Santap Sarapan khas Manado di Kantin S15

Mencari sarapan di Jogjakarta tidaklah susah. Apalagi soal harga murah. Terlalu banyak dan bahkan mudah dijumpai di pinggiran kota Jogjakarta. Tapi, mencari sarapan murah dan memiliki cita rasa maknyuus mungkin tergolong langka. Kini saya telah menjumpainya di salah satu kedai yang cukup populer di tengah kota Jogjakarta: Kantin S15.

Pagi itu, saya diajak kedua teman yaitu Djarwok dan Hair untuk sarapan. Djarwok mengatakan bahwa saya harus mencoba sarapan berkualitas di kantin S15. Mulanya saya menolak. Rumah saya berada di daerah Monjali. Sedangkan tempat yang dituju ada di daerah Suryodiningratan.

Untuk mencapai kesana dibutuhkan waktu 30 menit. Mungkin bisa lebih dan yang jelas tak mungkin kurang. Kenapa begitu? Pagi dari jam enam hingga jam delapan adalah waktu padat nan macet, berangkatnya anak-anak sekolah hingga orang dewasa ke sekolah dan kantor. Belum lagi deru suara sepeda motor dan kebulnya asap knalpot membuat saya hampir mengurungkan niat tersebut. Tapi, Djarwok bersikeras memaksa. Katanya, ini akan menjadi salah satu sarapan berkualitas dalam hidup.

Sebenarnya saya berangkat pun dengan agak sedikit rasa malas. Tapi, karena jawaban Djarwok seperti itu, saya membuang jauh-jauh pikiran saat mengendarai sepeda motor butut saya. Semoga harapan sesuai dengan kenyataan. Kalau tidak, itu akan menjadi persoalan.

Motor saya arahkan untuk melewati jalan-jalan padat. Dari Jl. Mangkubumi kemudian melewati Jl. Mataram. Agak macet tapi bisa dilewati perlahan-lahan. Setelah itu melewati perempatan Taman Pintar kemudian lurus melewati daerah THR. Bagi yang tak mengerti, THR adalah Taman Hiburan Rakyat yang beralih menjadi Purawisata. Sayang, riwayatnya telah usai karena telah berganti menjadi hotel. Lagi-lagi hotel.

Kemudian saya mengambil Jl. Parangtritis kemudian belok kanan melewati daerah Tirtodipuran. Bagi kamu penikmat film AADC 2, mungkin kamu akan sedikit bernostalgia. Tirtodipuran adalah salah satu wilayah yang semakin populer berkat film Ada Apa dengan Cinta 2. Ada beberapa tempat yang pernah digunakan Nicholas Saputra dan Dian Sastro untuk beradu akting.

Melewati perempatan kemudian menyebrang 100 meter maka sampailah kami di Kantin S15 Jl. Suryodiningratan. Letaknya berada di depan ISI Sekolah Pascasarjana. Suasana sepi. Lengang. Seperti tak ada orang. Hampir saja kami pulang. Beruntung, ada seorang lelaki menggunakan celemek yang menyuruh kami untuk memarkirkan sepeda motor di tempat yang telah disediakan.

Lelaki yang menggunakan celemek itu adalah Mas Ridwan. Ia adalah pria asli Bantul yang kebetulan bekerja sebagai juru masak. Selain beliau, ada Mas Budi, juru masak asli Manado. Sayang sekali, Mas Budi sedang ada acara di luar sehingga kami tak sempat bersua dengan beliau.

Suasana lengang di Kantin S15
Suasana lengang di Kantin S15 | © Moddie Alvianto Wicaksono

Kami pun memilih tempat duduk. Ada banyak tempat. Tapi kami memilih bagian tengah. Sengaja memilih disitu agar bisa menghirup aroma masakan. Saat saya sedang membolak-balikkan daftar pesanan, Djarwok nyeletuk, “Pilih saja Bubur Manado”. Saya dan Hair mengiyakan karena mungkin yang dimaksud sarapan berkualitas adalah Bubur Manado. Tak butuh pikir panjang, kami langsung memesan tiga Bubur Manado ditambah tiga teh hangat.

Sembari menunggu, kami melihat-lihat beberapa pigura yang terpampang di dinding. Ada mural yang bertuliskan Kantin S15 dengan semboyan “Eat, Drink, Connect”. Tempat ini cukup luas. Mejanya lebih dari cukup. Begitu pula dengan kursinya. Cobalah kesini saat pagi hari. Suasana kantin S15 menenangkan sekaligus menyenangkan.

Tiga teh hangat telah disajikan. Sepuluh menit kemudian giliran Bubur Manado dihidangkan di meja kami. Aromanya menguar. Asapnya membumbung. Mata saya sedikit terbelalak dengan warna Bubur Manado. Kuning. Maklum biasanya saya menjumpai bubur itu berwarna putih.

Bubur Manado terdiri dari beras, jagung, bayam, labu, dan ubi. Selain itu, diatasnya diberi beberapa ikan kecil. Mirip wader goreng. Tak lupa, ditambahkan kemangi. Ada juga sambal yang ditaruh dalam cawan kecil. Nah ini yang paling penting: sambal khusus! Tak sembarang sambal bisa dicampur dengan Bubur Manado. Masyarakat Manado sering menyebutnya sambal ikan.

Selagi hangat, kami langsung menyantap bubur Manado. Jangan lupa, selalu tambahkan sambal. Kalau perlu beri sambal yang cukup banyak. Menurut Hair, kebetulan ia adalah orang Sulawesi, Bubur Manado yang lezat adalah bubur yang berwarna kuning kemerah-merahan. Semakin pedas rasa bubur, semakin merah warna bubur, semakin paripurna pula dalam menikmati Bubur Manado.

Bubur Manado Kantin S15
Bubur Manado Kantin S15 | © Moddie Alvianto Wicaksono

Oh iya, perlu diketahui dalam Bubur Manado tak perlu ada perdebatan baiknya bubur diaduk atau tidak. Bubur Manado itu ya diaduk. Kalau tidak diaduk tak bakalan jadi merah. Dan tak akan menjadi lezat. Benar juga sih.

Kami semua menikmati suapan demi suapan. Sesekali menghapus bibir dengan lidah karena sebagian bubur terkadang menempel di wilayah itu. Saat sedang menyeruput teh, Hair berani bersumpah, “Selama aku di Jawa, ini Bubur Manado terenak yang pernah kucoba.” Saya pun mengiyakan. Begitu pula dengan Djarwok. Walaupun, baru sekali mencoba, tampaknya Bubur Manado akan menjadi sarapan wajib di Jogjakarta.

Kalimat terakhir seakan ingin menjadi paragraf pamungkas dalam cerita ini. Sayangnya belum. Hair dan Djarwok meminta masing-masing satu porsi lagi Bubur Manado. Mas Ridwan pun tersenyum bahagia. Ia dengan sigap dan cepat menyajikan Bubur Manado. Namun kali ini berbeda. Ia membiarkan mereka untuk mengambil sambal sebanyak-banyaknya. Supaya lebih puas.

Dan dalam sekejap warna kuning berubah menjadi warna merah darah. Keringat bercucuran ditambah sinar matahari yang mulai menyengat menambah gairah untuk melahap satu mangkuk lagi bubur Manado. Tak butuh tiupan. Tak butuh pula kedipan. Dalam waktu lima menit, telah tandas bubur Manado di perut. Puas.

Walaupun begitu, sebagai orang Sulawesi yang budiman, Hair memberikan saran agar menunya ditambah dengan perkedel ‘latang’. Di Manado, bubur disajikan dengan perkedel itu alias perkedel ikan. Ia yakin semakin hari akan banyak penikmat bubur Manado di Jogjakarta.

Perpaduan rasa, selera, dan harga menjadi alasan mengapa kami akan terus kembali ke kantin S15. Menyantap sarapan dengan porsi seimbang. Rasa nikmat, harga teman. Lidah senang, kantong pun gembira riang.

Kami sudah merasakan sarapan berkualitas di Kantin S15. Kamu kapan? Jangan lupa, buburnya diaduk. Bukan dipisah apalagi dibakar. Cuman bunga yang boleh dibakar. Bukan bubur.

Moddie Alvianto Wicaksono

Pemain Futsal Amatir