Sanger Mini dan Obrolan Sore Sepulang Ngampus

Setelah seharian lelah berkutat dengan pembelajaran di kelas, tugas kuliah, nunggu dosen, pening mikirin skripsi, akhirnya aku dan lima kawan senasib berkumpul dan memutuskan pergi ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi nampaknya menjadi wadah yang tepat untuk berkumpul sambil berdiskusi.

Aceh Corner. Itulah nama tempat kopi yang kami datangi. Tempatnya tak jauh dari kampus kami. Jaraknya sekitar 300 meter dari pintu gerbang Universitas Negeri Medan. Tepatnya di Jalan Slamat Ketaren, Komplek MMTC. Jadi, mau berkendara atau pun jalan, sangat mudah di akses menuju ke TKP.

Sesampainya di pintu depan kedai, kami bingung karena kondisinya ramai dan kami kewalahan mencari tempat duduk di dalam. Jika tak ada tempat kosong, ya, bisa juga sih, duduk di outdoor atau lantai 2. Tapi, rasanya kurang afdol kalau enggak di dalam, karena enggak bisa melihat barista beratraksi. Dan satu lagi yang membuat duduk di indoor lantai 1 menjadi penting. Ya, fasilitas Wi-fi yang disediakan jadi kurang kencang kalau duduk di outdoor atau lantai 2. Maklum, tujuan kedua selain minum kopi, memang untuk menikmati jaringan internet gratis Hehehe.

Tapi akhirnya kami terpaksa mengambil tempat di luar. Sesaat kami duduk, waiter menghampiri dan menanyakan pesanan. Kami berlima bersepakat memesan “sanger mini panas”. Dan kami minta tolong sama waiter kalau ada meja di dalam yang kosong supaya kami dikabari agar bisa pindah ke sana.

Segelas sanger mini
Segelas sanger mini | © Lewis Siahaan

Kenapa “sanger mini panas”?

Karna rasa dan harga minuman tradisional Aceh ini cukup bersahabat. Harganya cuma Rp 5.000.

Cukup bawa Rp 10 ribu sudah mantap. Harga Rp 5 ribu buat bayar kopi dan yang Rp 5 ribu lagi buat CKCK (dana sesuai kemampuan) buat beli rokok Hahahaha. Begitulah mahasiswa.

Setelah sanger datang, seketika itu juga langsung diseruput dengan penuh khidmat. Kentalnya kopi ditambah sedikit susu, membuat fresh dan bersemangat peminumnya. Kemudian sebatang rokok kretek yang dibeli hasil ckck pun dihisap.

Ide pembicaraan muncul dan obrolan pun dimulai. Demikian pembicaraan yang terekam. Maaf, nama sengaja disamarkan sebab mereka masih hidup berdiri di atas bumi dan antek-anteknya masih berkeliaran di mana-mana.

AH: Pening dibuat skripsi ini, Bah. Gak siap-siap bab 3, ku.

LS: Kau uda enak lae tinggal skripsi. Aku masih ada mata kuliah ini.

BS: Kalian stambuk 2013. Aku dari 2011 sampe sekarang gak habis-habis mata kuliah. Apa nggak ngeri kali itu?

BTS: Ahh kalau aku balek lah ke kampung bertani. Ngapain pulak di Medan aku selama skorsing 1 semester ini.

MP: Aku diam-diam ajalah, Bang yang stambuk baru ini Hahahaha.

Unek-unek selama seharian di kampus pun satu persatu tercurahkan dalam forum obrolan dan terus berlanjut sampai terhentikan oleh waiter yang mengabarkan sudah ada bangku kosong untuk diduduki di dalam dan kami pun segera pindah.

Ngopi sambil diskusi
Ngopi sambil diskusi | © Lewis Siahaan

Setelah pindah, berbagai hal kembali didiskusikan. Dari yang penting sampai tak penting, yang solusi sampai debat kusir. Entah itu tentang tisu di meja yang dianggap kapitalistik—karena masalah efisiensi (sekali pakai buang), reproduksi, sampai menghisap tenaga kerja buruh dan merusak lingkungan. Kami juga membahas statak (strategi dan taktik) kedai kopi ini dalam metode pemasaran. Sampai mengenai asal usul suku Batak (faktor orang batak dan anak jurusan sejarah) pun tak luput dari bahasan.

Ide-ide kami untuk berkarya pun banyak muncul di tempat ini. Ide buat website pariwisata Sumut, ide membuat komunitas sastra, diskusi situasi kampus, dan ideku untuk nulis di minumkopi.com juga mucul di tempat ini.

Hingga tanpa sadar hari sudah cukup larut malam. Sanger dan rokok di meja sudah habis. Masing-masing sudah saling memandangi android yang dialiri oleh signal wi-fi gratis dari warung kopi. Dan itulah pertanda dari pertemuan akan segera berakhir. Kami kembali ke kos masing-masing sambil mengeluh hari esok pun akan kembali disuguhkan oleh kejenuhan yang diciptakan oleh sistem perkuliahan kampus.

Lewis Siahaan

Penulis aktif di Kelompok Studi Mahasiswa BARSDem dan penikmat sanger.