Sega Gegog Mbah Tumirah

Sajian Nasi Gegok lengkap dengan tahu dan tempe goreng.
Sajian Nasi Gegok lengkap dengan tahu dan tempe goreng. | © Muhammad Choirur Rokhim

Nasi gegog merupakan representasi makanan suatu wilayah berlatar agraris. Mulanya nasi (Trenggalek: sega) gegog ini adalah nasi bekal (bontot) yang dibawa para peladang dan petani berkebun atau bertani di area kaki Gunung Wilis. Dulu, makanan bekal atau bontot para peladang atau petani dibungkus dengan menggunakan daun pisang atau daun jati. Sehingga rasa makanannya khas bau daun dan tentunya enak sekali.

Begitupun sega gegog ini: makanan yang berkomposisi nasi dan sambel teri—dari dulu sampai sekarang—masih mempertahankan ke-khas-an: dibungkus daun pisang. Kebiasaan membungkus nasi dengan daun pisang ini kerap dilakukan warga desa untuk membungkus nasi bekal saat beraktivitas di ladang maupun hutan. Bila nasi dimasak secara langsung bersama dengan bungkusnya maka makanan tidak gampang basi dan bontot bisa bertahan cukup lama.

Kabupaten Trenggalek kita kenal dengan Kota Wisata dan kulinernya. Jika “Kota Kuliner”, kita mengenal dengan camilannya. Kota ini kerap disebut Kota (Tempe) Kripik, Kota Alen-Alen, Kota Gaplek dan beberapa stigma buruk nan ndesit dahulunya. Perkara urusan perut, kota yang dalam sejarahnya pernah dihapus dari peta secara administratif oleh pemerintah kolonial—tidak ada habisnya. Nasi gegogtermasuk kuliner terkenal di Kabupaten Trenggalek.

Nasi gegog menjadi makanan khas Trenggalek, yang bertempat di Kecamatan Bendungan. Tetapi, nasi gegog bisa kita jumpai di daerah kaki Gunung Wilis. Termasuk di kawasan sisi utara Kecamatan Bendungan, yaitu Pulung, Kabupaten “Reog” Ponorogo, juga Kabupaten Tulungagung yang letak geografis bersebelahan dengan Kecamatan Bendungan.

Lokasi Kecamatan Bendungan, jika kita sudah berada di Alun-Alun Kota, maka tinggal menuju utara arah ke Ngares. Kurang lebih setengah jam perjalanan dari Pendapa kabupaten. Jalur menuju di warung-warung nasi gegog ini lumayan berliku. Turun bukit, naik bukit. Namun, Anda jangan berkecil hati. Di sana Anda akan menjumpai pemandangan alam yang indah. Banyak pepohonan pinus tumbuh nan ijo royo-royo di kanan kiri jalan. Bila sampai di Kecamatan Bendungan, Anda menjumpai beberapa warung atau angkringan yang menjual sego gegog. Namun ada satu warung atau angkringan sega gegog masih tetap berdiri kokoh, yaitu warung sega gegog Mbah Tumirah. Lokasinya di pertigaan jalan Desa Srabah, Kecamatan Bendungan.

Jika dilihat dari komposisinya, makanan ini sederhana sekali: beras, cincangan bawah merah, bawang putih dan ikan teri beserta sambal. Sambal bisa dipisahkan dulu ketika nasi belum jadi alias setengah matang. Bila nasi setengah matang telah siap maka bumbu tersebut bisa dibungkus (sambal teri dan cincangan bawang merah, bawang putih tadi) dengan daun pisang. Kesemuanya lalu dikukus dalam wadah sampai daun pisang berubah warna menjadi kecoklatan. Tungku yang digunakan adalah alat tradisional, menggunakan bara api dari pembakaran kayu. Hasil pencarian di hutan di sekitar. Kayu yang digunakan adalah kayu yang jatuh dari pohon, bukan hasil menebang hutan.

Nasi Gegok, kukusan nasi pulen dipadu dengan sambal teri yang dibungkus daun pisang.
Nasi Gegok, kukusan nasi pulen dipadu dengan sambal teri yang dibungkus daun pisang. | © Muhammad Choirur Rokhim

Tampilan nasi atau sega gegog memang terkesan tradisional. Tetapi kita wajib bersyukur, di tengah-tengah makanan modern menjamur nan hadir menyerbu toko kelontong depan rumah kita, nasi gegog tetap eksis dan menjadi produk makanan khas daerah.

Begitupun yang dilakukan oleh Mbah Tumirah, ia dengan kesabaran dan kesederhanaannya bertahan dalam berjualan sega gegog di warungnya selama 25 tahun lebih.

“Aku wes lali, Mas (Aku sudah lupa, Mas),” tambah Mbah Tumirah.

“Aku dodolan sega gegog iki wes selawe tahun luwih (Aku berjualan sega gegog ini sudah lebih dua puluh lima tahun),” ujarnya saat saya tanyai sambil mengambilkan gorengan.

Usia Mbah Tumirah tidak muda lagi. Usianya berkisar 80-an lebih. Tetapi ia masih gesit saat meladeni para pelanggan membeli saat berkunjung di warungnya. Di warungnya juga kerap didatangi para pemburu kuliner dari luar kota. Bahkan tamu-tamu penting atau pejabat “birokrasi” pemerintahan sering berkunjung untuk sekadar menikmati sega gegog ini.

Saya teringat dengan ucapan teman saat itu. Teman saya mengatakan bila ingin berbisnis maka yang kamu jual bukan hanya produk saja, tetapi juga berjualan waktu.

Setelah saya merenung dari sikap atas kesabaran dan keuletan Mbah Tumirah, ucapan seorang teman tadi ada korelasinya. Maksud ucapan teman saya adalah jika kita sudah memiliki produk, maka yang kita pikirkan kemudian adalah bagaimana mempertahankannya. Tentu agar cita rasa suatu produk kita itu bisa bertahan lama. Syukur-syukur kalau bisa jadi makanan khas.

Nasi atau sega gegog tetap bertahan dan menjadi salah satu kuliner legendaris di Kabupaten Trenggalek. Selain terkenal dengan rasanya yang lumayan pedas, harga satu bungkus sega gegog ini cukup murah. Anda cukup mengeluarkan Rp. 2500 atau Rp. 3000 dari kantong saku Anda. Porsinya mirip satu kepel nasi kucing di angkringan. Tetapi ukuran porsi satu bungkus ini berbeda “sega kucing”. Satu bungkus sega gegoglebih banyak dikarenakan nasinya pulen di dalam bungkus tersebut. Jadi padat sekali.

Namun bagi Anda yangkurang kenyang, saya sarankan Anda bisa nambah satu bungkus lagi. Tapi saya jamin, bila telah habis 2 sampai 3 bungkus, perut Anda bakal kemlekaren. Makan sega gegog paling pas ditemani satu gelas teh anget serta gorengan tahu dan tempe.

Begitu kiranya.

Silahkan Anda mencobanya.

Muhammad Choirur Rokhim

Lahir di Trenggalek. Besar di Jalan. Mengadukan nasib di kota orang.