Secangkir Sejarah

Wall menu Indische Koffie. © Eko Susanto

Selain Borobudur dan Prambanan, wisata sejarah di Yogyakarta yang paling membetot perhatian para pelancong adalah Museum Benteng Vredeburg. Vredeburg terletak di ujung jalan yang barangkali paling legendaris se-Indonesia, Jalan Malioboro. Hanya berjarak beberapa belas langkah dari pasar yang tak kalah terkenal, Pasar Beringharjo. Maka tak heran kalau Vredeburg tak pernah sepi dari pengunjung.

Sejak pertama kali didirikan pada 1760 berdasar kesepakatan antara Sultan Hamengkubuwono I dan VOC, Vredeburg sudah memikat. Ini nampak dari keterangan yang dituliskan di diorama yang ada di dalam museum.

Memang waktu itu penampilan Vredeburg tak semegah sekarang, hanya empat buah tiang kayu yang ditancapkan begitu saja sebagai tapal batas. Baru pada tahun 1767 Vredeburg dibangun secara serius atas inisiatif keraton dengan bantuan seorang insinyur asal Belanda, Frans Haak. Tahun 1867, pembangunan selesai dan jadilah awal-mula Vredeburg yang kita lihat sekarang.

Vredeburg memiliki beberapa bagian yang lalu disebut ‘aset’ ketika bertransformasi menjadi museum sekarang ini. Ada parit, jembatan gantung yang dipermanenkan, pintu gerbang, Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949, dan barak tentara.

Di dalam bangunan yang dekat dengan gerbang masuk, barak tentara, berdiri sebuah kafe. Indische Koffie, sebuah kafe yang menggabungkan bangunan klasik dan nilai-nilai sejarah dan konsep tempat nongkrong modern.

Suasana dalam Indische Koffie. © Danu Saputra

Mempesona! Begitu kira-kira kesan yang muncul saat pertama kali meninjakkan kaki di Indische Koffie. Bagaimana tidak, langit-langit yang tinggi, lemari raksasa, dan pernik-pernik menyejarah seperti deretan foto yang menggambarkan Yogyakarta beberapa dekade silam, memancarkan kesan elegan dan mewah. Sedemikian kuatnya kesan tersebut, seolah-olah kita menjadi tuan dan noni Belanda.

Belum cukup itu saja. Kesan berkelas tersebut menanjak lagi dengan pelayanan yang prima dan harga yang berada di kisaran Rp 20.000,- lebih.

Indische Koffie baru berdiri setahun belakangan. Desember 2011, manajemen mengadakan soft launching. Kemudian disusul dengan grand opening pada 4 April 2012. Acara yang disebut terakhir dihadiri juga oleh jajaran Keraton Yogyakarta.

Setelah gagal menemuinya di malam hari berikutnya, akhirnya saya bisa berbincang dengan Andrianto, humas Indische Koffie. Saya harus datang 2x ke sini karena kesibukannya yang menggunung.

Ia punya penjelasan soal pendirian Indische Koffie. Tempat ini adalah hasil kerja sama segitiga antara pihak keraton, pengelola Museum Benteng Vrederburg, dan pemilik atau penanam modal Indische Koffie sendiri. Maka, keuntungan yang didapat juga masuk ke tiga pihak.

“Tujuannya untuk memberikan nuansa baru di tengah-tengah museum. Jadi nuansa klasik dapat, pengetahuan sejarah dapat, makanan dan minuman juga dapat,” paparnya.

Tentang harga yang tergolong mahal bagi khalayak umum, Andrianto mengakui kalau awalnya segmentasi pasar Indische Koffie memang untuk kalangan berada, “Segmennya lebih ke menengah ke atas. Tapi tentu saja tidak menutup kemungkinan (segmen pasar) yang lain.” Hal ini benar terjadi pada Indische Koffie, “Dulu yang banyak datang itu kelompok atau grup. Seiring berjalannya waktu, banyak anak muda yang main ke sini.”

Andrianto menjelaskan panjang lebar soal situasi para pegunjung Indische Koffie, “Kalau hari-hari biasa banyak bule atau wisatawan, biasanya mereka muter-muter dulu ke benteng. Lalu makan siang di sini.”

Selain regular customers, Indische Koffie juga berupaya menambah tingkat kunjungan melalui bekerja sama dengan travel agent dan event organizer. Karena untuk ukuran kafe dan resto yang memiliki kapasitas hingga 200 orang, rata-rata tingkat kunjungan Indische Koffie tergolong sedikit. Hanya 20-30 orang di hari-hari biasa dan sekitar 50 orang pada akhir pekan.

Barista Indische Koffie. © Eko Susanto

Secara internal, Indische Koffie juga terus-menerus melakukan improvisasi menu. Menambah menu andalan atau membuatnya unik hingga tak bisa ditemukan di tempat lain. Karena bagaimanapun, keunikan tersebut yang akan menimbulkan rasa rindu hingga para pelanggan tak segan berkunjung ke Indische Koffie lagi. Seunik Vrederburg yang hanya ada sebuah saja di Yogyakarta.

Saya menemukan menu tersebut. Namanya Coffee Cheese. Saya kira tak ada yang lebih unik di sini selain kombinasi antara pahit kopi dengan gurih keju. Barangkali juga di kafe dan resto lain di Yogyakarta. Sebuah invoasi yang cukup menawan.

“Saya suka Coffee Cheese. Karena kopi kan identik pahit ya, sedang lidah saya gak begitu cocok pahit. Nah Coffee Cheese ini kombinasi kopi, keju, sama caramel. Mantap. Gak terlalu pahit, ada gurih sama manisnya juga,” tutur Andrianto meyakinkan.

Inovasi semacam ini dimungkinan terjadi karena Indische Koffie memecah pengelolaan dua kunci semua kafe dan resto. Yakni bar untuk urusan menu minuman dan dapur untuk menangani makanan. Sehingga setiap bagian tersebut dapat fokus mengembangkan masing-masing tugas yang diberikan kepada mereka. Ini juga memudahkan manajemen ketika melakukan pengawasan dan evaluasi mutu.

Kami masih berbincang hingga sejam berikutnya. Andrianto, pemuda yang mengaku pernah bekerja di Bandung selama 3 tahun ini, menceritakan panjang lebar soal Indische Koffie. Tentang situasi yang biasanya terjadi, tentang keinginan manajemen yang ingin menggunakan lantai 2 namun belum mendapat ijin dari pihak Museum Benteng Vrederburg, dan lain sebagainya.

Saya terpaksa harus pamit. Hari akan hujan dan tak enak rasanya terlalu lama mengganggu Andrianto yang sibuk. Kamipun bersalaman.

Sebelum keluar, saya terlebih dahulu memutari ruangan utama ini. Saya ingin menyerap aura-aura historis yang lekat sekali dengan Indische Koffie. Pertama saya menuju lemari besar yang tak penuh. Ada beberapa buku yang tak cocok diletakkan di sana, seperti pengantar untuk praktek komputer.

Lalu saya menuju foto-foto yang menggambarkan Yogyakarta lama itu lagi. Saya amati dalam dan lama. Tiba-tiba seorang tamu keluar dari toilet. Saya menoleh dan melihat kloset yang mengkilap. Kloset itu sudah modern, sudah berbentuk dudukan, bukan lagi jongkok. Saya hanya tersenyum kecut membayangkan kalau saja dahulu, sebuah barak tentara punya kloset seperti yang saya lihat sekarang.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.