Sedekah Bumi: Sebuah Usaha Merawat Masa Lalu

Ia menjemput saya dua jam lalu dan menjerumuskan saya berjam-jam kemudian ke dalam situasi rumit. Di sinilah saya kini, duduk bersimpuh di samping makam yang asing. Aroma dupa dan kemenyan menusuk tajam, harum yang membangkitkan kuduk dan ingatan akan cerita-cerita seram. Pepohonan trembesi tumbuh menaungi, seperti gerbang gaib yang akan menghirup saya ke lain dunia dan tak akan pernah kembali. Seperti lubang hitam. Seperti kematian.

Tetapi saya belum mati, dan di depan sana seorang lelaki tua mendaraskan doa, barangkali juga mantra, dalam geraman dan lengkingan yang mengancam. Ia mengangguk meski tak ada yang bertanya, dan tangannya yang tremor mengusap-usap batu nisan dalam gerak pelan. Tak saya lihat rautnya, sebab asap kemenyan menyelubunginya hingga pekat. Wangi yang tak luruh oleh angin dan cahaya matahari….

Sebentar—matahari? Iya, matahari. Sebab adegan di atas bukan pembukaan cerita klenik seperti yang Anda duga, melainkan fragmen prosesi sedekah bumi yang diadakan di dukuh Ngareng saban tahun.

Sedekah bumi, atau yang warga di sini menyebutnya manganan, adalah ritual yang rutin diadakan di daerah Cepu dan sekitarnya, yang selalu diawali dari desa Janjang di kecamatan Sambong dan diakhiri di dukuh Ngareng di Kecamatan Cepu. Sedekah bumi juga diadakan di desa-desa lain, yang waktu pelaksanaannya tak pernah mendahului desa Janjang dan atau selewat dukuh Ngareng.

Ritual ini sebagian besar digelar di makam sesepuh desa, yaitu seseorang yang kali pertama membabat alas ratusan tahun silam di desa tersebut agar bisa dihuni. Membuka hunian jelas bukan pekerjaan mudah, mengingat pencipta alat berat manapun belum dilahirkan kala itu. Belum lagi urusan negosiasi dengan bangsa lain yang menghuni wilayah itu sebelumnya.

Pendeknya, sesepuh desa adalah pahlawan, yang tanpa bantuan tenaga dan kesaktiannya sebuah desa tak akan pernah berwujud. Oleh sebab itu, masyarakat turun-temurun melangsungkan ritual sedekah bumi sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang leluhur.

Ritual Sedekah Bumi
Ritual Sedekah Bumi | © Kukuh Purwanto
Ritual Sedekah Bumi
Ritual Sedekah Bumi | © Kukuh Purwanto

Saya tak sempat mengikuti sedekah bumi di desa Janjang dan desa-desa lain, tetapi beruntunglah tahun ini saya berkesempatan menyaksikan prosesi sedekah bumi di dukuh Ngareng.

Sedekah bumi di Ngareng, seperti yang sudah saya singgung, adalah penutup rangkaian sedekah bumi di daerah Cepu dan sekitarnya. Ritual ini digelar di makam Mbah Ridho yang, uniknya, terletak di dalam kompleks Pusdiklat Migas Cepu. Makam itu bernisan dua yang diselubungi kain putih, serta dinaungi pohon trembesi raksasa yang barangkali setua makam itu sendiri. Letaknya yang berbagi area dengan Pusdiklat Migas tak memungkinkan untuk dibangun cungkup atau malah joglo seperti makam kuno lain. Namun, arsitektur amat minim itu tak mengurangi aura magisnya.

Sedekah bumi Ngareng selalu diadakan pada Jumat Kliwon di bulan kedelapan atau kesembilan. Sejak pukul sepuluh pagi warga telah memenuhi area makam sambil membawa aneka penganan. Satu demi satu, mereka menyodorkan penganan bawaannya kepada pemimpin prosesi sembari menyampaikan harapannya di tahun tersebut.

“Macam-macam, Mas,” jawab Mbah Jas, pemimpin prosesi, kepada saya setelah acara selesai. “Yang paling sering ya minta kelapangan rejeki dan sehat terus. Ada juga yang minta didoakan agar anaknya lancar dalam bersekolah. Yang masih lajang, kayak bapak di sebelah Mas tadi, minta cepat dapat jodoh. Mas juga mau saya doakan cepat menikah, tidak? Mumpung sudah sepi.”

Butuh nyali sebesar gugus galaksi, yang sayangnya tak saya miliki, untuk mengiyakan tawarannya. Saya belum siap mendapati nama saya dicoret dari Kartu Keluarga oleh istri.

Ritual di makam Mbah Ridho berakhir dengan pembagian penganan. Semua orang diwajibkan membawa pulang penganan yang telah diberkati tersebut, meski hanya sekadar nasi ketan. Saya kebagian nasi kuning dalam bungkus daun pisang, dengan mi goreng dan perkedel dan sayap ayam panggang terkubur di dalamnya. Lumayan.

Namun, prosesi masih berlanjut. Setelah shalat Jumat, ritual berpindah ke pemakaman umum di utara dukuh. Tak seperti sebelumnya, warga tak merubung satu makam yang ditentukan. Mereka berpencaran ke masing-masing makam kerabatnya, berdiam di sana hingga seorang tokoh agama yang berdiri di tengah area makam selesai mendaraskan doa.

Sekitar pukul dua siang ritual ini berakhir, dan akan dilanjutkan esok hari dengan ritual puncak berupa pagelaran ketoprak. Ketoprak di sini bukanlah irisan ketupat dengan bihun dan saus kacang seperti yang dijajakan di Jakarta, melainkan drama khas Jawa yang menampilkan lakon tertentu dengan iringan gamelan.

Pagelaran ketoprak ini dimulai sekitar pukul sembilan malam hingga pukul empat dini hari. Anehnya, lakon yang dibawakan selalu sama sejak dulu, yaitu Lutung Kasarung. Lakon tersebut, konon, adalah lakon favorit Mbah Ridho semasa hidupnya dulu, yang tetap ia gemari hingga ratusan tahun setelah kematiannya.

Pagelaran ketoprak dengan satu lakon sepanjang masa, yang tiap adegannya itu-itu saja sampai warga lambat laun menghapalnya sebaik menghapal nama sendiri, tak pelak menimbulkan kebosanan juga. Namun, tak pernah ada yang berani mengganti lakonnya. Atau, pernahkah?

“Satu kali, Mas, di tahun delapan puluhan seingat saya,” terang seorang warga yang saya lupa tanyai namanya. “Awalnya semua baik-baik saja hingga angin ribut tiba-tiba datang dan merubuhkan panggung. Pemain yang ada di panggung semuanya tewas. Yang tersisa di ruang ganti menyusul beberapa jam kemudian dalam kecelakaan saat mereka pulang. Kapok warga.”

Ia juga menuturkan cerita mengenai pagelaran ketoprak di tahun lalu yang tak bisa disebut lancar. Ketua panitia saat itu, seorang pemuda tanggung yang ingin membuat perubahan kecil-kecilan, menyelipkan orkes dangdut sebelum ketoprak dimulai. Tak ada angin ribut, memang, tetapi beberapa penonton kesurupan. Bulan berikutnya, sang ketua panitia juga kesurupan, dan butuh lusinan orang pintar dan waktu nyaris setahun untuk menyembuhkannya.

Peristiwa itu menjadi pengingat warga kepada siapa segala prosesi tersebut ditujukan. Pada penyelenggaraan sedekah bumi tahun ini, ketua panitia, Bapak Driyono, memutuskan untuk kembali ke pakem prosesi.

“Besar taruhannya bila saya gegabah seperti panitia tahun lalu,” ujarnya. “Inti dari sedekah bumi adalah memanjatkan rasa syukur dan meminta keselamatan untuk warga. Kalau acara yang disusun malah membawa petaka, lalu buat apa mengadakan sedekah bumi?”

Bapak Driyono juga menerangkan esensi dari sedekah bumi kepada saya. Menurut bapak tiga anak ini, ritual sedekah bumi dapat menciptakan rasa kesinambungan dengan masa lalu sekaligus mengingatkan warga pada unsur yang membentuk mereka.

Ritual Sedekah Bumi
Ritual Sedekah Bumi | © Kukuh Purwanto
Ritual Sedekah Bumi
Ritual Sedekah Bumi | © Kukuh Purwanto

Segala ritual sedekah bumi yang dijalani oleh warga nyaris tak berubah sejak masa kakek buyut mereka; makam yang diziarahi, rapalan doa yang dilantunkan, hingga lakon ketoprak yang ditonton, adalah ritual yang juga leluhur mereka jalani, dan itu menciptakan rasa terhubung yang melegakan. Bagaimanapun, lanjutnya, tercerabut dari asal-usul dapat berdampak buruk bagi kehidupan seseorang.

Namun, seiring perkembangan zaman, kompleksitas hubungan sosial membuat beberapa pihak sempat menentang penyelenggaraan sedekah bumi dengan alasan kegiatan tersebut mendekatkan warga kepada perbuatan syirik. Benarkah tudingan mereka?

“Kami tidak beribadah di kuburan Mbah Ridho, dan tidak pula menganggap beliau sebagai tuhan. Syirik macam apa yang kami perbuat kalau begitu?” tutur Bapak Driyono dengan mimik gusar. Lanjutnya, “Itulah dampak buruk yang saya maksud tadi. Mereka melupakan asal-usul, melupakan sejarah, sampai tak tahu kalau Mbah Ridho sendiri adalah penyebar agama Islam di wilayah sini. Mereka lupa pada unsur bumi yang membentuk jati diri mereka sehingga bersifat langit dan menuduh sesat kepada siapapun yang masih menjejak tanah.”

Hujan sedari senja tak menyurutkan animo warga yang ingin menonton ketoprak. Saya berdiri di antara mereka, menyaksikan lakon ketoprak yang boleh jadi juga ditonton oleh leluhur kami semua. Di situ, di tengah-tengah ratusan manusia yang berbagi kegembiraan, saya mulai meyakini bahwa sedekah bumi tak sekadar merawat ingatan, melainkan upaya untuk terus merayakan kehidupan.

Kukuh Purwanto

Tukang kaca


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405