Samba Sunda Dalam Pagelaran Jazz Gunung Bromo 2016

Rabu sore, 17 Agustus. Kami berkumpul di rumah pemimpin Samba Sunda, Ismet Ruchimat, untuk latihan. Makan malam sudah tersedia. Istri Pak Ismet, seorang penari, sangat mahir memasak. Hari ini ada ayam goreng, karedok, bala-bala, lalapan dan sambal. Kami makan bersama di meja panjang sambil bergurau dan meledek sana-sini.

Hari itu saya ulang tahun. Supaya selamat dari kejahilan mereka, saya membawa tiga kotak kue. Kebetulan malamnya saya harus dinas reguler di lobi hotel, sehingga tidak ada yang berani mengotori rambut saya dengan segala macam telur dan tepung.

Walau terlihat sepele, segala gurauan dan ledekan itu sangat penting. Hanya orang-orang yang sangat akrab yang berani meledek dan tertawa keras-keras bersama, kan? Kami tidak rutin bertemu, sehingga tiap kali harus mengakrabkan diri lagi.

Mengapa perlu mengakrabkan diri? Karena kami tidak pernah menggunakan partitur dalam bermusik. Kami harus bisa membaca situasi, mendengar dan merespon mood rekan-rekan hanya dari nada, emosi, serta bahasa tubuh. Kami belajar mencapai klimaks dan antiklimaks lagu bersama-sama tanpa bantuan dirigen. Bahkan untuk lagu instrumental dengan banyak pembagian kavling improvisasi.

Itulah mengapa, pemusik improvisasi yang baik biasanya merupakan kekasih yang sangat sensitif, manis, dan perhatian. Ya, itu kalau pikiran mereka sedang santai, tidak sedang dikejar-kejar jadwal latihan yang bentrok dengan jadwal manggung, atau pusing dengan konflik antar seniman nyentrik.

Ada sekitar sembilan lagu yang kami persiapkan. Saya yang paling tidak siap, karena paling jarang diajak bergabung. Susah payah saya menghafal bagan. Tapi mereka sangat cerdik menyiasati. Saya diberi beberapa bagian yang sekiranya masih mampu dikejar kecapi cina saya yang slendro.

Suasana latihan di rumah Kang Ismet, pemimpin Samba Sunda
Suasana latihan di rumah Kang Ismet, pemimpin Samba Sunda | © Fransisca Agustin

Samba Sunda adalah grup musik yang menggabungkan musik Sunda dengan musik etnik lain di dunia. Untuk lagu bernuansa Arab, misalnya, saya harus menggeser dudukan senar menjadi stelan setengah Arab. Tidak bisa sempurna, karena tangga nada Arab nadanya banyak, tidak pentatonik seperti kecapi saya. Ini saja sudah cukup sulit, karena nanti di Bromo saya harus bisa menggeser di tengah pertunjukan dalam waktu singkat, tanpa bantuan alat stem, selain juga tanpa berisik.

Selesai latihan, saya berangkat dinas reguler. Teman-teman yang lain mengepak instrumen, kemudian… begadang menonton final olimpiade badminton. Padahal besoknya kami berangkat dengan pesawat pukul 7.25 pagi. Berarti, harus siap di Bandara Husein sebelum pukul 6. Dasar anak-anak nakal!

Kamis pagi hujan deras. Sampai pukul 6 konter check-in belum juga buka. Padahal bagasi kami banyak. Ada guzheng (kecapi cina) saya, gitar, bass, seperangkat kendang, saron dan bonang, plus tas kostum. Lima belas orang yang berangkat, dengan bagasi total 230 kg.

Jam 7 kurang baru check-in. Tentu saja lama. Di saat-saat seperti ini, sungguh lega rasanya meyakini bahwa maskapai lokal akan menunggu kami, tidak akan berangkat tepat waktu.

Bagasi kami
Bagasi kami | © Fransisca Agustin

Sampai di Surabaya, kami dijemput panitia dan langsung menuju Bromo untuk check sound. Kalau sedang dapat job keluar kota, kadang-kadang kami dapat rezeki wisata kuliner. Dan kemarin itu kami sedang beruntung! Mobil elf kami berbelok di Rawon Nguling, Probolinggo. Nyam…

Jam 3 kami sampai di panggung amfiteater. Butuh setengah jam untuk membongkar, merakit, dan memasang sound system pada barang bawaan kami. Ah, check sound kurang memuaskan. Speaker monitor masih kurang enak juga, padahal sudah bolak-balik memanggil kru tapi lama berkutat masalah kabel. Sementara kami sudah lelah, selain juga harus memberikan kesempatan untuk grup berikutnya check sound.

Apa yang membedakan grup senior seperti Samba Sunda dalam situasi seperti ini? Ini situasi yang menyebalkan, tapi sangat sering terjadi. Kami belajar tidak ambil pusing, berusaha tetap ceria dan tak henti bergurau dengan rekan. Kami membereskan barang, lalu berkumpul di warung bakso sebelah.

Merakit bonang sebelum check sound
Merakit bonang sebelum check sound | © Fransisca Agustin

Panitia mengantarkan kami ke hotel. Saya tidur lebih awal. Kami tidak pergi melihat matahari terbit. Agak sayang, memang. Apa boleh buat. Sekumpulan musisi temperamental yang kurang tidur itu, Anda tahu, berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Jumat sore kami ke panggung. Saya sudah berdandan ala opera peking. Degradasi warnanya belum sebagus hasil makeup artist sungguhan, tapi cukup oke kalau dilihat dari jauh. Sangat lumayan, mengingat saya tidak pandai menggambar.

Kabut mulai turun. Tak mungkin lagi berharap guzheng saya akan presisi, karena suhu dan kelembapan sangat mempengaruhi senar baja. Samba Sunda mendapat jadwal main kedua setelah band lokal. Itu bagus, karena lebih malam pasti lebih dingin, jari kami akan beku. Kaku untuk memetik senar, rentan menyebabkan pecah kulit dan pembuluh darah untuk pemain kendang.

Penonton masih agak sepi. Menurut panitia, banyak penonton yang batal memesan tiket setelah mendengar peringatan status aktif Bromo. Mungkin juga karena sebagian penggemar jazz memilih menghadiri acara jazz lain di Prambanan, di akhir pekan yang sama.

Performa Samba Sunda selalu sangat atraktif. Cocok untuk memeriahkan festival manapun. Suasana hati yang agak mangkel karena suara di speaker monitor yang lebih tidak enak daripada check sound kemarin, kami singkirkan dengan lagu-lagu enerjik. Pukulan trio kendang, sarong, dan bonang yang penuh semangat sungguh ampuh membangkitkan mood kami.

Dandanan ala opera peking saya
Dandanan ala opera peking saya | © Fransisca Agustin
Performa Samba Sunda yang selalu Enerjik
Performa Samba Sunda yang selalu Enerjik | © Fransisca Agustin

Selesai tugas, kami menonton penampil-penampil lain. Ada trio Ian Sconti dari Spanyol, Ring of Fire tuan rumah Djaduk Ferianto, Dwiki Dharmawan dengan tim dari Australia, dan yang paling kami nantikan… Ermy Kulit.

Menurut Grand, drummer Samba Sunda yang pernah hadir menonton Jazz Gunung tahun 2011, pagelaran tahun ini jauh lebih menarik. Dulu, jazznya hanya jazz be-bop ala grup jazz di Bandung. Sekarang sudah ada jazz yang lebih serius seperti tim Dwiki Dharmawan dengan bassist dan drummer yang menakjubkan.

Saya sendiri, walaupun pemusik dan beberapa kali ikut serta di festival jazz, belum bisa mengapresiasi jazz yang kental. Kalau jazz Joey Alexander yang bercampur blues dan gospel, saya doyan. Jazz ala Mas Dwiki, Indra Lesmana dan Riza Arshad? Nanti dulu. Tergantung formasi tim mereka saat itu.

“Drummernya Mas Dwiki, bagus?” tanya saya pada Grand yang nampak serius mendengarkan, di tengah pertunjukan.

“Yang lebih keren bassistnya. Drummernya main polymetric dahsyat gitu, bassistnya tetep pegang tempo, nggak kebawa arus. Bassist Bandung nggak akan ada yang bisa main gitu.”

Bentuk amfiteater dilihat dari kursi paling atas
Bentuk amfiteater dilihat dari kursi paling atas | © Fransisca Agustin
Penonton Jazz Gunung di amfiteater Jiwa Jawa Resort hari pertama 19 Agustus 2016
Penonton Jazz Gunung di amfiteater Jiwa Jawa Resort hari pertama 19 Agustus 2016 | © Fransisca Agustin

Tak semua bahasa musik itu bahasa universal. Tak apa-apa, kan? Bahasa persahabatanlah yang universal, tak mengenal SARA. Malam itu kami berbahagia dijamu panitia, prasmanan rawon yang lebih sedap dari Rawon Nguling kemarin.

Makan sambil bergurau dan saling meledek, sebelum berbondong-bondong duduk di amfiteater atas, menunggu penampilan Ermy Kulit, yang masih sangat enak dinikmati meski diterpa suhu 150C. Seluruh amfiteater larut bernyanyi bersama.

Penampilan Ermy Kulit yang paling ditunggu
Penampilan Ermy Kulit yang paling ditunggu | © Fransisca Agustin

Kasih… dengarlah hatiku berkata. Aku cinta kepada dirimu, sayang…

Kasih… percayalah kepada diriku. Hidup matiku hanya untukmu…

Sambil berdoa, berharap kami bisa sekonsisten beliau dalam usia di atas 60 tahun.

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.