Saya, Sepakbola, dan Kopi

Jika disuruh memilih: Lebih baik hidup tanpa sepakbola atau kopi, aku memilih untuk tidak dilahirkan.

Piala Dunia 1994, saya tidak ingat betul timnas Italia sedang melawan kesebelasan mana, tapi yang jelas itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola. Sejak saat itu, saya bergabung dengan mayoritas penduduk bumi lainnya, sebagai penggemar si kulit bundar.

Dari kelas 4 SD, saya sudah terbiasa bangun dini hari untuk menyaksikan pertandingan liga-liga Eropa. Orangtua tidak pernah mempersoalkan kebiasaan saya menyaksikan pertandingan sepakbola saat pelajar lainnya sedang tertidur lelap. Selain karena saya selalu tampak bugar selama di sekolah, ayah sendiri yang memperkenalkan sepakbola. Tidak mungkin dia melarang hal yang ia perkenalkan kepada anaknya.

Saya juga tidak ingat betul kapan tepatnya mulai ketagihan kopi. Sepertinya sejak status saya berubah dari mahasiswa yang biasa-biasa saja menjadi buruh kelas menengah. Saat ini kopi sudah sejajar dengan sepakbola dalam menu utama pengisi kehidupan saya. Bahkan dapat dikatakan, kopi lebih unggul sedikit, karena sepakbola biasanya hanya hadir di midweek atau weekend, sedangkan kopi? Yeah, almost everyday!

Kopi
Kopi sebagai teman bekerja. © Anggara Gita Arwandata

Sebagai penggemar sepakbola, saya merasa punya pemahaman yang cukup baik mengenai taktik, teknik, dan aspek-aspek lainnya terkait dunia lapangan hijau. Begitu juga dalam hal loyalitas dan fanatisme, yang dianggap menjadi tolok ukur utama untuk mengenyek (mengolok-olok) seorang penggemar sebagai fans karbitan. Saya… saya adalah penggila sepakbola yang teramat sangat.

Namun sebaliknya, ketika saya berbicara tentang kopi. Saya adalah penikmat kopi yang tidak mempunyai dasar pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang jenis-jenis kopi, kualitasnya, cara penyajian, dan lain sebagainya. Tentu aneh jika ada sebutan penikmat kopi karbitan, mengacu pada sebutan fans sepakbola.

Saya lebih suka menyebutnya sebagai penikmat kopi lugu, atau penikmat kopi yang lugu, atau penikmat kopi tanpa ilmu, entahlah bagaimana padanan kata yang tepat. Yang jelas, setiap hari saya harus menyesap kopi, apapun kopinya.

Bekerja sebagai buruh kelas menengah, tentu pendapatan saya tidaklah seberapa. Kopi dari kedai seperti Starbucks dkk, bukanlah ide brilian untuk rutin dinikmati setiap hari. Saya juga tidak pernah membeli kopi nusantara dalam jumlah kiloan, seperti yang biasa dilakukan beberapa penikmat lainnya. Selain karena tidak tahu perbedaan antara satu dan yang lainnya, saya pun tidak tahu harus membeli itu di mana. Kopi semacam ini baru dapat saya nikmati ketika mendapat oleh-oleh dari teman atau ketika ada kolega yang membawanya ke kantor dan saya diperkenankan untuk mencoba.

Kopi dan Kue
Secangkir kopi tak boleh sendirian, harus ada pendamping berupa kue. © Anggara Gita Arwandata

Setiap pagi, dari Senin sampai Jumat, sesampainya di kantor, saya langsung menyeduh Indocafe Coffeemix 3in1. Wajib! Bagi saya, rasa manis pada percapuran kopi-susu-gula yang tersaji dalam 1 sachet Indocafe Coffeemix adalah pembuka hari yang tepat. Dia tidak sendirian, harus ada roti atau kue apapun sebagai menu sarapan. Tapi kebiasaan ini baru terjadi setahun belakangan.

Sebelumnya, saya lebih suka Torabika Susu sebagai kopi pagi hari. Entah kenapa, yang ada di dalam bayangan saya, kopi, susu, dan gula adalah asupan yang seimbang untuk tenaga tubuh sampai dengan jam makan siang. Setelah jam makan siang, saya menyeduh kopi hitam untuk ronde kedua. Di siang hari, kopi Kapal Api tidak tergantikan sejak saya mulai kecanduan ngopi.

Menyeduh kopi instan menggunakan air despenser adalah pilihan yang paling masuk akal bagi buruh kelas menengah seperti saya. Bukan hanya tentang harga, tapi juga rasa yang bagi saya sepertinya sama-sama saja. Rasa pahit yang bikin mata melek dan tubuh segar untuk menjalani rutinitas di kantor yang tiada habisnya. Tentu tidak akan menolak jika kebetulan di kantor ada yang menawari saya varian lainya.

Untuk akhir pekan, saya biasanya skip ngopi pada pagi hari. Dapat ditebak alasannya, tentu saja karena saya baru bangun agak siang. Setelahnya saya bergegas dengan kegiatan ini-itu bersama keluarga atau sahabat. Nah, pada kesempatan inilah biasanya saya mencoba jenis-jenis kopi lainnya, baik di warrung kopi pinggir jalan atau kedai-kedai kopi di mal. Pada lain kesempatan, saya akan bercerita tentang pengalaman saya ngopi di Imah Kopi, Lembang.

Melalui minumkopi.com, saya mencoba mencari tahu banyak hal tentang kopi. Dari jenisnya sampai pengalaman-pengalaman para kontributor saat menyesap kopi di berbagai kedai nusantara. Ingin juga sebetulnya mengetahui rasa kopi yang baik dan bagaimana cara meraciknya. Tapi keingintahuan itu mudah sirna, ketika saya menyadari bahwa ‘yang penting ngopi dan tidak nyusahin’ adalah keluguan yang membuat saya tetap hidup selama ini.

Salam ngopi lugu!

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.

  • Ulfa Febriany

    Saya juga penikmat kopi sachetan, gratisan, buah tangan, warungan, cafe-cafean dll tanpa melihat ini kopi kelas wahid atau kopi KW-3..

    Cukup menikmati secangkir kopi panas plus combro angeut di hari kejepit nasional yang deket2 sama tanggal gajian aja bisa bikin saya nyengir seharian …

  • Beda dengan saya, saya lebih suka kopi bubuk. Enaknya ya kopi saring yang sangat masyhur di Pontianak.
    Kopi bubuk sy paling demen dengan kopi buatan ibu di rumah.
    Salam kenal dari Pontianak. Berkunjung ke http://borneokopi.com/ juga sob.