Sebuah Cerita Perjalanan di Negeri Dongeng

Persis tiga tahun saya menanti “Negeri Dongeng”. Sebuah film dokumenter yang disutradarai Anggi Frisca, sampai akhirnya juga berkesempatan hadir dalam screening filmnya. Film berdurasi 105 menit, yang mengisahkan tujuh petualang yang mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia dengan berbekal tujuh buah kamera dan menamai kelompoknya: Aksa 7.

Adegan film mula-mula dibuka dengan pedakian Gunung Kerinci di Jambi. Tak hanya sebuah pendakian yang penuh perjuangan, bagian ini juga menggambarkan ironisnya kekayaan lokal yang tak mampu dibeli oleh masyarakat sekitarnya.

Di kaki Gunung Kerinci, terhampar luas kebun teh dengan kualitas nomor satu. Sayangnya, semua teh itu hanya bisa masuk pasar ekspor. Sedangkan pasar lokal Indonesia hanya mampu menikmati kualitas nomor tiga. ”Kita tidak mampu membeli kekayaan kita sendiri,” demikian kutipan dalam film itu saat di kaki Gunung Kerinci.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Semeru di Jawa Timur. Kali ini, tim Aksa 7 ditemani Matthew Tandioputra yang ketika itu berusia delapan tahun. Dalam perjalanan kali ini, sebuah potret kehidupan sederhana masyarakat kaki Gunung Semeru diperlihatkan dengan keterbukaan masyarakatnya dalam menerima tamu. Mereka tak menaruh curiga bahkan ketika para tamu ikut memasak di dapurnya. Keramahan yang mulai sulit ditemukan di perkotaan.

Dari Semeru, para petualang melanjutkan perjalanan menuju Lombok untuk mendaki Gunung Rinjani. Dalam perjalanan laut yang mereka lewati, digambarkan bagaimana ketimpangan antara penumpang kelas eksekutif dan ekonomi. Ironisnya lagi, ditemukan pula tumpukan sampah kapal yang dibuang ke laut.

Di Rinjani, salah seorang dari mereka, Yohanes Pattiasina merayakan malam Natalnya dengan ranting-ranting kecil yang dihiasi lampu kecil. Malam itu, ia dan beberapa pendaki lainnya mesti melewatkan malam Natal bersama kehangatan keluarga baru.

Di Rinjani, perjalanan ditemani Kang Bongkeng. Seorang yang sudah puluhan tahun menjadi penggiat alam bebas. “Satu sisi kita tidak ingin buang sampah, tapi satu sisi kita juga bawa sampah,” katanya. Sampai saat ini, sampah memang masih menjadi masalah di beberapa gunung di Indonesia yang selalu ramai oleh para pendaki, termasuk Rinjani.

Negeri Dongeng
Negeri Dongeng

Seturunnya dari Rinjani, tim Aksa 7 kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bali untuk menghabiskan malam pergantian tahun sebelum berlayar ke Pontianak.

Sebab, gunung selanjutnya yang akn mereka daki adalah Bukit Raya, di Kalimantan Barat. Di sini bergabung Medina Kamil, salah satu petualang perempuan asli Indonesia.

Medina Kamil yang dua minggu lagi akan melaksanakan lamaran justru ikut pergi menjelajah dan melihat kenyataan masyarakat sekitar hutan dengan kehidupan jauh dari sebuah kata sejahtera. Diperlihatkan pula kehidupan masyarakat di sekitar hutan Gunung Bukit Raya yang mulai berpindah dari petani ke penambang emas. Alasannya, mereka mengetahui ada kekayaan alam yang lebih menjanjikan meski harus merusak.

Di sisi lain, pemerintah belum mampu menyediakan lahan pekerjaan lain yang lebih layak agar masyarakat meninggalkan penambangan emas.

Setelah Kalimantan, lalu tim melanjutkan pendakian ke Sulawesi untuk mendaki Gunung Latimojong. Di sini mereka mendaki bersama Alfira Naftaly Pangalila atau yang lebih dikenal dengan Abex, seorang perempuan petualang yang hobi menulis berbagai pengalamannya.

Pada gunung kelima ini tim Aksa 7 sudah dilanda kelelahan sehingga salah satu dari mereka yaitu Teguh Rahmadi tak dapat ikut bergabung. Abex pun beberapa kali mengalami kelelahan dan sempat terjatuh.

Di saat-saat seperti inilah kekuatan persahabatan diuji. Hal ini juga semakin menggambarkan bahwa naik gunung itu tidak gampang, dan bukan hal yang bisa dianggap sepele. Semuanya butuh persiapan matang, bahkan orang yang sudah berpengalaman saja bisa mengalami kelelahan, apalagi pemula.

Negeri Dongeng
Negeri Dongeng | Sumber: www.negeridongeng.co.id
Negeri Dongeng
Negeri Dongeng | Sumber: www.negeridongeng.co.id

Seturunnya dati Latimojong, tim Aksa 7 beristirahat dan kembali ke ibu kota sebelum melanjutkan sisa dua gunung yakni Binaiya dan Cartenz. Di Binaiya, tim Aksa 7 ditemani Darius Sinatria yang baru pertama kali mendaki gunung. Mereka mesti mendaki berhari-hari menuju puncak Binaiya. Melewati beberapa desa dan hutan lebat.

Dalam perjalanan kali ini terlihat bagaimana kehidupan asli masyarakat pegunungan yang jauh dari kota. Bahkan, untuk sampai ke desanya pun dibutuhkan pendakian satu sampai dua hari. Hebatnya, masih ada guru-guru yang mau mengabdi mengajar anak-anak di sana, meski harus menempuh perjalanan naik turun gunung setiap hari.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke puncak tertinggi di Indonesia yakni Cartenz Pyramid. Di Cartenz, tim didampingi Nadine Chandrawinata. Keindahan dan kemegahan Cartenz juga menyimpan kisah ironis lain kehidupan masyrakat Papua yang tertinggal. Bukan hanya itu, salju abadi di Cartenz pun sudah semakin menipis karena kerusakan lingkungan yang mengubah iklim.

***

Film “Negeri Dongeng” digarap sejak November 2014 hingga Mei 2016, tentu saja dengan pesan bahwa sejatinya alam perlu dijaga. Film ini juga mengingatkan kita dengan nilai-nilai empati, toleransi dan gotong royong yang sepertinya sudah luntur di banyak masyarakat perkotaan. Padahal, itu adalah budaya Indonesia yang harus dirawat.

Saya sendiri tak bosan dan ingin menonton ulang film ini, tak cukup sekali rasanya mata ini dimanjakan dengan keindahan alam Indonesia dan budaya masyarakat lokal yang begitu beragam. Bagi kalian yang penasaran, film ini akan segera tayang di bioskop!

Erika Hidayanti

Indonesia asli, darah campuran Sunda-Jawa-Bugis yang senang mencuri waktu untuk ngopi dan nulis di samping jendela kamar.