Secangkir Kopi Menghidupkan Kebudayaan

Sudah menjadi konsensus dalam sejarah kopi dunia bahwa Ethiopia adalah negeri asal kopi. Sejak abad kesembilan, dari negeri di benua hitam inilah kopi mulai menyebar dan tiba di meja beranda rumah kita. Keberadaan kopi di Indonesia dimulai sejak 1696 saat Gubernur Belanda di Malabar India mengirimkan kopi Yemen (Arabica) kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). Kopi kemudian dibudidayakan secara luas di Hindia Belanda, terutama Jawa. Pada tahun 1725 sampai 1780 Perdagangan kopi di Hindia Belanda sampai dimonopoli oleh VOC. Eropa menjadi pasar kopi yang dihasilkan dari Hindia Belanda ini. Saat itu Hindia Belanda menjadi satu-satunya sumber penghasil kopi di luar Ethiopia dan Arab.

Perkembangan tanaman kopi Arabica kemudian mulai surut seiring penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) yang menyerang tanaman kopi sejak 1876. Meski demikian masih ada tanaman kopi Arabica yang bertahan, yang ditanam pada ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Di tahun 1875, setahun sebelum wabah karat daun, didatangkan kopi jenis Robusta. Jenis ini ternyata mampu bertahan dari penyakit karat daun. Jenis Robusta kemudian menjadi alternatif dan mulai menyebar ke seluruh Jawa, Sumatera dan bagian timur Indonesia (dulu Hindia Belanda).

Hingga saat ini Indonesia masih diperhitungkan dalam perdagangan kopi dunia. Di dalam negeri sendiri, salah seorang pakar kopi Indonesia, Adi W. Taroepratjeka, yang juga presenter acara tentang kopi di salah satu televisi nasional, mengatakan konsumsi kopi meningkat delapan persen di tahun 2012 ini dari yang sebelumnya lima persen. Pernyataan seorang pakar kopi ini patut dipertimbangkan dalam melihat potensi ekonomi bisnis kopi di Indonesia di masa depan.

Perjalanan Kopi Kalimantan

Sejarah keberadaan kopi di Kalimantan, khususnya di Kalimantan bagian selatan, di mana Kalimantan Tengah pernah menjadi bagian dari Kalimantan Selatan dulunya, sangat berkait erat dengan keberadaan Belanda. Penduduk di Tanah Siang, salah satu daerah di hulu sungai Barito, menuturkan budidaya kopi sudah lama ada sejak zaman Belanda. Keberadaan Belanda di sana diperkuat dengan temuan pecahan piring bertuliskan ‘Maastricht’ dengan angka ‘1836’.

Sebagaimana diuraikan di muka keberadaan kopi di Indonesia dibawa oleh Belanda yang membangun perkebunan-perkebunan kopi di Jawa, masuknya kopi ke Kalimantan hingga merambah ke hulu sungai Barito juga karena peran Belanda dan kepentingannya saat itu. Keberadaan Belanda di Kalimantan ditengarai dimulai tahun 1637 saat VOC-Belanda membangun kontrak dengan Raja Kotawaringin. Hal ini menunjukkan Belanda sudah ada dan membangun hubungan di Kalimantan pada waktu itu.

Kopi Tanah Siang dari Pedalaman Kalimantan.
Kopi Tanah Siang dari Pedalaman Kalimantan.

Pengaruh Belanda dinilai kian kuat jika melihat Sunan Nata Alam dari Banjarmasin menyerahkan daerah-daerah yang sekarang ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada VOC pada tanggal 13 Agustus 1787. Kemudian Kesultanan Banjar dengan wilayahnya yang tersisa di sepanjang daerah Kuin Utara, Martapura, Hulu Sungai hingga Tamiang Layang dan Mengkatip menjadi daerah protektorat VOC. Di tahun 1826, pada 4 Mei, Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Tengah beserta wilayah-wilayah lainnya kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1850 kepala-kepala daerah di Kalimantan Tengah saat itu sudah berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda yang bernama Afdeeling Doesoenlandeen. Afdeeling ini merupakan bekas sebuah afdeeling di Karesidenan Selatan danTimur Borneo berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849. Afdeeling Doesoenlandeen beribukota di Moeara Tewe (MuaraTeweh). Di daerah Tanah Dusun pernah dibuat perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894, dan ini makin mempertegas tunduknya Kesultanan Banjar, yang wilayahnya hingga pedalaman Kalimantan Tengah, kepada pemerintahan kolonial Belanda. Di tahun 1930 Afdeeling Tanah Dusun menjadi terdiri atas Moeara Tewe (Muara Teweh) dan Poeroektjaoe (Puruk Cahu). Wilayah ini sekarang berkembang menjadi 4 kabupaten, yaitu Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara dan Murung Raya.

Rangkaian peristiwa dan catatan sejarah di atas menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah pernah menjadi wilayah yang dipandang penting atau strategis oleh Belanda. Kami menduga untuk menjamin kelangsungan hidup orang-orang Belanda di Kalimantan maka dibangun sentra-sentra pertanian yang menanam aneka tanaman pangan yang biasa dikonsumsi mereka. Hal ini didukung dengan bukti adanya bangunan peninggalan Belanda bertuliskan “Landbouw”. Landbouw adalah bahasa Belanda yang artinya pertanian. Landbouw juga didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan ekonomi dimana lingkungan alam disesuaikan untuk produksi tanaman dan hewan untuk dimanfaatkan manusia. Dan kopi adalah salah satu komoditas penting dalam diet orang-orang Belanda.

Hidupkan Kopi Tanah Siang, Hidupi Kebudayaan

Tidak banyak orang tahu ada kebun kopi rakyat di Tanah Siang. Varietas kopi yang ditanam penduduk di salah satu kecamatan di Murung Raya ini kebanyakan Arabica. Penduduk memproduksi kopi untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga saja, itupun tinggal sedikit dan dapat dihitung dengan jari. Kebutuhan rumah tangga akan kopi di Tanah Siang, bahkan Kabupaten Murung Raya, dipenuhi dari luar daerah. Informasi dari salah seorang mantan karyawan distributor kopi Kapal Api di Muara Teweh menyebut Kabupaten Murung Raya bisa menyerap kopi hingga delapan ton setiap bulan, dan kopi yang tersebar di Murung Raya tidak hanya Kapal Api tentunya.

Di Murung Raya, kopi tidak masuk ke dalam daftar komoditas andalan di sektor pertanian dan perkebunan. Karenanya tanaman kopi yang ada sekarang tidak dirawat pemiliknya, kadangkala buah kopi yang telah masak dibiarkan begitu saja hingga berguguran di tanah. Pemilik tanaman kopi di Tanah Siang mengabaikan kopi karena tidak memiliki nilai penting dalam ekonomi rumah tangga. Sedikit saja penduduk yang menjadikan kopi sebagai salah satu sumber ekonomi. Kondisi ini dipicu oleh harga beli kopi di tingkat pengumpul atau pedagang yang rendah. Selain itu, penduduk condong menginvestasikan waktu, tenaga dan dana yang dimiliki untuk budidaya karet yang harganya lebih baik dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Hal ini bisa dilihat dari usia tanaman kopi yang ada yang sejak zaman Belanda belum pernah diremajakan sampai sekarang.

Pengetahuan penduduk dalam membudidayakan kopi diperoleh secara turun-temurun melalui observasi orangtua dan kerabat dan melakukan praktik langsung. Pengetahuan turun-temurun tersebut mampu menghasilkan aroma rempah-rempah yang khas pada kopi (spicy coffee).

Kini kopi sudah menjadi bagian diet masyarakat Indonesia, sebagai makanan dan minuman rakyat Indonesia. Keunikan cara pengolahan kopi di Tanah Siang merupakan khazanah kebudayaan yang penting untuk dipertahankan. Sifat penyebaran dan pewarisan pengetahuan perkopian di Tanah Siang yang dilakukan secara lisan, turun-temurun, lebih dari dua generasi, dan sudah menjadi milik kolektif membuat kopi Tanah Siang ini dapat dikategorikan sebagai salah satu folklore Murung Raya, folklore Kalimantan Tengah, folklore Indonesia. Menjadi tugas kita sebagai anak bangsa untuk menghidupkan kebudayaan kita yang telah menghidupi kita selama ini.

Iis Sabahudin, Darwin Doloksaribu, Andri Akhza

Iis Sabahudin: Rimbawan pemerhati kebudayaan, tinggal di Bogor. Darwin Doloksaribu: Rimbawan penyuka dan pemerhati kopi lokal, tinggal di Malang. Andri Akhza: Rimbawan penyuka dan pemerhati kopi lokal, tinggal di Palangkaraya.

  • Pinto Anugrah

    mantap (y)

  • *angkat cangkir

  • eko susanto

    Keren, coy…ngopi, ngopi…