Secuil Obrolan dari Join Kopi

Lagu BB King sepoi-sepoi mengalun dari alat pemutar musik di kedai Join Kopi. Mesin seduh menguarkan aroma kopi robusta. Baku bual dan cekikik orang merayakan kopi mengentalkan suasana blues Rabu malam itu.

Kedai yang posisinya di pojok GOR Bulungan ini berbeda dari suasana coffee shop di bilangan Blok M umumnya. Bangku kayu dan meja dibuat cukup berjarak. Ada meja kopi melingkar di bawah pohon palem. Ada bangku panjang dari kayu. Join Kopi demikian nama kedai ngopi yang terbuka bagi sapa saja. Bagi perokok maupun non-perokok. Semua membaur menikmati suasana tanpa hijab. Tanpa harus dibagi-bagi secara khusus hak ruangnya.

Kedai Join Kopi
Kedai Join Kopi © Jibal Windiaz

Rabu malam adalah jadwal rutin para pegiat komunitas Jakarta Pipe Club (JPC) berkumpul. Kesempatan itu biasanya diisi dengan kegiatan ‘nyabar’ alias nyangklong bareng dan berbagi pengalaman tentang berbagai taste tembakau. Suasana guyub itu kerap pula diselingi obrolan tematik.

“Mas, origin Join Kopi satu ya.” Saya meminta kepada kasir, seraya mengeluarkan uang 5.000 rupiah. “Diantar ke mana pak?” Tanya sang kasir. “Ke sana, meja Komunitas Cangklong.”

Sengaja saya datang lebih awal dari jam janjian yang disepakati dengan Danial. Dia salah satu anggota JPC yang akan saya temui untuk ngobrol banyak tentang cerutu.

Dulu semasa saya remaja, rokok berukuran besar itu saya kenal dengan sebutan lisong. Kenner salah satu merek yang saya kenal. Merek lisong yang dulu menjadi syarat sesajian untuk menjamu arwah leluhur. Dari sebuah catatan lama, masyarakat Betawi menyebutnya lisong ‘si gagu’.

Saya terbilang kretekus yang beruntung malam itu, ditemani ngobrol tiga orang ‘penjelajah nikotin’ dari JPC, istilah yang dicetuskan Beben untuk menebalkan predikat kegemarannya bertualang mengonsumsi tembakau. Mas Novi, Beni, dan Beben, ketiganya berbagi cerita seputar kertas papir dan keunggulan melinting rokok sendiri.

“Papir merek Radja Mas ini kategori slow burning, tipis dan licin, beda dengan papir konvensional,” jelas mas Novi dengan santai. “Pastinya yang lebih sulit dilinting yang dari kulit jagung, orang Jawa nyebutnya klobot.” Lanjutnya lagi sambil menyelesaikan lintingan tembakau di tangan, “kalau mau nyoba silakan, Mas.”

Beben dengan pembawaan yang khas berusaha menyusul, ia bercerita pengalamannya, “Gue itu kalau merokok pabrikan bisa habis tiga bungkus lho sehari, sejak melinting gini jadi hemat, lima puluh ribu bisa buat sebulan.”

Ya, seperti diketahui bersama, akhir-akhir ini cukai rokok pabrikan trend-nya terus naik tanpa menimbang daya beli masyarakat dan kemampuan industri. Sektor industri hasil tembakau terlihat jadi sapi perahan bagi APBN. Bayangkan lebih dari 100 triliun per tahun disumbangkan para perokok bagi negara; sebuah angka yang sungguh fantastis di tengah pelambatan ekonomi dunia, bukan?

Namun, meski 100 triliun lebih telah disumbangkan, bandul kebijakan negara justru semakin nampak diskriminatif terhadap para perokok. Amanat konstitusi perihal smoking area yang menjadi mandat Putusan MK (Mahkamah Konstitusi), nyatanya diabaikan begitu saja dan tak pernah sepenuh hati diwujudkan pemerintah.

“Itulah, Mas…salah satu alasan mendasar komunitas JPC ganti nyangklong, selain harganya lebih murah, sebenarnya juga sebagai bentuk protes terselubung atas kebijakan cukai,” kata Beben. Ia tertawa sebentar kemudian melanjutkan, “Silakan saja cukai naik (secara) manasuka, akhirnya yang rugi ya pemerintah sendiri. Selain industri rumahan ambruk, pengangguran meningkat, rokok illegal merebak, lebih dari itu banyak perokok akan beralih jadi tingwe atau nyangklong.”

Bersamaan Beben menutup penuturannya, pengantar kopi datang menaruh dua gelas kopi di meja, tetapi rupanya bukan kopi pesanan saya. “Kopinya Mas ini belum ya?” tanya Mas Novi kepada pengantar kopi, dan saya cuma bisa senyum-senyum.

Masih dengan semangat menunggu, sambil berharap kedatangan Danial lebih cepat dari yang dijanjikan. Selain bertutur tentang alasan hijrahnya jadi penyangklong, Beni pun tak ketinggalan membagi pengetahuannya tentang kertas, “Selain dari wood pulp, ada juga papir yang diolah dari beras. Itu impor juga, Mas.”

Selanjutnya Beni lebih banyak bercerita tentang perkembangan komunitas JPC, yang sejak menginjak tahun kedua ini sudah memiliki koperasi. Keistimewaan bagi yang terdaftar sebagai member ialah mereka mendapat potongan harga apabila membeli produk-produk yang disediakan koperasi. Cangklong impor dengan merek berkelas yang harganya fantastis pun bisa diangsur pembayarannya melalui koperasi.

Di sela Beni bercerita, seorang lelaki berjaket hitam dan bermata oriental datang bergabung, setelah kami bersalaman, lelaki yang disapa Koko itu mengeluarkan sejumlah papir dari dalam tasnya. Papir dengan kemasan warna-warni memiliki aneka rasa, mulai dari rasa strawberi, madu, anggur, jeruk, dan sejumlah rasa lain. “Yang kayak gini belum ada nih di koperasi,” ungkap Beni lagi.

Sebenarnya masih banyak hal yang mau saya tanyakan menyoal papir-papir yang sekilas kemasannya mirip kemasan permen karet itu. Namun mengingat waktu hampir jam sepuluh malam, sementara Danial yang saya harapkan datang jam sembilan, melalui kanal WhatsApp mengabarkan perihal pekerjaan kantornya yang tak bisa segera ditinggalnya.

Dan itu menjadi isyarat bagi saya untuk tidak terlalu berharap mengikuti obrolan tentang cerutu secara lebih mendetail malam itu. Di rumah, istri dan anak saya, telah menanti kedatangan saya.

Keterangan:

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di www.bolehmerokok.com.

Jibal Windiaz

Penikmat kopi pahit, pecinta seni dan penghayat kretek di kala senggang maupun sempit.