Sebuah Pengorbanan, Kepuasan, dan Kekecewaan di Warung Pak Dadi

Kuliner, Sate Kambing, Ciputat
Warung Sate Pak Dadi, Ciputat © Thohirin

Selama lebih tiga tahun berdiam di Ciputat, beberapa kawan, termasuk saya kadang sering mengeluh soal rupa makanan di sana. Khususnya di sekitar kampus saya, UIN Jakarta. Kalau untuk sekadar mengenyangkan perut, warteg, nasi goreng, atau pecel mungkin lazim jadi pilihan. Tapi soal memuaskan rasa, pilihannya tidak banyak.

Jika sedang ingin memanjakan lidah, saya harus keliling untuk mencari tempat makan: setidaknya yang belum disinggahi atau terlihat ramai dari luar. Seperti yang saya lakukan malam itu bersama seorang teman. Sebelum berangkat, saya coba iseng bertanya ke salah seorang mahasiswi senior yang kebetulan sedang main ke kos.

“Ada rekomendasi tempat makan enak di Ciputat nggak, Mbak? Nggak pake mahal tapi,”

“Nggak ada yang enak di Ciputat tuh!” begitu jawabnya. Nah kan!

Oleh beberapa teman kos, wanita ini termasuk yang dituakan. Dan nyatanya memang tua sih. Hehee… Termasuk untuk urusan selera makan tentunya. O ya, saya tinggal satu rumah (sekretariat) dengan beberapa teman yang dulu satu sekolah semasa madrasah aliyah. Kebetulan, satu sekretariat lainnya yang dihuni teman wanita, bersebelahan. Jika sedang tak malas, kami sering melakukan kegiatan memasak bersama. Nah, untuk soal inilah dia sering ambil peran.

Anggap saja petang itu saya sedang bersemangat. Walhasil, meski masih dalam kondisi gerimis karena sisa hujan yang belum reda, jadilah saya kembali berburu kuliner malam itu. “Tak apalah sesekali berkorban sedikit demi memanjakan lidah,” begitu terlintas dalam benak saya.

* * *

Letaknya di Jalan Ciputat Raya. Persisnya berada di pertigaan Rempoa, Situ Gintung. Kurang lebih satu kilometer dari kampus UIN Jakarta, atau hanya 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Saya sebenarnya tak asing dengan warung tongseng, sate kambing, dan tengkleng khas Solo milik Pak Dadi ini.

Jika kebetulan sedang lewat jalan itu, anglo depan warung yang digunakan untuk membakar sate dan meracik tongseng jadi ciri khas tersendiri Warung Pak Dadi karena ukurannya lumayan besar. Interior warung makan Pak Dadi memang didesain khas Jawa. Sejajar beberapa meter dari anglo, berdiri gong yang akan menambah suasana ala ‘kejawa-jawaan’ warung makan itu semakin terasa.

Kami memesan satu porsi sate kambing dan tongseng. Cuaca yang masih dingin karena gerimis di luar membuat tongseng semakin tak sabar untuk dinikmati. Selain menu yang kami pesan, Warung Pak Dadi sebenarnya juga menyediakan menu-menu lain seperti gule, sate ayam, sop kambing hingga nasi goreng.

Namun di antara banyak menu itu, menu yang kami pesan katanya menjadi dua menu andalan. Selain tentu saja: tengkleng. Untuk nama menu terakhir sengaja tak kami pesan. Kenapa? Ya Karena kami sedang ingin makan sate kambing dan tongseng.

Sate kambing Warung Pak Dadi
Sate kambing Warung Pak Dadi © Thohirin

Sekitar 15 menit pesanan kami datang. Sepuluh tusuk sate kambing tersaji di atas piring yang dilengkapi dengan potongan tomat, cabai, bawang merah, dan irisan kol segar. Racikan pelengkapnya khas gaya sate kambing Solo. Permukaan dagingnya berwarna cokelat gelap dengan bau harum khas kecap manis Lombok. Sungguh menambah selera nafsu makan saya semakin bertambah.

Tak menunggu lama, satu tusuk sate kambing langsung mendarat di lidah. Bau harum kecap Lombok yang melekat pada daging kambing cukup menghilangkan oroma prengusnya. Irisan daging di tiap-tiap tusuk sate cukup tebal dan kering namun tetap empuk di mulut. Dalam satu tusuk sate, juga terasa sentuhan bawang putih dan lada.

Satu porsi sate kambing Warung Pak Dadi dihargai Rp 27 ribu, dengan nasi Rp 5 ribu. Saya sengaja memesan sate kambing malam itu karena sudah beberapa hari ini saya ngidam makanan ini. Selain karena sate kambing memang salah satu makanan favorit saya. Ditambah warung sate madura langganan saya yang beberapa minggu ini tidak buka.

Sementara saya memesan sate, kawan saya—yang juga baru kali pertama singgah di Warung Pak Dadi—memilih memesan tongseng. Setelah mencicipi sate daging kambing, saya coba iseng menyendok tongseng milik kawan saya. Beberapa sendok. Warna kuahnya kuning pekat dan terlihat begitu kental. Setelah mendarat di lidah dan sampai perut, hangat kuah cukup terasa. Rasa kuahnya, perpaduan antara manis dan pedas. Pula dengan potongan bawang putih pada kuahnya yang dilengkapi irisan tomat hijau dan kol. Untuk satu porsi tongseng, dihargai Rp 17 ribu.

Tongseng kambing Warung Pak Dadi
Tongseng kambing Warung Pak Dadi © Thohirin

Warung Pak Dadi ini sudah ada sejak tahun 1983. Sejak pertama kali dibuka, warung makan yang dikenal dengan tongsengnya ini, berada di Jalan Ciputat Raya. Namun, area yang kini ditempati bukanlah tempat waktu kali pertama rumah warung itu dibuka: hanya bergeser beberapa ratus meter dari tempat semula. Dan sejak 2003, Warung Makan Pak Dadi kemudian membuka dua cabang lainnya, yakni di Jalan TB Simatupang, daerah Pasar Rebo dan di Jalan Jamrud, Gedong, Jakarta Timur (dekat kampus Unindra).

Untuk yang di Ciputat, karena letaknya yang tak jauh dari kampus saya, warung ini tak jarang menjadi pilihan bahkan dijadikan langganan oleh beberapa dosen maupun pejabat kampus. Termasuk jika kampus saya sedang mengadakan acara, maka Warung Pak Dadi akan menerima pesanan dalam jumlah besar.

* * *

Usai dua porsi makanan di atas meja tak tersisa, saya merasa tak sia-sia telah berkorban dengan basah-basahan untuk berburu kuliner enak dan akhirnya singgah di warung Pak Dadi ini. Karena ternyata, malam itu saya telah menandaskan dua porsi daging kambing: satu porsi sate kambing dan satu mangkuk tongseng. Salah satu daging kesukaan saya. Saya minta maaf kepada teman saya yang hanya makan sepiring nasi dan sedikit kuah tongseng, tidak dengan daging karena rupanya ia tak menyukainya.

“Kamu enggak tahu tongseng?”

“Enggak”

“…”

Thohirin

Tertarik jurnalistik. Penyuka masakan pedas. Pernah bercita-cita menjadi pemain Timnas.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405