Secangkir Kopi Kelir di Warung Jambu Alas

Secangkir Kopi Kelir
Secangkir Kopi Kelir | © Agil Widiatmoko

Perjalanan Menyusuri Jalan Ambarawa – Magelang ketika sore menjelang malam membutuhkan tenaga ekstra. Jalanan menanjak dan berkelok dengan kontur aspal yang bergelombang serta beberapa lubang di tengah jalan akan menjadi pemandangan yang wajar. Belum lagi kendaraan berat macam bis antar kota antar provinsi, truk, tronton, yang memadati sepanjang jalan.

Memasuki wilayah Jambu, yang menjadi awal mula jalan berkelok-kelok tersebut, kemacetan mulai nampak. Para pengendara sepeda motor, harus meliuk-liuk di antara celah antar mobil dan kendaraan besar lainnya. Jika tak beruntung, pengendara sepeda motor bahkan harus keluar aspal yang dipenuhi kerikil.

Namun, begitu sampai di wilayah desa Tempuran, Kelurahan Jambu—yang juga menjadi jalur utama jalan Ambarawa – Magelang—tepatnya sebelah kanan jalan kalau dari arah Ambarawa, kita bakal menemukan sebuah warung bernama Warung Jambu Alas. Di depan warung itu terpampang sebuah reklame bertuliskan “Warung Jambu Alas” yang memudahkan pengunjung untuk bisa mencicipi menu di warung tersebut.

Selain terpampang papan reklame, juga ada beberapa tempelan poster bertuliskan “Kopi Kelir”. Kopi Kelir ini menjadi minuman andalan dari Warung Jambu Alas. Lantaran memang dekat dengan daerah penghasil kopi kelir, yaitu di Dusun Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

Area Ruangan Warung Jambu Alas
Area Ruangan Warung Jambu Alas | © Agil Widiatmoko

Memasuki Warung Jambu, sepandang mata memandang akan terlihat bangunan yang sederhana. Dinding masih sebatas batu-bata berwarna merah. Belum ada cat yang umumnya menjadi penghias dinding. Atap warung juga hanya terbuat dari genteng yang warnanya mulai memudar dari merah menjadi kecoklatan. Tidak ada penahan lain selain atap tersebut.

Ada sekitar 10 meja dengan dua kursi panjang di setiap mejanya. Semua kursi dan meja itu terbuat dari kayu yang menimbulkan kesan klasik bagi yang datang berkunjung. Sebagai pelengkap, di atas meja juga terdapat beberapa camilan dan krupuk.

Seorang pelayan menghampiri saat saya memilih salah satu kursi. Lalu ia menyodorkan menu. Saya memesan Kopi Robusta Kelir.

Satu cangkir Kopi Robusta Kelir tak lama mendarat di meja saya. Kopi Kelir berwarna hitam pekat. Saya menghirup aromanya, ada aroma moka di kopi. “Aroma moka itu alami, Mas, bukan dicampur coklat atau yang lainnya. Berhubung kondisi geografis yang berada di dataran tinggi, makanya Kopi Robusta Kelir menghasilkan aroma moka ketika dihirup,” ujar Ferin Ariyanto, salah satu pelayan di warung itu.

Satu cangkir Kopi Robusta Kelir di warung Jambu Alas dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni hanya Rp 5.000. Sembari menikmati laju kendaraan yang padat merayap di depan warung, kita dapat menikmati secangkir kopi dengan harga tak menguras kantong.

Tak hanya kopi saja yang disediakan di Warung Jambu Alas. Namun ada beberapa menu seperti nasi goreng, ayam goreng/bakar, lele goreng/bakar, dan lain-lain. Bagi pengendara yang membutuhkan istirahat bisa beristirahat di Warung Jambu Alas. Harga yang terjangkau, dengan suguhan interior bernuansa klasik akan dapat di nikmati. Begitu satu cangkir Kopi Robusta Kelir habis, waktunya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.

Agil Widiatmoko

Penulis yang masih berproses di GMNI Komisariat UNY


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405