Sebuah Obrolan Serius di Kedai Sajjana

Sajjana Kopi
Sajjana Kopi | © Anwar Saragih

Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Embusan angin mulai berseliweran di setiap sisi kedai kopi yang tak berdinding itu. Menusuk kulit hingga ke dalam tulang. Membuat menggigil. Hujan baru saja berhenti dari peraduannya.

Malam itu, selepas pulang dari gereja, kuputuskan singgah di kedai kopi Sajjana. Usaha kedai kopi yang dibuka secara gotong-royong oleh komunitas Sajjana, Sumatera Utara. Komunitas bekas relawan Jokowi-Jusuf Kalla di Pilpres 2014 lalu.

Sajjana, nama kedai kopi itu, diinspirasi dari kata “sarjana”. Kedai ini mulai beroperasi pada 10 desember 2016 silam, saat kita sedang asik-asiknya merayakan hari HAM sedunia.

Sajjana Kopi
Sajjana Kopi | © Anwar Saragih

“Datang kau, Bung. Buatkan dia segelas kopi tubruk. Anak yang hilang ini, kader marhaenis juga,” kata Bang Leonardo Marbun pada pegawainya Amelia malam itu.

Bang Leo, begitu kami biasa memanggilnya adalah ketua komunitas Sajjana. Ingatan paling awal tentangnya adalah saat berkonsultasi soal Pekan Penerimaan Anggota Baru Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PPAB GMNI) tujuh tahun lalu. Saat itu, saya yang merupakan panitia diajak salah satu senior untuk menemuinya. Berbicara banyak hal; mulai Soekarno, ajaran Marhaenisme, keadilan hingga cara perjuangan rakyat Indonesia mencapai kesejahteraannya. Waktu telalu cepat berlalu dan saat itu masih di bulan September 2011.

Sorot wajahnya masih sama, suaranya juga masih menggelegar. Nafas perjuangan masih terpancar dengan amat terang. Dilepas kaca mata yang dia pakai malam itu. Dilepas pula pandangannya dari laptop. Memandangku dengan amat serius.

“Aku geram melihat pemberitaan-pemberitaan media sosial ini. Ini anak muda sekarang kok enggak ada kreatifnya. Mau mengkritik pakai meme, hoax pula itu, katanya melanjutkan.

“Iya, Bang. Sekarang media lagi sibuk-ibuk bahas hoax ya, Bang, apalagi jelang pilkada Jakarta, Bang,” jawabku.

“Inilah cara-cara imperialis memecah kita. Sungguh memuakkan, rakyat sampai berantam gara-gara membela calon gubernur yang didukungnya. Padahal tak punya hak pilih dia karena bukan orang Jakarta. Lucunya kita sampai berantam gara-gara elit”.

Seketika pembicaraan dialihkannya. Mulailah dia membahas soal keadilan. Seperti biasa dan masih sama. Tak satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya yang tak jelas sumbernya. Ucapannya masih penuh dengan catatan kaki.

Dia sangat menguasai diskursus Mazhab Frankfurt dari MaxHorkheimer, Adorno, Neumann hingga Habermas. Tak lupa dia juga membahas keberhasilan formula JohnRawlsdalam bukunya yang berjudulA Theory of Justice” yang mampu mengombinasikan kesamaan (marxisme) dan kebebasan (liberalisme) menjadi fairness atau keadilan prosedural yang fair dan tidak memihak kemana pun.

Bagiku pribadi, itu pembahasan yang sangat berat. Lebih lanjut, bicara filsafat politik dengannya selalu membuatku minder. Pikiranku melayang, entah sudah berapa buku yang telah habis dibacanya. Bagaimana pula konsistensi berpikir itu masih ada di pikirannya hingga hari ini. Tentu tak mudah merawat ingatan soal keadilan dan kesejahteraan rakyat dalam tataran filosofis. Apalagi kita hidup era media sosial yang sangat menikmati penggunaan gadjet, selfi, bullying hingga berita-berita hoax.

Mulai kuseruput kopi tubruk yang di seduh oleh Nico Fransico, barista Kedai Kopi Sajjana sembari mendengar pemaparan bang Leo.

“Ini andalan Sajjana lae, kopi dari lumban julu. Arabika jenisnya. Ini kopi yang lagi coba kita perkenalkan ke seluruh Indonesia. Bahwa kabupaten Toba Samosir juga punya kopi yang enak,” potong Nico menjelaskan asal muasal kopi itu.

Kopi Tubruk Lumban Julu
Kopi Tubruk Lumban Julu | © Anwar Saragih
Nico si barista
Nico si barista | © Anwar Saragih

Kedai kopi Sajjana berlokasi di jalan Pasar Baru nomor 41, Padang Bulan, Medan. Selain Nico sebagai Barista, Amelia sebagai kasir, Sajjana mempekerjakan karyawan bernama Ardianta. Sementara Manajer Sajjana adalah Rani Bangun. Sajjana buka mulai pukul 1 siang sampai pukul 12 malam. Aneka minuman bisa kita nikmati di Sajjana, seperti kopi tubruk lumban julu (Rp12 ribu), kopi gayo (Rp10 ribu), kopi flores (Rp12 ribu), arabika wine (Rp20 ribu), kopi latte (Rp12 ribu), kopi robusta siborong-borong (Rp8 ribu), teh manis panas (Rp4 ribu) dan bandrek susu (Rp9 ribu).

Sementara bagi pengunjung yang mau menambahkan es ditambah (Rp2 ribu). Sajjana juga menyediakan makanan, seperti pisang goreng (Rp8 ribu), ubi goreng Rp5 ribu), pulut srikaya (Rp8 ribu) dan indomie telur (Rp10 ribu).

Yang unik dari kedai ini adalah dibentuk secara kolektif oleh anggota Komunitas Sajjana yang jumlahnya 45 orang. Kata Bang Leo, dibentuknya Kedai Kopi Sajjana adalah wadah bagi orang-orang nasionalis Sumatera Utara yang selama ini berpencar untuk berdiskusi soal kebangsaan dan kesejahteraan. Sebagai Ketua Sajjana Sumatera Utara, dia merasakan manfaat yang nyata soal diskusi-diskusi yang lebih berkualitas dan jauh dari hoax. Lebih lanjut, konsep terbentuknya Sajjana tak lain adalah bagian dari kemandirian ekonomi agar eks-relawan Jokowi-JK tidak sibuk meminta-minta jabatan.

Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Pembicaraan mulai berat sekaligus mengasyikkan. Sejenak kubuka telepon genggam. Tak mau menikmati sendiri sajian diskusi dan kopi tubruk Lumban Julu. Kukirim pesan pada seorang teman sesama aktivis GMNI yang juga satu jurusan di departemen Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU). Leonard Varera Tampubolon namanya. Sekitar 10 menit, Leonard kemudian datang.

Diskusinya udah lama bang? sapa Leonard.

“Lumayanlah, ini udah bicara kesejahteraan nelayan. Silakan pesan, Bung,” jawab Bang Leo Marbun.

Leonard Tampubolon lalu memesan segelas kopi tubruk lumban julu dan seporsi ubi goreng. Bang Leo pun mulai menceritakan pengalamannya yang selama 20 tahun menjadi aktivis untuk membantu nelayan. Bang Leo terdaftar sebagai mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU angkatan 1993. Di semester enam tepatnya tahun 1996, selain aktif di GMNI, Bang Leo Marbun mendirikan Lembaga Sosial Masyarakat bernama Pusat Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Nelayan (P3MN).

P3MN adalah Organisasi non-pemerintah yang didirikan sejumlah aktivis mahasiswa USU pada 12 Juli 1996. Para pendiri, semasa aktif kuliah memiliki komitmen dan motivasi untuk memperjuangkan nelayan tradisional termarjinalkan oleh sebuah sistem pembangunan yang tidak adil dan merusak.

Bang Leo
Bang Leo | © Anwar Saragih

“Kenapa Abang fokus ke nelayan, Bang, tanyaku pada Bang Leo.

“Di pertengahan tahun 1990-an, di masa orde baru. orang lebih suka membahas itu soal buruh dan tani. Tapi tak pernah melihat bagaimana masyarakat pesisir juga mengalami ketertindasan oleh sistem pembangunan yang tak adil,” jawab Bang Leo yakin.

Baginya dari dulu hingga saat ini, melawan ketidakadilan adalah sebuah kewajiban yang harus selalu ditunaikan. Apapun pembenarannya, ketidakadilan tak pantas hadir di Indonesia. Terutama sampai menghisap keringat rakyat. Untuk ini dia tak bisa berkompromi, harus dilawan dan dicari solusinya.

“Tak ada tempat untuk ketidakadilan. Permasalahan Nelayan di pesisir, terutama di wilayah pantai timur Sumatera Utara seperti Belawan, Deli Serdang, hingga Tanjung Balai ada 2. Pertama, mereka (nelayan) terikat oleh pemilik modal dengan sistem tidak adil. Mereka diikat oleh utang-utang yang diberikan pemilik modal hingga susah melepaskan diri. Akibatnya terjadi semacam kemiskinan struktural di nelayan itu sendiri. Kedua, terkadang di laut kita menemukan para nelayan besar menggunakan pukat harimau untuk menjala ikan, itu ikan rucah-rucah (ikan-ikan kecil) pun terjaring mereka. Ini jelas mematikan nelayan-nelayan kecil yang bisa pulang dengan tangan hampa saat melaut. Sebab semuanya sudah digerus habis,” kata Bang Leo panjang lebar.

Kondisi ini masih berlangsung, Bang?”tanya Leonard

“Iya masih berlangsung, ini yang saat ini masih kita perjuangkan,” jawabnya tegas.

Mata laki-laki 43 tahun itu semakin memerah. Sesekali dia usap-usap matanya. Meyakinkan kami untuk menjadi generasi yang konsisten dalam bertindak dan berperilaku untuk sebuah kebenaran. Tak peduli soal untung maupun rugi. Dalam bacaan saya pada malam itu, dia terbawa suasana dalam pengalamannya 20 tahun terakhir mendampingi nelayan di pesisir. Tak sedikit pun dia merasa sungkan membicarakan semuanya pada kami. Jiwa egaliternya ditunjukan di sepanjang diskusi tetap memanggil kami dengan sebutan bung”. Seolah masih punya banyak kisah yang ingin dibagikan sesekali dia buka file-file di laptopnya yang penuh dengan kedekatannya dengan rakyat pesisir.

“Jadi saat ini sudah ada perubahan, Bang? Selama Abang mendampingi nelayan?” aku bertanya.

“Di Kabupaten Serdang Bedagai, di Kampoeng Nipah tepatnya, masyarakat di sana sudah membuat wisata mangrove. Sekarang kehidupan mereka sudah sangat membaik. Lebih mandiri dan tak lagi punya utang,” ujar jawab Bang Leo.

Saya tersenyum bercampur kagum. Pertanyaan itu menjadi pertanyaan pamungkas saya malam itu. Sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan juga benar-benar berhenti, tak ada lagi gerimis saat kami mengakhiri diskusi ini. Saya perhatikan ke langit, bulan juga mulai tampak seolah ingin tahu juga apa yang kami diskusikan malam itu. Kubersihkan embun yang menempel di tempat duduk sepeda motorku sembari memanggil Amelia, karyawan Sajjana. Berjauhan dengan bangku diskusi kami.

“Berapa, Kak?” tanyaku pada Amelia, kasir Sajjana.

“42 ribu, Bang”.

Sulit mendeskripsikan bagaimana hal yang kurasakan malam itu; kagum, optimis dan konsisten akan keadilan yang diyakini olehnya. Tiba-tiba kuingat salah satu quote dari Soekarno: “Karma nevad Ni Adhi Karaste, Mapaleshu Kada Cana”. Kerjakanlah kewajibanmu tanpa menghitung-hitung untung dan rugi.

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi