Sangrai Kopi Tradisonal Ala Serampas

Di Dataran Tinggi Jambi ada komunitas masyarakat adat yang bernama Serampas. Serampas merupakan dataran tinggi Jambi berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ketinggian Geografis Serampas 900-1300 mdpl. Tepat di kaki Gunung Masurai, Gunung Sumbing dan bukit Barisan yang membentang di sebelah barat pulau Sumatra.

Kebun kopi tumbuh subur di kebun-kebun masyarakat serampas. Hampir setiap keluarga memiliki kebun kopi 3-5 ha. Rata-rata mereka menanam kopi varietas Robusta.

Nek Nova, nenek tua sudah punya cucu empat tergolong sudah kategori Jompo. Sudah pensiun dari pekerjaannya, berkebun kopi. Nenek Nova kini berprofesi sebagai penyangrai kopi tradisional di Serampas. Masyarakat Serampas jika ingin menikmati kopi hasil kebun, nenek Nova lah yang mengerjakannya. Hasil sangraian nenek Nova begitu memikat lidah masyarakat Serampas.

Sembari Nek Nova menyangrai kopi, saya berbincang dengannya.

Nenek Nova sedang menyangrai kopi dengan menggunakan wajan warisan neneknya dan kayu sebagai bahan bakarnya
Nenek Nova sedang menyangrai kopi dengan menggunakan wajan warisan neneknya dan kayu sebagai bahan bakarnya. © Abdulloh

“Sejak kapan Nek menyangrai kopi?.”

“Wah sudah lama sekali saya melakukan sangrai kopi ini, sejak saya masih kecil.”

Tangannya sambil mengayunkan centong kayu. Sesekali nenek membetulkan posisi kayu yang terbakar dan mengatur suhu panas bara api. Saya pun kembali bertanya, pernyataan nenek memancing keingintahuan saya tentang proses sangrai kopi ini.

“Dulu, Nenek belajar dimana proses sangrai kopi ini?”

“Belajar dari Nenek saya, dulu kan aku gak sekolah, jadi kerjaannya disuruh nenek sangrai kopi.”

“Proses sangrai kopi butuh berapa lama?” Saya bertanya sambil membetulkan kayu bakar.

Sebelum nenek menjawabnya, nenek mengambil sirih untuk dikunyahnya: “butuh 2-3 jam.”

Hasil Sangraian Kopi Nenek Nova
Hasil Sangraian Kopi Nenek Nova © Abdulloh

Ada kebiasan dalam proses sangrai kopi di Serampas ini, mereka menyangrai sebelum kopi menjadi hitam dan mengeluarkan aroma gosong. Jadi, kopi yang enak itu dalam proses sangrai jangan terlalu gosong, dan yang terpenting warnanya sudah coklat ke hitam-hitaman. Sudah mantap itu, karena jika terlalu gosong minyak yang terkandung di biji kopi akan hilang. Jika gosong, kopi sama saja seperti arang.

Hidup bersama petani kopi rasanya tidak afdol jika menikmati kopi sasetan produk kapitalis yang semakin membohongi cita rasa kopi. Sebut saja kopi cap kapal api, konon satu biji kopi bisa menjadi lima saset kopi, dengan harga Rp 1500 perbungkusnya. Atau kopi branding: kopi luwak, iklannya para artis kawakan dengan bijak menikmati rasa kopi dengan kata-kata nikmatnya kopi tiada tanding.

Jujur sejak tahun 2013 saya hidup bersama petani kopi Serampas saya tidak lagi mengkonsumsi kopi sasetan yang terjual bebas di warung-warung kelontongan di setiap gang. Ini masalah idealis, “masak hidup bersama petani kopi minum kopinya sasetan.” Selama sudah tiga tahun ini saya hidup bersama petani kopi dan saya selalu meminta untuk disangraikan kopi hasil panen petani. Menikmati kopi langsung dari kebunnya, melihat langsung pengolahannya yang masih tradisional, sungguh sangatlah nikmat. Melebihi nikmatnya kopi-kopi sasetan itu.

Abdulloh

Penikmat Kopi Robusta.