramuan khusus dari Kopi Joss miliknya. Itu sama dengan yang dijual di angkringan Kopi Joss lain. Kopi yang digunakan olehnya adalah kopi lokal saja. Saya jadi tertarik dengan kayu yang digunakan sebagai arang. Tapi ia menjawab, tak ada yang istimewa juga. Arang itu terbuat dari kayu sambi.

“Mungkin orang ingin mencoba saja rasa kopi campur arang,” tebak Pak Kobar.

Menjelang akhir perbincangan, Pak Kobar membocorkan tips khusus menikmati kopi ini. Tadinya, saya langsung menegak begitu saja saat dirasakan tak terlalu panas.

Namun, Pak Kobar mengatakan, bila meminum Kopi Joss ada baiknya segelas kopi itu ditutup terlebih dahulu menggunakan lepek. Diamkan selama beberapa menit, lalu buka dan arang dikeluarkan dari dalam gelas. Aromanya menusuk ke hidung akan lebih terasa bila menggunakan cara demikian.

Saya menyesal karena langsung menegaknya. Lain kali, teknik yang diajarkan Pak Kobar pasti akan saya coba saat singgah lagi ke sini, Angkringan Lek Man.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Yeah, kopi Jember jauh lebih juara. Kota Jogja agaknya tak punya tradisi minum kopi yg layak dibandingkan dengan Jember.
    Salam.