Sarapan Pagi di Warung Kopi Semesta

Warung Kopi Semesta
Para remaja sedang kongkow © Danu Saputra

Ini semestanya warung kopi Yogyakarta, Warung Kopi dan Makan Semesta namanya. Warung kopi ini terletak tak jauh dari Malioboro, tepatnya di Jalan Abu Bakar Ali No 2.

Suasana khas yang dihadirkan membuat Semesta berbeda dari warung-warung lain. Suasana ini pula membuat Semesta sulit dimasukkan pada berbagai kategori. Semesta tidak dapat dikatakan sebagai sebuah coffee shop. Tak tersedia mesin pembuat espresso di sini. Barangkali ini alasan istilah ‘warung kopi dan makan’ menjadi pilihan.

Penggunaan istilah warung kopi lebih tepat jika kita melihat kopi yang disajikan di warung kopi ini. Kopi yang dihadirkan di Semesta seperti kebanyakan warung lain di Indonesia yakni kopi robusta. Barangkali itu pula yang membuat kopi di Semesta laris manis disruput pengunjung. Masyarakat Indonesia lebih terbiasa dengan jenis kopi robusta daripada arabica. “Dari data penjualan, kopi selalu berada di atas sebagai yang paling banyak dipesan pengunjung,” kata Danise Nur Putranto, pekerja yang saya temui di bagian kasir.

Kopi di Semesta ini didatangkan dari produsen kopi daerah Jombang, Jawa Timur. Kopi yang didatangkan masih dalam keadaan biji kopi, supaya punya karakter yang khas Semesta mengsangrai sendiri kopi. Selain dapat dinikmati di Semesta, kopi ini juga disediakan dalam bentuk bubuk kopi kemasan.

Saya telah beberapa kali mengunjungi Semesta, namun dalam setiap kedatangan saya selalu di malam hari. Di malam hari kedai yang menampung ratusan orang terasa penuh. Suara musik terdengar, dan pengunjung yang beraneka varian utamanya dari golongan muda tumpah ruah di warung ini. Mereka keluar-masuk Semesta secara bergantian. Sejak sore hingga dini hari Semesta senantiasa ramai. Singkatnya Semesta malam hari serupa pergelaran pesta kebun.
Warung Kopi Semesta
Kopi robusta dari Jawa Timur © Danu Saputra

Semesta mengusung konsep suasana taman. Aneka tumbuhan dan bunga-bunga ditanam di lahan berundak-undak di sisi kanan. Di sebelah kiri nuansa taman masih dipertahankan. Di bagian ini pula terdapat teras besar. Di tempat ini diskusi dengan kelompok besar bisa digelar.

Harga yang ditawarkan di Semesta relatif bersahabat. Nuansa taman membuat kedai ini menjadi jujugan golongan muda untuk mengusir penat, ada pula yang menjadikan Semesta tempat kencan bersama kekasih tercinta. Bagi kalangan mahasiswa yang belum mendapatan kiriman uang bulanan masih menjangkau harga yang berkisar Rp 5 ribu sampai 10 ribu rupiah.

Suara gelak tawa sesekali terdengar dari remaja yang bermain kartu. Kebanyakan yang datang berkunjung di malam hari sengaja mencari hiburan. Mereka bermain kartu atau sekedar kongkow. Bisa pula menonton pertandingan bola jika kebetulan ada pertandingan dari televisi layar datar. Namun televisi itu selain ada pertandingan bola seperti dicuekin. Berbincang dengan kawan senantiasa menjadi pilihan pengunjung.

Beberapa malam sebelumnya saya datang ke Semesta, dan sempat menghampiri empat orang yang sedang bermain kartu. Tiga di antara mereka memesan kopi ukuran tanggung dan seorang lain memesan jus buah. Mereka yang teman dari Fakultas Ilmu Sosial UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). “Asyik,” komentar singkat Fauji tentang tempat ini. Fauji, Aris, Rifa dan Vika, empat kawanan ini memang sering berkunjung ke Semesta. Biasanya mereka berkunjung saat di kampus sedang tidak ada kegiatan.

Saya heran melihat ada berkelompok-kelompok orang yang bermain kartu. Padahal pihak Semesta tidak menyediakan kartu remi atau gaplek. Pengunjung meski membawa sendiri kartu itu. Pihak kedai sempat menyediakan namun kartu-kartu itu malah jarang kembali.

Warung Kopi Semesta
Main kartu © Danu Saputra

Kali ini saya datang berkunjung di pagi hari. Suasana taman menjadi terasa beda. Lagu-lagu yang keluar dari pengeras suara di beberapa sudut mengalunkan nada yang memberi nuansa tenang. Beberapa orang terlihat menyalakan komputer jinjingnya, dan ada pula yang membaca mengetik atau membaca buku. Dengan di depannya tersedia kopi dan piring nasi yang telah melaksanakan tugasnya.

“Di pagi hari pengunjung yang datang kebanyakan pekerja meskipun ada pula mahasiswa,” kata Danise.

Saya memesan lalapan, air mineral dan secangki kopi pagi itu. Air mineral bisa dibawa langsung, namun untuk lalapan dan secangkir kopi saya masih menunggu. Sebuah nomor saya bawa serta dari kasir. Nomer inilah yang digunakan bagi pekerja untuk mencari siapa pemesannya. Cara ini memang lebih memudahkan bagi Semesta, agar tidak terjadi salah kirim pesanan. Apalagi saat malam hingga dini hari, saat pengunjung sedang ramai-ramainya.

Lalapan adalah makanan keseharian masyarakat, banyak warung yang menyajikan menu serupa. Di warung ini penyajiannya dibuat berbeda, karena selain disajikan dipiring yang lumayan menarik juga dihiasi oleh mentimun dan tomat serta sayuran.

Rani Dwi Lestari, seorang wartawati di harian Kedaulatan Rakyat, datang bersama teman-temannya. Dia biasa datang ke tempat ini untuk berkumpul bersama kawan-kawannya, meskipun tak tentu jam berapa. “Kalau lagi butuh tempat istirahat biasanya ke sini,” kata Rani. Suasana yang ada memberikan kesan seakan di rumah sendiri menjadi kelebihan dari Semesta.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.