Sarapan Sompil dan Ingatan Konyol Masa Lalu

Sompil Pecel
Sompil Pecel | © Muhammad Choirur Rokhim

Menikmati dan memertahankan makanan khas desa dari gempuran makanan impor harusnya menjadi kewajiban setiap orang yang lahir atau sempat hidup di desa. Makanan desa harus tetap diolah meski makanan instan secara sadar diterima dengan tangan terbuka orang-orang desa sendiri.

Tinggal di desa membuat lidah saya sejak kecil diperkenalkan dengan masakan orang desa, sehingga lamak dengan masakan pedesaan berlatar agraris dan maritim yang bersahaja itu. Sebab itu, makanan khas desa harus dijunjung setinggi-tingginya, supaya masakan desa bisa kita nikmati dari masa ke masa; dari generasi ke generasi.

Masih teringat 18 tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya membidung (ikut) ibu ke pasar untuk berbelanja. Atau, kalau tidak ikut karena ada jam sekolah, saya sering kepikiran akan oleh-olehnya jika ibu ke pasar. Boleh saja tidak ikut, asal dibelikan oleh-oleh seperti mainan yang dijual di pasar atau jajan pasar yang terkenal dengan kulinernya.

“Nanti apa, ya oleh-oleh ibu dari pasar?” batin saya sambil merenung di pojokan bangku sekolah saat itu.

Oleh-oleh atau jajanan pasar telah hadir mengisi memori saya. Mungkin juga anak-anak lain pada masanya. Kuliner khas desa menjadi menu wajib oleh-oleh yang dibawa pulang selepas belanja di pasar. Jajanan pasar yang terbungkus seperti geneman (bungkus dari daun pisang atau daun jati, sekarang memakai kertas plastik) rasanya terbawa sampai sekarang, seperti gembrung, cenil, ireng-ireng dan sompil.

Syaratnya tidak repot, asal terbungkus daun pisang atau daun jati. Sebab jika bungkusnya jadi kertas plastik, serasa tak ada lagi rasa khas desa, pun nikmatnya yang juga ikut redup. Beruntung, sompil masih ada di sela-sela tas belanja(an) orang desa dari dulu hingga sekarang, meski kemasannya telah berubah. Sompil juga bisa menjadi menu alternatif makan malam.

Karenanya, sarapan sompil di dekat jembatan manggis, Bandung, Tulungagung beberapa waktu lalu mengantarkan saya pada memori masa lalu. Masyarakat Kabupaten Trenggalek menyebutnya sompil, atau oleh orang pinggiran-agak kota biasa menyebutnya lontong. Penyebutan bagi saya tak apa, yang penting rasanya dengan guyuran kuah sayur tewel (nangka muda) tak bisa lepas; nikmat nian.

* * *

Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam ke salah satu kecamatan membuat saya harus tak sarapan. Pukul 09.00 kurang saya masuk di Kecamatan Bandung, salah satu Kabupaten Tulungagung yang berbatasan langsung dengan kecataman saya. Perjalanan harus saya lewati dengan cukup menguras tenaga, dengan naik turun gunung.

Saya sengaja tidak sarapan di rumah karena untuk menikmati sompil di salah satu warung sompil langganan. Saya sudah lama tidak sarapan sompil di warung ini. Kalau tak salah, hampir tiga atau empat tahun lalu.

Menikmati sompil di Jembatan Manggis di daerah sekitar Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, serasa sedang mengulang rentangan masa remaja dulu pada tahun 2012. Sepulang bermain bola dari kota, saya bersama teman-teman biasanya makan sompil di atas bak mobil pick up dibelikan pelatih.

Dalam satu pick up—waktu itu belum ada selembaran peringatan; Angkutan Barang, Dilarang Angkut Orang—ada sekitar 25 orang termasuk beberapa suporter. Kami seperti orang kelaparan saja jika sehabis bermain bola, dan dikasih sompil untuk disantap di atas mobil. Karena kenangan masa lalu yang konyol dan menggelikan itulah sarapan sompil di warung ini serasa mengenang dan merasakan betapa brengseknya kami dulu.

Dulu pernah kejadian. Usai menyantap beberapa menu makanan termasuk sompil, di kasir, beberapa teman tidak jujur apa saja yang telah disantap. Misal, mengambil sepuluh gorengan seperti tempe goreng, telur asin, tahu isi dan aneka gorengan lainnya, mereka hanya bilang hanya mengambil tiga gorengan saja. Kejadiannya memang tidak kelihatan, karena dalam satu pick up itu ada 25 orang dan mereka makan semua, baik makan sompil atau nasi pecel. Habisnya tidak seberapa sih, tetapi mbok iyo ta ngunui ngomong jujur, kalau abis makan ini-itu, wong ada yang bayari! Ya, namanya anak-anak ada aja tingkah usil dan konyol nan menggelikan jika kita kenang.

Bagian Luar Warung Sompil
Bagian Luar Warung Sompil | © Muhammad Choirur Rokhim
Bagian Dalam Warung Sompil
Bagian Dalam Warung Sompil | © Muhammad Choirur Rokhim

“Sarapan apa, Mas?” Tawar ibu setengah baya memecah ingatan saya.

“Sarapan Sompil Pecel, Bu,” jawab saya selepas menaruh tas bawaan di atas bangku.

Saya pun langsung mencari tempat duduk sembari menunggu pesanan datang. Tempat ini sudah berbeda, kini terlihat agak cukup lebar. Empat tahun lalu masih sempit.

Saya datang bersama dengan lima orang yang menaiki mobil putih mewah, entah merek apa. Rombongan itu juga pesan sompil dan lauk. Saya sempat mengambil gambar tempat itu dari beberapa sisi. Tetapi karena kebawa perasaan masa lalu yang kurang baik, pengambilan gambar jadi tak maksimal, terkesan sembunyi-sembunyi. Padahal waktu itu saya tidak melakukan hal bodoh kala beberapa tahun lalu. Tetapi entahlah, kenangan masa itu masih membekas kuat di pikiran saya.

Seorang ibu datang membawa sepiring sompil. Porsinya selalu pas di ukuran perut saya. Dari sompil pecel itu saya tambah tempe goreng dan satu tusuk telur puyuh sebagai lauk. Sompil pecel juga bisa menjadi alternatif sarapan pagi.

Oh iya, sompil adalah makanan berbahan beras yang dibungkus dari daun pisang. Orang kota kerap menyebutnya lontong, masyarakat lokal menyebutnya sompil, dan biasanya dimakan dengan jangan (sayur) tewel.

Usai menghabiskan satu porsi sompil, saya mendatangi ibu tadi dan bertanya habis berapa. Ibu tadi dengan wajah yang standar menjawab, “Delapan ribu, Mas!”

Wah murah sekali. Satu piring sompil penuh gizi dan tambah beberapa lauk cuma habis kurang 10 ribu. Jika tidak ingin kembalian, sisanya sebetulnya bisa dibelikan lauk-lauk lebih banyak lagi. Sebab itu, sarapan di warung sompil ini tidak bakal membuat kantong bolong.

Lokasi warung ini juga strategis, pinggir jalan utama, sompil jembatan Manggis, selatan Bantengan. Jika Anda ingin menuju atau dari Pantai Prigi letaknya sebelah utara jalan. Warung ini berada di jalan poros menuju Kabupaten Tulungagung, atau jalur Kabupaten Trenggalek yang lewat jalur kecamatan Bandung, Tulungagung.

Menikmati sompil, saya merasa mengulang masa lalu yang penuh kekonyolan.

Muhammad Choirur Rokhim

Lahir di Trenggalek. Besar di Jalan. Mengadukan nasib di kota orang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405