Sarapan Hemat di Pasar Ubud

Suasana di Salah Satu Sudut Pasar Ubud
Suasana di Salah Satu Sudut Pasar Ubud | © Nana Kusuma

Kawasan Ubud, Bali memang terkenal sebagai “kawasan mahal”. Lokasinya yang asri, khas pedesaan serta sangat kental dengan budaya lokal menjadikan kawasan Ubud memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Baik dari segi penginapan maupun jajanan, sangat sulit untuk bisa mendambakan menikmati liburan hemat di Ubud.

Meski sulit, bukan berarti tidak mungkin. Akhir bulan Oktober lalu, saya menghabiskan waktu seminggu di Ubud. Untuk menghemat biaya penginapan, saya memilih mencari kos-kosan, bukan hotel. Biaya kos seminggu lebih murah hingga sekitar 60% jika dibandingkan biaya menginap di hotel.

Untuk menghemat biaya makan, saya mencoba sarapan di pasar tradisional. Di kota manapun, yang namanya pasar tradisional di pagi hari pasti menyediakan berbagai jajanan tradisional yang mengenyangkan dengan harga super miring. Tidak terkecuali di Ubud. Meski pusat keramaian di Jalan Raya Ubud dipenuhi deretan kafe dan restoran mahal, namun pasar tradisional tetap menawarkan hidangan dengan harga super hemat.

Untuk satu porsi sarapan, saya hanya perlu mengeluarkan budget Rp5.000,- saja. Harga sudah nett, tidak ada embel-embel pajak, biaya layanan dan lain-lain seperti di restoran.

Lalu dapat apa dengan lima ribu rupiah itu? Ada 3 menu makanan lima ribuan yang saya coba, yaitu bubur Bali, nasi ayam Bali dan jajan pasar tradisional yang saya lupa namanya. Porsi jajan pasar dan bubur menurut saya standar untuk sarapan, tapi porsi nasi di nasi ayam Bali untuk ukuran saya terlalu banyak. Porsi nasinya lebih cocok untuk makan siang.

Kalau bosan dengan 3 menu itu, masih ada nasi ubi dengan lauk ikan yang juga dijual seharga lima ribu rupiah per porsinya. Untuk yang tidak suka masuk ke pasar tradisional, tenang saja, karena penjual makanan yang saya sebutkan itu semuanya berjualan di luar bangunan pasar. Jadi tidak perlu blusukan untuk sarapan hemat di pasar Ubud.

Tapi kalau kamu suka blusukan, di dalam pasar banyak penjual yang menawarkan berbagai makanan lain seperti soto, sate, nasi campur dan lain-lain. Harganya tentu tidak semua lima ribuan, tapi dijamin nggak akan bikin kantong bolong.

Bubur Bali
Bubur Bali | © Nana Kusuma
Nasi Ayam Bali
Nasi Ayam Bali | © Nana Kusuma

Jajan pasar tradisional isinya bermacam-macam, ada ketan, getuk, serabi, klepon dan berbagai kue berbahan tepung ketan dan tepung singkong yang ditaburi parutan kelapa lalu disiram gula merah cair. Rasanya manis, cocok disantap sebagai pendamping teh atau kopi panas di pagi hari.

Bubur Bali terbuat dari beras. Jangan bayangkan seperti bubur ayam ya, bubur Bali dihidangkan dengan tumisan rumput laut dan sambal. Bubur ini sangat cocok buat para pecinta makanan pedas karena kamu boleh minta sambal sesuai selera.

Nasi ayam Bali adalah menu favorit saya. Jenia nasi ini sedikit mengingatkan saya dengan menu sarapan yang biasa dijual di kampung halaman saya. Nasi putih disajikan dengan lauk tempe orek, mi goreng, telur bacem, serundeng kelapa gurih dan ayam suwir bumbu Bali. Rasanya lebih dominan pedas, terasa nikmat karena diimbangi sedikit rasa manis dari tempe orek dan telur bacem.

Yang saya suka dari kegiatan “berburu” sarapan di pasar, selain hemat, kita juga bisa menikmati suasana lokal yang sangat kental. Dari pasar juga, kita bisa menemukan makanan dengan rasa lokal yang otentik.

Yang unik dari pasar-pasar tradisional di Bali adalah banyaknya penjual canang. Canang adalah mangkok janur yang digunakan sebagai tempat menaruh bunga untuk persembahan dan sembahyang umat Hindu di Bali.

Kue Jajan Pasar Tradisional
Kue Jajan Pasar Tradisional | © Nana Kusuma
Penjual Canang di Pasar Ubud
Penjual Canang di Pasar Ubud | © Nana Kusuma

Pasar tradisional Ubud termasuk komplit. Tak hanya menjual berbagai makanan siap makan, sayur, daging atau keperluan rumah tangga harian lainnya, pasar Ubud juga menyediakan berbagai oleh-oleh khas Bali. Mulai pakaian, kerajinan tangan, perhiasan dan banyak lagi oleh-oleh khas Bali lainnya yang bisa kamu temukan di pasar Ubud.

Berbeda dengan harga makanan yang sangat murah, untuk berbagai barang oleh-oleh, kamu harus berani tawar menawar karena biasanya harga awal yang ditawarkan sangat tinggi. Kalau beruntung dan lihai, kamu bisa mendapatkan barang yang kamu inginkan dengan harga setengah lebih murah dari penawaran awal. Jadi kalau mau oleh-oleh yang hemat, jangan sungkan tawar menawar.

Sementara untuk urusan kuliner, karena pembeli umumnya adalah warga lokal, harganya sudah dipatok dengan harga pas, dan memang sudah sangat murah. Jadi jangan ditawar lagi ya, kasihan yang masak hehehe.

Tak hanya di Ubud, di kota manapun, jika mau hemat, syaratnya ya jangan sungkan keluyuran di pasar tradisional.

Nana Kusuma

Suka membaca, suka jalan-jalan, suka belajar menulis apa saja. Catatan visual bisa diintip di akun instagram @nanakunanaku.