Secangkir Kopi di Teluk Kuantan

The Zona Coffe
The Zona Coffe © AP Edi Atmaja

HUJAN masih berjatuhan saat kami tiba di kedai kopi itu. Awan tebal berarak sedari siang dan kami terka hujan pasti segera datang. Benar saja, selepas magrib serdadu hujan meluncur perlahan dan dalam waktu tak berapa lama sukses menggenangi jalanan yang sengaja dibongkar-lalu-dibereskan-kembali demi penyerapan anggaran menjelang akhir tahun.

Ini Teluk Kuantan, ibukota Kabupaten Kuantan Singingi, sekitar tiga setengah jam berkendara dari Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Pak Made—pria Kuantan, bukan Bali—menceritakan kepada kami asal muasal penyebutan ‘teluk’ buat Teluk Kuantan, ibukota di kabupaten yang secara geografis tak bersinggungan dengan laut manapun itu.

Menurut Pak Made, dahulu kala nama daerah yang kini disebut Teluk Kuantan itu adalah Taluk. Dari kata ‘takluk’ yang menunjukkan bahwa daerah tersebut pernah ditaklukkan penjajah. Entah Belanda entah Jepang, Pak Made tak tahu. Sewaktu masih menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Indragiri, kemudian Kabupaten Indragiri Hulu dengan ibukotanya di Rengat, masyarakat lokal dan para pelancong kerap menyebutnya Taluk.

Tersebab konotasi negatif dari kata ‘takluk’ itulah pemerintah daerah mulai memasyarakatkan istilah Teluk Kuantan. Upaya itu tampaknya tidak akan mudah karena di sejumlah tempat dan situsweb, masyarakat masih latah menggunakan istilah Taluk Kuantan. Begitupun dalam percakapan lisan, Taluk nampak lebih populer ketimbang Teluk.

Nama kabupaten yang resmi berdiri pada 1999 itu, Kuantan Singingi (biasa disingkat Kuansing), berasal dari nama dua sungai besar yang mengapit kabupaten tersebut, yakni Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Sungai Kuantan masyhur sebagai arena pacu jalur, sebuah kesenian, festival, sekaligus olahraga rakyat yang telah lama menjadi identitas Kabupaten Kuantan Singingi. Jalur adalah bahasa lokal untuk menyebut perahu.

Di masa lampau, pacu jalur diselenggarakan untuk merayakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad dan hari-hari keagamaan lainnya. Selain itu juga buat menyambut para pembesar dari Kerajaan Indragiri yang sesekali beranjangsana. Lalu, ketika Belanda berkuasa, pacu jalur diadakan untuk merayakan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Kini pacu jalur diadakan setiap bulan Agustus guna merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Adapun Sungai Singingi, di sanalah masyarakat lokal biasa mendulang emas. Di sungai yang terlihat pada sisi tertentu tatkala melintasi jalan raya Pekanbaru-Teluk Kuantan itu, di tepiannya terhampar pertambangan tanpa izin (peti). Sahat Pardomuan Simbolon menunjuk ‘gurun pasir’ Kuansing, pertambangan pasir ilegal di tepi Sungai Singingi. Pasir yang ditambang di situ kurang bagus untuk membikin fondasi rumah, ujar Sahat.

* * *

KEDAI kopi itu, The Zona Coffe namanya, terletak persis di depan gapura Arena Wisata Pacu Jalur. Ia berada tepat di titik pertemuan antara Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Jenderal Ahmad Yani, Teluk Kuantan. Meja dan kursi disediakan baik di dalam kedai maupun di beranda. Perabot The Zona Coffe relatif baru karena kedai kopi itu baru diresmikan pada 15 Agustus 2015.

Di beranda yang dipayungi kanopi itu beberapa kursi telah terisi pengunjung yang datang untuk sekadar ngopi-ngopi atau bercengkerama dengan kawan, kolega, dan keluarga. Kami memilih kursi yang agak di tengah. Saya memesan mi goreng plus kopi aceh, Sahat memilih mi goreng dan cokelat panas, dan Titin Askirawita menyandingkan sate Padang dengan cokelat panas. Kami nampak begitu kelaparan sehingga dua porsi singkong goreng sebagai makanan penutup barangkali tak akan berlebihan.

The Zona Coffe
Secangkir Kopi Aceh © AP Edi Atmaja
The Zona Coffe
Aneka Hidangan di Zona Coffee © AP Edi Atmaja

Tak menunggu lama, pramusaji datang membawa pesanan. Kopi hitam panas disajikan dalam satu cangkir beling ditemani gula pasir yang diletakkan dalam wadah terpisah Tersebab pengalaman ngopi saya masih dalam taraf syariat, saya tuang gula pasir itu secukupnya. Saya aduk lalu hirup pelan-pelan kopi itu. Harum dan mantap. Saraf-saraf yang lunglai bangun seketika.

Menikmati suasana temaram yang ditingkahi rintik hujan di The Zona Coffe, saya teringat cerita pendek Ernest Hemingway, A Clean Well-lighted Place. Saya membayangkan diri menjadi seorang pria tua yang gemar menghabiskan malam di kedai kopi yang bersih, terang, dan nyaman di pinggir jalan. Pria tua yang menikmati kesendirian, keheningan, dan kehampaan dengan terus-menerus minum sampai pagi. Hanya lampu jalan dan bayang-bayang dedaunan yang bersedia menemaninya. Hidup yang sangat tenang dan menyenangkan.

Malam kian larut, namun gerimis tak kunjung berhenti. Kisah-kisah di kepala telah tuntas diutarakan, namun The Zona Coffe tak ingin ditinggal pergi. Teluk Kuantan begitu memesona di malam hari, namun ia tak akan berarti tanpa secangkir kopi yang berhasil menyingkap pesonanya dengan cara yang tak disangka-sangka.

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.