Secangkir Kopi dan Ironi Korek Api

Usai melebur dalam keramaian warga Bandung menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika, tanganku spontan melambai pada angkot jurusan Kalapa-Dago. Hari sudah menjelang sore. Aku berharap mendapati kedai kopi di jalanan yang dilintasi angkot yang kunaiki.

Dari Dewi Sartika, angkot berbelok ke Jalan Balonggede dan Jalan Pungkur. Lalu kami melewati Karapitan, melintas Simpang Lima menuju Jalan Sunda, kemudian Jalan Sumbawa. Aku lupa apakah ini jalur yang biasa atau bukan. Sebab hajatan ini membuat banyak jalan ditutup sehingga angkutan umum mencari jalan alternatif.

Angkot kami kemudian berada di Jalan Riau. Jalan ini amat disukai turis dari ibukota. Sepanjang jalannya selalu ramai saat akhir pekan. Rupa-rupa outlet fashion dan tujuan wisata pangan berjejer di sini. Lalu, mataku menumbuk Riau Junction.

“Kiri!” aku berseru.

Lapar. Tadi kaki ini sempat melangkah menuju tukang gorengan di Jalan Dewi Sartika. Sungguh sial, satu pasukan Satpol PP meloncat dari mobil ke bahu jalan. Para pedagang bergegas mendorong gerobaknya masing-masing. Nahas besar untuk mereka, nahas kecil untuk lambungku.

Kedai Kopi Modjo's di kota Bandung
Kedai Kopi Modjo’s di kota Bandung © Maulida Sri Handayani

Di mall tujuanku ini ada lapak iga bakar Si Jangkung, yang tadinya “cuma” kakilima di Jalan Cipaganti. Setelah populer, mereka membuka gerai di beberapa food court, termasuk di Riau Junction. Turun dari angkot, aku segera menyeberang dan naik ke lantai 3. Satu porsi nasi iga bakar kupesan, sekalian bertanya di mana pojok yang memperkenankan asap rokok.

“Oh, si sebelah sana, di dekat kaca, dekat tempat Kopi Modjo’s.”

Aha. Ruang perokok di dekat geraikopi. Sungguh sempurna, batinku. Niatku tadi ke kedai kopi diurungkan gara-gara perut yang keroncongan. Nyatanya, sekarang aku malah bisa mendapat keduanya. Sempurna, bukan?

Sambil menunggu makanan datang, kulihat-lihat gerai Kopi Modjo’s. Seorang perempuan melayani pesanan sekaligus berperan sebagai barista. Pada papan tertulis: “100% Indonesian Coffee.” Harganya pun pantas untuk ukuran sebuah gerai di food court. Relatif lebih terjangkau dibanding harga kopi di kedai sungguhan.

Latte art di cappucino
Latte art di cappucino © Maulida Sri Handayani

Pesanan iga bakarku datang. Tak perlu waktu lama menandaskan makanan berlemak yang kubutuhkan karena lapar sekaligus kurindukan itu. Aku lantas memesan cappucino panas. Lemak yang tersisa di mulut ini rasanya memerlukan kafein dan nikotin sesegera mungkin.

Secangkir cappucino pun datang. Aku menyesapnya sedikit. Ada sedikit rasa asam. Mungkin arabika, gumamku sok tahu. Aku mengorek tasku, mencari bungkus rokok dan geretan. Dan…ah, yang kutemukan hanya bungkus rokok, tanpa korek api. Kucari-cari lagi, masih juga tak kutemukan. Duh!

Well life has a funny way of sneaking up on you when you think everything’s okay.” Lirik Ironic-nya Alanis Morissette berbunyi di kepalaku, lengkap dengan tawa jahil penyanyinya.

Aku bertanya pada Teteh Barista apakah ia punya korek api. “Duh, nggak,” jawabnya. Dengan kikuk, aku bertanya pada orang-orang di meja satu sampai empat, apakah mereka bisa menyumbang api. Usaha yang agak dungu, sebab tak satupun dari mereka terlihat merokok.

“Baiklah, aku harus ke supermarket di Ground Floor,” bisikku pada diri sendiri.

Aku mengemas barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas, lalu menitipkan cangkir kopiku kepada Teteh Barista. Pintu lift begitu lama tak juga terbuka. Ya sudah, turun lewat tangga. Satu, dua, tiga. Luar biasa. Menuruni tiga tangga, aku akhirnya sampai ke kasir untuk berbelanja sebanyak 2.600 rupiah.

Dengan lift, aku naik ke atas lagi. Sambil mengambil kopi aku bertanya jenis kopi pada barista, apakah arabika atau robusta. Sedikit ragu ia menjawab, “blend sih.” Soal asalnya, ia bilang kopinya dari Jawa dan Bali. Aku pun kembali ke sofa asalku yang masih kosong. Dan…ah, betapa manisnya pemandangan yang kulihat. Tiga perempuan sedang asyik ngobrol di meja sebelah sambil…merokok!

It’s a free ride when you’ve already paid.” Lagi-lagi si Alanis sialan mengejekku.

Kedai Kopi Modjo's di kota Bandung
Kedai Kopi Modjo’s di kota Bandung © Maulida Sri Handayani

Tapi, hey, sudahlah. Aku sudah memegang benda yang paling kuperlukan. Geretan yang baru kubeli itupun segera berfungsi. Sambil melihat manusia dan kendaraan di jalanan dari balik kaca, aku menyesap kopi. Ia sudah agak dingin, tapi kok nikmat sekali. Dengan ditemani kopi seenak ini, rasanya kau bisa lebih mudah menerima kejutan-kejutan yang dihadiahkan laju waktu.

Kopiku kemudian tandas tanpa terasa. Di luar, langit sudah gelap. Aku mengemas barang-barangku sekali lagi. Kakiku melangkah keluar. Aku merasa menang karena bisa tersenyum saat diledek oleh kejadian barusan. Ya, hitung-hitung latihan menghadapi ledekan hidup yang lebih menggemaskan ketimbang sekadar ironi korek api.

Meski tentu, gombal sekali jika aku mengingkari kenyataan bahwa hati kecilku bilang, “Ah, andai aku tadi menunggu sedikit lebih lama…”

Maulida Sri Handayani

Perempuan Sunda yang menyukai percakapan. Tinggal di Jakarta.

  • situasi & kondisi yang nyariiiiiisss saya hadapi. Kopi item? siap Rokok? ready Pemantiknya? enggak ada 🙁