Sampo Kopi yang ‘Moody’

Sampo Kopi Naturizz.com
Sampo Kopi | Sumber: Naturizz.com

Seperti kata teman saya Sofie —yang juga menjadi reseller sampo kopi— sampo kopi awalnya dirancang dalam bentuk padat, yang berfungsi menghentikan pertumbuhan uban baru, dan mengurangi uban yang sudah ada. Karena terbuat dari bahan alami, khasiatnya baru terasa agak sedikit lama setelah pemakaian rutin. Tidak instan. Dan selama pemakaian, pengalaman satu dan lain orang akan berbeda. Ada yang langsung merasakan rambutnya lembut, enak, tidak gatal atau rontok. Ada pula yang merasakan rambutnya menggumpal, kusut, dan semakin rontok.

Pada perkembangannya, sampo kopi tak hanya mengurangi dan menghentikan pertumbuhan uban, tapi juga menghilangkan ketombe dan mengatasi rambut rontok. Bahkan pada pemakaian yang teratur dan cukup lama, rambut pemakainya akan menyubur, mengkilat, dan lembut. Botak di kepala pun perlahan akan tertutupi oleh rambut.

Sehebat itukah manfaatnya? Kalau saya bilang iya, tentu ini promo berlebihan. Padahal saya tak sedang mengejar pembeli. Menyabun dan menyampo harus dilakukan dengan bahagia, senang, dan memberi kesegaran pikiran.

Sampo Kopi Batangan Ary Amhir
Sampo Kopi Batangan | © Ary Amhir

Sebagian pemakai sampo kopi merasakan manfaat di atas. Uban berkurang, ketombe menghilang, rambut menjadi tebal dan banyak. Sebagian lain tidak, bahkan datang dengan banyak keluhan, penuh tuduhan. Mengapa?

1.Jika memiliki rambut sehat, Anda tak membutuhkan sampo kopi. Rambut Anda sudah cukup memproduksi minyak sendiri, melindungi tiap helainya dari teriknya sinar matahari, dan melindungi kulit kepala dari kejamnya cuaca. Anda hanya harus merawatnya secara teratur. Keramas secara teratur, sesekali memanjakannya dengan hairtonik atau pelembab rambut. Anda juga harus menjaganya dengan asupan gizi khususnya vitamin A dan B yang cukup.

Kalau rambut Anda sehat, lalu menggunakan sampo kopi —yang mirip suplemen tambahan dalam makanan— maka akan ada kelebihan produksi minyak di rambut. Alih-alih rambut bertambah sehat, justru terjadi penumpukan minyak di kulit kepala. Hasilnya adalah ketombe, gatal.

Saran saya, kalau rambut sudah sehat dan menginginkan perawatan rambut alami, keramas saja dengan cuka apel, baking soda, atau jeruk nipis. Sesekali beri vitamin rambut seperti jus lidah buaya, jus buah amla, dan sebagainya. Atau beri rambut dengan minyak nabati ala zaitun, soya, namun dalam jumlah terbatas.

2.Jika Anda mengalami keluhan rambut ringan seperti ketombe yang jarang terjadi, pergunakan sampo kopi hanya sampai ketombe menghilang. Setelah itu rawat rambut dengan cara alami seperti keramas dengan cuka apel, jeruk nipis, atau sari lidah buaya. Jika masih ingin menggunakan sampo kopi, selingi waktu keramas dengan sampo natural di atas.

Pada beberapa kondisi, ketombe disebabkan karena tidak cocok dengan sampo yang dipergunakan. Maka hentikan pemakaian sampo Anda —sampo kimia misalnya— dan bergantilah dengan perawatan menggunakan bahan alami seperti cuka apel, jeruk nipis, lidah buaya dll. Biasanya cara ini efektif dalam menghentikan ketombe yang membandel.

3.Pada kasus rambut rontok, perhatikan hal berikut ini:

  • Apakah kerontokan rambut disebabkan karena memakai sampo yang tidak cocok? Jika iya, coba ganti dengan sampo yang sesuai dengan kondisi rambut.
  • Jika sudah mengganti sampo, rambut masih rontok. Perhatikan asupan gizi Anda, apakah cukup mengandung vitamin A dan B. Dua vitamin ini berperan dalam pembentukan rambut, mengokohkan akar rambut dan mempengaruhi produksi pigmen rambut.

Sejauh ini sampo kopi mampu mengatasi rambut rontok, bahkan dalam kondisi yang ekstrim. Biasanya, untuk mempercepat penanganan, penggunaan sampo kopi akan dibarengi hairtonik dari minyak tumbuhan yang mengandung rosemary dan cedarwood.

Tak hanya menghentikan kerontokan rambut, sampo kopi juga menyuburkan rambut. Pada pemakaian yang teratur dalam kurun waktu relatif lama, pemakai sampo akan merasakan rambutnya semakin lebat, helai rambutnya pun menebal. Beberapa kawan mengalami hal ini. Saya juga. Dulu, sebelum menggunakan sampo kopi, rambut saya yang panjangnya lebih 50cm kerap rontok saat keramas. Kini nyaris tak ada yang gugur. kerontokan hanya terjadi saat menyisir rambut, karena beberapa bagian rambut ‘mbulet’ ujungnya. Kerontokan juga terjadi saat saya menyisir rambut dalam keadaan basah. Ketika masih basah, rambut cenderung lebih rapuh. Akarnya melemah.

Adakalanya, rambut semakin rontok pada awal pemakaian sampo kopi. Ini semacam detoks. Membuang rambut yang tidak sehat dan akarnya rapuh. Ketika Anda memakai produk perawatan rambut kimia, maka akan terbentuk lapisan di kulit kelapa. Rambut yang tumbuh, akarnya berada di lapisan ‘semu’ kulit kepala ini. Ketika menggunakan sampo kopi, detoksifikasi terjadi. Lapisan baru yang merupakan timbunan bahan kimia hasil produk rambut sebelumnya akan disapu, otomatis rambut baru yang tumbuh di atasnya pun ikut tersapu. Namun setelah itu, rambut akan berhenti rontok, dan tumbuh di lapisan kulit kepala yang sesungguhnya.

4.Pada banyak kasus, sampo kopi dapat mengurangi pertumbuhan uban baru, dan secara perlahan memperbaiki pigmen rambut sehingga uban pun berkurang. Hal ini bukan semata disebabkan kandungan kopinya, tapi sampo memang didisain untuk mengatasi permasalahan rambut, mulai dari bahan dasarnya (6-7 minyak nabati), campuran herbalnya (biji pepaya, biji delima, ekstrak kopi, juga beberapa minyak esensial seperti rosemary, cedarwood dll).

Yang perlu disadari, berkurangnya uban antara satu dan lain orang itu berbeda prosesnya. Kakak kawan, lelaki berumur 40-an tahun akhir, berambut cepak, mulai berkurang ubannya, dan warna uban memudar menggelap setelah 2 minggu keramas menggunakan sampo kopi secara teratur. Dia mandi tiga kali sehari —karena tinggal di kota yang panas— dan selalu keramas setiap kali mandi.

Namun ada juga kawan perempuan, juga di 40-an akhir, berambut pendek, tak jua menghilang ubannya usai keramas menggunakan sampo kopi selama beberapa bulan. Kawan yang lain, perempuan berambut lumayan panjang, rambutnya justru menebal dan melebat setelah setahun keramas dengan sampo kopi. Ubannya menjarang, andai tumbuh uban, hanya satu dua helai.

Saya sendiri, mulai beruban umur belasan, dan uban nyaris separo kepala ketika terkena kanker 10 tahun lalu. Dua bulan setelah menggunakan sampo kopi, beberapa helai uban menjadi coklat kemerahan. Kini, setelah 3 tahun memakai sampo kopi —diselingi cuka kamboja dan jeruk nipis— uban masih banyak. Sepertiga kepala adalah uban, sisanya rambut kemerahan. Andai tak keramas dengan sampo kopi mungkin semua rambut adalah uban 😛

Lebih mudah mengatasi rambut rontok dan ketombe ketimbang uban. Lebih mudah mengatasi uban pada mereka yang masih muda usia ketimbang yang tua. Dan lebih mudah menghilangkan uban pada pria ketimbang wanita.

Saya kerap mendapat keluhan pembeli sampo kopi yang kurang sabar, ingin instan dalam mengatasi uban. Belum satu sabun habis buat keramas, dia sudah protes dan menyalahkan sabun/sampo. Untuk jenis konsumen begini, saya sarankan mengecat rambut saja. Pilih cat rambut yang mahal —jika mengandung bahan kimia— atau cat rambut murah berbahan herbal seperti henna, teh, cammomile, kembang sepatu. Namun cat rambut berbahan herbal ini butuh ketelatenan agar menuai hasil. Tanpa ketelatenan, Anda akan menghabiskan waktu dengan ngomel dan mengeluh lagi.

Yang perlu diingat, jika hendak merawat rambut bermasalah, perhatikan asupan gizi juga selain sampo dan minyak rambut. Juga, kebiasaan yang Anda kembangkan saat berada di udara terbuka. Kepala yang langsung terkena sinar matahari tentu lebih rentan terkena ketombe atau rambut rontok. Stress juga memicu masalah rambut, seperti rambut rontok dan uban. Stress umumnya memicu produksi asam lambung, membuat tubuh menjadi asam. Jika kulit kepala asam, maka rambut mudah rontok, produksi pigmen juga terganggu. Maka benar pepatah bahwa makanan adalah obat terbaik bagi tubuh .

Catatan : Hingga saat ini sampo kopi sebagai anti uban masih menjadi salah satu obyek penelitian saya. bisa jadi, di masa depan komposisi dan bahan akan berubah, sesuai hasil penelitian terbaru.

Ary Amhir

Pejalan dan suka meneliti. Telah menerbitkan buku "TKI di Malaysia: Indonesia yang Bukan Indonesia", "Antologi Bicaralah Perempuan", "Journal of 30 Days Around Sumatra" dan "Negeri Pala".